Definisi abortus

Posted on : November 17, 2015 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |
  • Definisi abortus

Menurut Arif Mansjoer (1999) abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus adalah pengakhiran kehamilan dengan cara apapun sebelum janin cukup berkembang untuk dapat hidup di luar kandungan (Cunningham, 1995).

Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin terkecil yang dilaporkan dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan di bawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu dengan berat janin kurang dari 500 gram (Sarwono, 1999).

  • Klasifikasi  abortus

Menurut Manuaba (1998) abortus dibagi atas :

a.Berdasarkan kejadiannya

  1. Abortus spontan

Abortus spontan yaitu terjadi dengan sendiri tanpa ada unsur tindakan dari luar.

  1. Abortus provokatus

Abortus provokatus yaitu sengaja dilakukan sehingga hasil konsepsi dapat diakhiri. Upaya menghilangkan hasil konsepsi dapat dilakukan berdasarkan indikasi medis (penyakit jantung, ginjal yang berat, gangguan jiwa ibu, dan kelainan bawaan yang berat pada janin)

b.Berdasarkan pelaksana / pelakunya :

Berdasarkan pelaksananya abortus dapat dibagi menjadi :

  1. Abortus buatan (terapeutik)

Yaitu dilakukan secara legeartis berdasarkan indikasi medis.

  1. Abortus buatan ilegal

Yaitu dilakukan tanpa dasar indikasi medis dan dasar hukum (melawan hukum)

c.Berdasarkan gambaran klinis (Sarwono, 1999)

Berdasarkan gambaran klinis abortus dapat dibagi menjadi :

  1. Abortus imminens.Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi servik. Abortus imminens dimulai dengan perdarahan pada tempat implantasi sedikit dan berulang, kadang-kadang dapat berlangsung berhari-hari. Tanda-tanda kehamilan tetap ada (seperti mual, muntah) tes kehamilan positif, tinggi dan besarnya uterus sesuai dengan umur kehamilan, perdarahan disertai dengan sakit perut/mules.
  1. Abortus insipiens.Abortus insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa mules menjadi lebih sering dan kuat, perdarahan bertambah. Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau cunam ovum, disusul dengan kerokan. Pada kehamilan lebih dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak dan bahaya perforasi pada kerokan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infus oksitoksin.
  1. Abortus kompletus. Abortus kompletus yaitu semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Abortus kompletus seringkali diawali dengan pengeluaran darah yang tiba-tiba disertai rasa nyeri pada perut bagian bawah dan pinggang kemudian diikuti dengan pengeluaran seluruh hasil konsepsi. Jika hasil konsepsi telah lengkap keluar, rasa nyeri menjadi hilang dan perdarahan berhenti serta gejala-gejala kehamilan menghilang.
  1. Abortus inkompletus. Abortus inkompletus yaitu pengeluaran hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa yang tertinggal dalam uterus. Pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.Pada abortus inkompletus perdarahan biasanya memanjang, bisa sedikit sehingga terjadi keadaan anemia dan bisa juga banyak sampai menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan.
  1. Abortus infeksiosus.Abortus infeksiosus yaitu abortus yang disertai dengan infeksi. Infeksi dalam uterus atau sekitarnya dapat terjadi pada tiap abortus, tetapi biasanya ditemukan pada abortus inkompletus dan lebih sering pada abortus buatan yang dikerjakan tanpa memperhatikan kesterilan alat-alat yang digunakan. Biasanya perdarahan berbau, suhu tubuh meningkat, nadi cepat, uterus besar dan lembek.Bila terjadi infeksi yang berat dengan penyebaran kuman/toksin ke dalam peredaran darah, maka penderita kelihatan sakit berat disertai menggigil, demam tinggi dan tekanan darah menurun.
  1. Abortus habitualis.Abortus habitualis yaitu suatu keadaan di mana penderita mengalami abortus 3 kali berturut-turut, latar belakang dan penyebab abortus habitualis sangat bervariasi dan berbeda antara satu penderita dengan penderita yang lain.
  1. Missed abortion.Missed abortion yaitu kematian janin sebelum berusia 20 minggu, tetapi janin yang mati tersebut tidak dikeluarkan selama 8 minggu atau lebih. Missed abortion biasanya didahulu oleh tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan.Tes kehamilan pada missed abortion akan menjadi negatif 2 atau 3 minggu setelah kematian hasil konsepsi, tanda-tanda kehamilan menghilang, terjadi perdarahan pervagina sedikit-sedikit pada permulaan dan berulang-ulang. Uterus bertambah kecil serta sekali-sekali penderita merasa perut bagian bawahnya dingin dan terasa kosong.
  • Etiologi abortus

Menurut Manuaba (1996) penyebab keguguran sebagian besar tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor sebagai berikut :

a.Faktor pertumbuhan hasil konsepsi

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menimbulkan kematian janin dan cacat bawaan yang menyebabkan hasil konsepsi dikeluarkan. Gangguan pertumbuhan hasil konsepsi dapat terjadi karena :

  1. Faktor kromosom

Gangguan terjadi sejak semula pertemuan kromosom, termasuk kromosom seks.

  1. Faktor lingkungan endometrium

Endometrium yang belum siap untuk menerima inplantasi hasil konsepsi. Gizi ibu kurang karena anemia atau jarak kehamilan yang terlalu pendek.

  1. Pengaruh luar

Infeksi endometrium, endometrium tidak siap menerima hasil konsepsi. Hasil konsepsi terpengaruh oleh obat dan radiasi menyebabkan pertumbuhan hasil konsepsi terganggu.

b.Kelainan pada plasenta

  1. Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga plasenta tidak berfungsi.
  2. Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes mellitus.
  3. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah plasenta sehingga menimbulkan keguguran.

c. Penyakit ibu

Penyakit ibu dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta.

  1. Penyakit infeksi seperti pneumonia, typus abdominalis, malaria, sifilis.
  2. Anemia ibu, melalui gangguan nutrisi dan peredaran O2 menuju sirkulasi retroplasenter.
  3. Penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit diabetes mellitus (DM).

d.Kelainan yang terdapat dalam rahim

Rahim merupakan tempat tumbuh kembangnya janin dijumpai keadaan abnormal dalam bentuk mioma uteri, uterus septus, retrofleksia uteri, serviks inkompeten, bekas operasi pada serviks, robekan serviks post partum.

  • Faktor-faktor predisposisi dominan yang dapat menyebabkan abortus

a.Multiparitas. Resiko abortus spontan akan semakin meningkat dengan bertambahnya paritas dan di samping semakin lanjutnya usia ibu (Cunningham, 1995). Pada multiparitas lingkungan endometrium disekitar tempat implantasi kurang sempurna dan tidak siap menerima hasil konsepsi, sehingga pemberian nutrisi dan oksigenisasi kepada hasil konsepsi kurang sempurna dan mengakibatkan pertumbuhan hasil konsepsi akan terganggu.

b. Faktor usia. Usia juga merupakan salah satu penyebab terjadinya abortus. Menurut Cuningham (1995) frekuensi abortus bertambah dari 12% pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun, menjadi 26% pada wanita berumur di atas 40 tahun. Pada usia 35 tahun ke atas telah terjadi sedikit penurunan curah jantung yang disebabkan oleh berkurangnya kontraksi miokardium sehingga sirkulasi darah dan pengambilan O2 oleh darah di paru-paru juga mengalami penurunan,  di tambah lagi dengan tekanan darah  dan penyakit   ibu  lain yang melemahkan kondisi ibu sehingga dapat mengganggu sirkulasi darah ibu ke janin (Multazamiah, 2003).

  • Patofisiologi

Menurut Manuaba (1996) patofisiologi terjadinya abortus mulai dari terlepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta, yang menyebabkan perdarahan sehingga janin kekurangan nutrisi dan O2. Bagian yang terlepas itu dianggap benda asing, sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkannya dengan kontraksi. Pengeluaran tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal, yang menyebabkan berbagai penyulit. Oleh karena itu, keguguran (abortus) memberikan gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim, terjadilah perdarahan dan disertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.

Bentuk perdarahan bervariasi diantaranya :

  1. Sedikit-sedikit dan berlangsung lama.
  2. Sekaligus dalam jumlah yang besar dapat disertai gumpalan
  3. Akibat perdarahan dapat menimbulkan gangguan apapun seperti syok, nadi meningkat, tekanan darah turun, tampak anemis dan daerah ujung (akral) dingin.

Menurut Sarwono (1999) bentuk pengeluaran hasil konsepsi bervariasi yaitu :

  1. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi koriales belum menembus desidua secara mendalam.
  2. Pada kehamilan antara 8 sampai 14 minggu villi koriales menembus desidua lebih dalam, sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat menyebabkan banyak perdarahan
  3. Pada kehamilan 14 minggu keatas umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul beberapa waktu, kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap.
  • Komplikasi abortus

 a.Perdarahan. Terjadi karena terlepasnya sebagian hasil konsepsi, perdarahan dapat terjadi dalam jumlah banyak atau sedikit. Perdarahan ini dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.

b.Perforasi.Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperetrofleksi. Perforasi uterus ini bisa terjadi bila abortus dikerjakan oleh orang awam karena perlukaan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih atau usus.

c.Infeksi.Terjadi pada abortus inkomplit dan tindakan abortus yang tidak menggunakan alat-alat yang steril.

d. Syok.Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan dan karena infeksi berat.

e. Paritas.Paritas adalah keadaan wanita yang berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan (Ahmad Ramali, 2000). Paritas ini dibagi menjadi 2 yaitu :

  1. Primigravida

Prmigravida adalah wanita yang hamil untuk pertama kali (Manuaba, 1996), sedangkan menurut Ahmad Ramali (2002) primigravida adalah perempuan yang mengandung untuk pertama kali. Sarwono (1999) primigravida adalah seorang wanita yang hamil untuk pertama kali.

  1. Multigravida

Menurut Farrer (2001) multigravida adalah wanita yang hamil untuk kedua kalinya atau lebih. Sedangkan menurut  Harjono (1996) seorang wanita yang hamil beberapa kali.

  • Mekanisme terjadinya abortus

Korpus uteri merupakan bagian atas rahim yang mempunyai otot yang paling tebal, sehingga dalam keadaan normal, plasenta berimplantasi pada daerah korpus uteri. Pada kehamilan berikutnya atau pada multigravida keadaan endometrium pada daerah korpus uteri sudah mengalami kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi, hal ini terjadi karena degenerasi dan nekrosis pada bekas luka implantasi plasenta sewaktu kehamilan sebelumnya di dinding endometrium.

Adanya kemunduran fungsi dan berkurangnya vaskularisasi pada daerah endometrium pada multrigravida menyebabkan daerah tersebut menjadi tidak subur lagi dan tidak siap menerima hasil konsepsi, sehingga pemberian nutrisi dan oksigenisasi kepada hasil konsepsi kurang maksimal sehingga dapat mengganggu sirkulasi darah ibu ke janin. Hal ini akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan hasil konsepsi. Hasil konsepsi ini tidak dapat berimplantasi secara maksimal, yang mengakibatkan kematian atau lepasnya sebagian atau seluruh hasil konsepsi dari tempat implantasinya. Bagian yang terlepas dianggap benda asing oleh uterus sehingga uterus berusaha untuk mengeluarkannya dengan berkontraksi. (Multazamiah, 2003).

 

DAFTAR PUSTAKA

 Arif Mansjoer. (1999). Kapita Selekta. Kedokteran. FKUI Jakarta : Media Aesculapius.

Ahmad Ramali dan Pamoentjak. (2000). Kamus Kedokteran. Jakarta : Djambatan.

Cunningham, McDonal, Grant. (1995). Obstetri Williams. Jakarta : EGC.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1999). Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta : Depkes RI.

———-. (2000). Kematian Ibu : Tragedi Yang Tak Perlu Terjadi. Jakarta  :          Depkes RI.

Dinas Kesehatan Bengkulu (2000). Profil Kesehatan Bengkulu. Bengkulu : Dinkes.

Farrer, (2001).  Perawatan Maternitas. Jakarta : Buku Kedokteran.

Firman F. Wirakusumah. (2003). Ilmu Kedokteran Fetomaternal : Ilmu Pengetahuan dan Pengamalannya. Jakarta : YBPSP.

Guyton. (1994). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi VII. Jakarta : EGC.

Harjono. (1996). Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC.

Hastono, S.P. (2001). Analisa Data. Depok : FKM Universitas Indonesia.

Ida Bagus Gede Manuaba. (1998). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan, Edisi I. Jakarta : EGC.

Multazamiah, (2003). Hubungan Usia Ibu > 35 Tahun Dengan Kejadian Abortus di Ruangan C1 (Kebidanan) RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu, Tahun 2003, Skripsi Akademi Kebidanan : Poltekkes Bengkulu.

Rustam Muchtar. (1992). Sinopsis Obstetri,Obstetri Operatif, Obstetri Sosial. Jakarta : EGC.

——————–. (1998).. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Sarwono. (1999). Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono.

———-. (2001). Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : JNOKKR POGI.

Singgih Santoso. (2003). Buku Latihan SPSS Statistik Non Parametrik. Jakarta : Gramedia.  

Soekidjo Notoatmojo. (1993). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Sudigdo Sastroasmoro. (2002). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta : CV. Sagung Seto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd