Malaria

Posted on : Mei 28, 2014 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |

Malaria adalah penyakit yang dapat bersifat akut maupun kronik, disebabkan oleh protozoa genus plasmodium ditandai dengan demam dan anemia. Plasmodium penyebab malaria ini terdiri dari 4 spesies, yaitu Plasmodium vivax, Plasmodium falcifarum, Plasmodium malariae, dan  Plasmodium ovale (Mansjoer, dkk 2001:408).

Manifestasi klinis

Pada anamnesis ditanyakan gejala penyakit dari riwayat berpergian  ke daerah endemik  Malaria. Tanda dan gejala yang dapat ditemukan adalah: (Mansjoer, dkk 2001:410).

1. Demam

Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporulasi) pada malaria tertiana (Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale). Pematangan skizon tiap 48 jam maka priodisitas demamnya setiap hari ke tiga, sedangkan malaria kuartana (Plasmodium malariae) pematangan tiap 27 jam dan periodisitas demamnya tiap empat hari. Tipe serangan di tandai dengan beberapa serangan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas tiga stadium, yaitu menggigil (15 menit-1 jam, puncak demam 2-6 jam) dan berkeringat 2-4 jam. Demam akan mereda secara bertahap karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respon imun.

2. Splenomegali

Splenomegali merupakan gejala khas malaria kronis, limpa mengalami kongesti, menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang bertambah.

3. Anemia

Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling berat adalah anemia karena P. falcifarum. Anemia ini disebabkan oleh:

1. Penghancuran eritrosit yang berlebihan.

2. Eritrosit normal tidak dapat hidup lama.

3. Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritrosit dalam sumsum tulang.

4. Ikterus

Ikterus disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar. Malaria laten adalah masa pasien diluar masa serangan demam. Periode ini terjadi bila parasit tidak dapat ditemukan dalam darah tepi, tetapi stadium eksoeritrosit masih bertahap dalam jaringan hati. Relaps adalah timbulnya gejala infeksi setelah serangan pertama. Relaps dapat bersifat: 1) Relaps jangka pendek (Rekrudesensi), dapat timbul 8 minggu setelah serangan pertama hilang karena parasit dalam eritrosit yang berkembang biak 2) Relaps jangka panjang (Rekurens), dapat muncul  24 minggu atau lebih setelah serangan pertama hilang karena parasit eksoeritrosit hati masuk ke darah dan berkembang biak.

Diagnosis

Diagnosis malaria ditegakkan seperti diagnosis penyakit lainnya berdasarakan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan pemeriksaan  sedian darah secara mikroskopik atau tes diagnostik cepat (Depkes, RI 2007:5).

Anamnesis

Pada saat anamnesis yang sangat penting diperhatikan adalah:

1. Keluhan utama: demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal.

2. Riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 hari minggu yang lalu ke daerah endemik Malaria.

3. Riwayat tinggal di daerah endemik Malaria.

4. Riwayat sakit Malaria

5. Riwayat minum obat Malaria satu bulan terakhir

6. Riwayat mendapat transfusi darah

Patogenesis

Daur hidup spesies malaria terdiri dari fase seksual eksogen (sporogoni) dalam badan nyamuk Anopheles dan fase aseksual (skizogoni) dalam badan hospes vertebrata termasuk manusia (Mansjoer, dkk 2001:409).

Fase aseksual

Fase aseksual tebagi atas fase jaringan dan fase eritrosit. Pada fase jaringan sporozoit masuk dalam aliran darah, ke sel hati dan berkembang biak membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit proses ini disebut skizogoni pra-eritrosit. Pada fase akhir fase ini skizon pecah dan merozoit keluar dan masuk aliran darah disebut sporulasi pada plasmodium vivax dan plasmodium ovale. Sebagian sporozoit membentuk, hiprozoit dalam hati, sehingga dapat mengakibatkan relaps jangka panjang.

Fase eritrosit mulai dan merozoit dalam darah menyerang eritrosit membentuk tropozoit. Proses berlanjut menjadi tropozoit-skizon-merozoit. Setelah 2-3 generasi merozoit di bentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. Masa antara permulaaan infeksi sampai di temukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prevalen, sedangkan masa tunas/inkubasi intrisik dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam.

Fase Seksual

Parasit seksual masuk dalam lambung nyamuk betina, bentuk ini mengalami pematangan menjadi mikro dan makro gametosit dan terjadilah pembuahan yang disebut zigot (ookinet). Ookinet kemudian menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Bila ookista pecah, ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar liur nyamuk.

Patogenesis malaria ada 2 cara yaitu 1) Alami melalui gigitan nyamuk ke tubuh manusia 2) Induksi jika stadium aseksual dalam eritrosit masuk ke dalam darah manusia melalui transfusi, suntikan atau pada bayi baru lahir melalui plasenta ibu yang terinfeksi (Kongenital).

Pengobatan

Pengobatan malaria yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan membunuh semua stadium  parasait yang ada dalam tubuh manusia. Adapun tujuan pengobatan radikal untuk mendapat kesembuhan klinis dan parasitologik serta memutuskan rantai penularan. Semua obat anti  malaria tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung. Oleh sebab itu penderita harus makan terlebih dahulu setiap akan minum obat anti malaria (Depkes, RI 2007:10).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd