Budaya Kerja

Posted on : Desember 2, 2015 | post in : TEORI MANAJEMEN |Leave a reply |

Menurut Koentjaraningrat yang dikutip oleh Gering (2003), budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Depdiknas (2002), mendefinisikan budaya sebagai pikiran, akal budi, adat istiadat,. Sedangkan menurut Bower yang dikutip oleh  Pegg Mike (1994) budaya kerja adalah cara kita melakukan sesuatu, kegiatan melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian. Dengan demikian budaya kerja adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh karyawan berdasarkan pikiran, adat istiadat dan kebiasaan yang sudah berkembang.

Budaya kerja adalah suatu falsafah  yang didasari oleh pandangan hidup sebagi nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau organisasi kemudian tercermin dari sikap menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat dan tindakan yang terwujud sebagai kerja atau bekerja (Supriyadi,2003).

Dalam seminar KORPRI, tentang budaya kerja pegawai yang diadakan di D.I, Yogyakarta pada tahun 1992 didapatkan kesimpulan bahwa:

  1. Budaya kerja adalah suatu komponen kualitas manusia yang sangat melekat dengan identitas bangsa dan menjadi tolak ukur dasar dalam pembangunan.
  2. Budaya kerja dapat ikut menentukan integritas bangsa dan menjadi penyumbang utama dalam menjamin kesinambungan kehidupan bangsa.
  3. Budaya kerja sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai yang dimilikinya, terutama falsafah bangsa yang mampu mendorong prestasi kerja setinggi-tingginya.

Warna budaya kerja adalah produktivitas, yang berupa  prilaku kerja yang tercermian antara lain : kerja keras, ulet, disiplin, produktif, tanggung jawab, motivasi, manfaat, kreatif, dinamik, konsekuen, konsisten, responsif, makin lebih baik dan lain-lain.

Menurut Budhi Paramita dalam Supriyadi (2003), budaya kerja dapat dibagi menjadi:

  1. Sikap terhadap pekerjaan, yakni kesukaan akan kerja dibandingkan dengan kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk kelangsungan hidupnya.
  2. Perilaku pada waktu bekerja, seperti rajin, berdedikasi, bertanggung jawab, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesama karyawan atau sebaliknya.

Budaya kerja yang sehat didasarkan pada tiga E, yaitu : encouragement (dorongan), enterprise (keberanian berusaha), serta exellence (keunggulan). Dorongan haruslah menjadi dasar pertama, bila sudah diberi dukungan yang dibutuhkan orang akan berusaha melakukan yang terbaik. Budaya kerja yang sehat adalah budaya budaya dimana sebagian besar orang merasa sebagai pemenang (Pegg Mike,1994).

 2.1.1   Tujuan dan Manfaat Budaya Kerja

Melaksanakan budaya kerja mempunyai arti  yang sangat dalam karena akan merubah sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai produktivitas  kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan. Manfaat yang didapat antara lain:

  1. Menjamin hasil kerja dengan kualitas yang lebih baik.
  2. Membuka seluruh jaringan komunikasi.
  3. Keterbukaan, kebersamaan, kegotong-royongan dan kekeluargaan.
  4. Menemukan kesalahan dan cepat memperbaiki.
  5. Cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dari luar (faktor external seperti; pelanggan, tekhnologi, sosial, ekonomi dan lain sebagainya).
  6. Kepuasan kerja yang meningkat .
  7. Disiplin meningkat dan pengawasan fungsional berkurang.
  8. Pemborosan dan tingkat absensi turun.
  9. Motivasi kerja meningkat (ingin belajar terus menerus, ingin memberikan yang terbaik bagi organisasi, dan sebagainya).

Hal- hal yang telah disebutkan diatas sangat penting bagi pengembangan sumber daya manusia agar mampu memberikan sumbangan kerja yang terbaik atau optimal bagi manajemen, dengan masuknya nilai-nilai budaya dalam manajemen diharapkan akan terjadi peningkatan kualitas sumber daya manusia, kualitas cara kerja  dan kualitas produknya.

2.1.2  Terbentuknya Budaya Kerja

Budaya kerja terbentuk begitu satuan kerja atau organisasi itu berdiri. “being developed as they learn to cope with problems of external adaption and internal integration” artinya pembentukan budaya kerja terjadi pada saat lingkungan kerja atau organisasi belajar menghadapi masalah, baik yang menyangkut perubahan-perubahan ekternal maupun internal yang menyangkut persatuan dan keutuhan organisasi (Sithi-Amnuai dalam Ndraha, 2003:76). Perlu waktu bertahun bahkan puluhan dan ratusan tahun untuk membentuk budaya kerja.

Pembentukan budaya di awali oleh (para) pendiri (founders) atau pimpinan paling atas (top management) atau pejabat yang ditunjuk, dimana besarnya pengaruh yang dimilikinya akan menentukan suatu cara tersendiri apa yang dijalankan dalam satuan kerja atau organisasi yang dipimpinnya.

Nilai- Nilai dalam Budaya Kerja

Menurut Terry dalam Supriyadi (2003), Nilai adalah merupakan inti dari pilihan moral yang berkaitan dengan etika dalam administrasi / manajemen, juga merupakan sesuatu yang dianggap ”baik, menyenangkan, penting dan manfaat”. Secara luas nilai- nilai merupakan semua yang dianggap baik, kebijakan, keindahan, kebenaran dan luhur.

Menurut SK Menpan tahun 2002, yang dikutip oleh Supriyadi (2003), Terdapat 34 unsur nilai atau 17 pasang nilai yang diharapkan dapat dikembangkan oleh setiap aparatur negara, sehingga antara nilai-nilai yang diyakini akan menumbuhkan motivasi dan tanggung jawab terhadap peningkatan produktivitas dan kinerja. Adapun 17 pasang nilai-nilai dasar dimaksud, adalah sebagai berikut ; 1)  Komitmen dan konsisten (terhadap visi, misi tujuan organisasi, kebijakan negara serta peraturan perundangan yang berlaku);  2) Wewenang dan tanggung jawab; 3) Keikhlasan dan kejujura; 4) Integritas dan profesionalisme; 5) Kreativitas dan kepekaan (terhadap lingkungan tugas); 6).            Kepemimpinan dan keteladanan; 7) Kerjasama dan dinamika kelompok kerja; 8) Ketepatan dan kecepatan; 9)Rasionalitas dan kecerdasan emosi; 10) Keteguhan dan ketegasan; 11) Disiplin dan keteraturan kerja; 12) Keberanian dan kearifan; 13) Dedikasi dan loyalitas; 14) Semangat dan motivasi; 15) Ketekunan dan kesabaran; 16) Keadilan  dan keterbukaan; 17) Penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Budaya kerja merupakan suatu komitmen yang luas dalam upaya membangun SDM, proses kerja dan hasil kerja yang lebih baik. Untuk mencapai tingkat kualitas yang lebih baik diharapkan bersumber dari setiap individu yang terkait dalam organisasi kerja itu sendiri. Setiap fungsi atau  proses kerja mempunyai perbedaan cara kerja yang mengakibatkan berbeda nilai-nilai yang cocok untuk diambil dalam kerangka kerja organisasi, seperti nilai-nilai apa yang sepatutnya dimiliki seseorang yang akan mempengaruhi kerja mereka. Oleh karena itu falsafah yang dianutnya seperti ”budaya kerja” merupakan suatu proses  tanpa akhir atau terus menerus.

Model Teori Budaya Kerja

Pada praktek manajemen yang efektif menghendaki agar perbedaan perilaku individual diakui dan jika mungkin dipertimbangkan ketika bertugas menangani perilaku individu  dalam organisasi, yang tampak dalam bentuk kinerja sehingga dalam organisasi variabel individu (kemampuan, keterampilan, latar belakang dan demografis), variabel organisasi (sumber daya, kepemimpinan, imbalan dan struktur), dan variabel psikologis (persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi) tidak hanya mempengaruhi perilaku tetapi mempengaruhi budaya kerja & hasil kerja seseorang

Penilaian Budaya Kerja

Menurut Ilyas (2002), terdapat beberapa faktor yang dapat dinilai dalam penilaian budaya kerja, yaitu faktor kejujuran, disiplin, inisiatif, kerjasama, hubungan dengan rekan sekerja.  Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Prayitno WY tahun 2004, budaya kerja dapat dinilai dari aspek kejujuran, ketekunan, kreativitas, disiplin, Ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Melalui penilaian budaya kerja  dapat diketahui apakah proses pelaksanaan kerja itu sudah sesuai atau belum dengan tujuan uraian pekerjaan yang telah disusun sebelumnya.

ndikator Penilaian Budaya Kerja

Indikator adalah variabel yang mengindikasikan atau menunjukkan suatu kecendrungan situasi, yang dapat dipergunakan utuk mengukur perubahan (Green, 1997), sedangkan menurut WHO (2000), indikator adalah variabel untuk mengukur suatu perubahan baik langsung maupun tidak langsung. Adapun indikator  untuk menilai budaya kerja perawat yang dikembangkan dari nilai-nilai budaya kerja menurut Ilyas (2002) dan Prayitno  (2004) adalah sebagai berikut:

  • Budaya kejujuran menunjukkan sikap mental yang keluar dari dalam diri seorang perawat yang merupakan ketulusan hati dalam melaksanakan tugas dan mampu untuk tidak menyalahgunakan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya, dengan indikator yaitu;
  1. Ketulusan hati dalam melaksanakan tugas.
  2. Sikap berpihak pada kebenaran.
  3. Ikhlas dalam bertugas.
  4. Tidak menyalahgunakan wewenang.
  5. Melaporkan hasil kerja pada atasan menurut apa adanya.
  • Budaya Inisiatif menunjukkan kemampuan dari seorang perawat untuk mengambil keputusan, langkah-langkah serta melaksanakan tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pokok tanpa menunggu perintah dan berusaha untuk memberi saran yang baik kepada atasan untuk melakukan pelaksanaan tugas, indikatornya adalah;
  1. Mempunyai kemauan untuk melakukan tugas tanpamenunggu perintah.
  2. Berusaha mencari tatakerja yang berdaya guna dan berhasil guna.
  3. Berusaha memberi saran yang baik pada atasan untuk melaksanakan tugas
  • Budaya tanggung jawab menunjukkan kesanggupan seorang perawat dalam menyelesaikan pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan baik, tepat waktu dan bertanggung jawab terhadap resiko untuk keputusan yang dibuat atau dilakukan, indikatornya adalah;
  1. Dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan
  2. Mengutamakan kepentingan dinas.
  3. Tidak melimpahkan kesalahannya pada orang lain.
  4. Berani menanggung resiko dari keputusan yang dibuatnya.
  • Budaya kerjasama menunjukkan sikap mental dari seorang perawat dalam hal melaksanakan tugas dengan teman sekerja dan atasan dalam melaksanakan tugas, indikatornya yaitu;
  1. Kerjasama dengan rekan sekerja dan atasan.
  2. Berusaha mengetahui bidang tugas orang lain yang berhubungan dengan tugasnya.
  3. Menghargai pendapat orang lain.
  4. Bersedia menerima keputusan yang diambil secara sah, walaupun  berbeda opendapat.
  • Budaya disiplin menunjukkan sikap dan perilaku perawat terhadapkedisiplinan di tempat kerja, dengan indikator yaitu;
  1. Kehadiran tepat waktu saat pergantian shift dinas.
  2. Mematuhi peraturan dan norma yang berlaku di Institusi dan ruangan.
  3. Penegakan hukum dan sangsi yang tegas

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, A 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: Binarupa Aksara.

Depdiknas. 2002.  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Gibson.J.L. 1997. Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta: Erlangga.

Martoyo, S. 2004.  Manajemen Sumber daya Manusia. Yogyakarta: BPFE

Ndraha, T.  2003. Budaya Organisasi. Jakarta Rineka Cipta

Robbin, SP. 1996. Perilaku Organisasi, Konsep, Kontroversi, Aplikasi. Jakarta: PT. Prenhallindo.

Sedarmayanti. 2004. Pengembangan Kepribadian Pegawai. Yogyakarta: BPFE

Supriyadi, G. 2003. Budaya Kerja Organisasi. Jakarta: LAN RI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd