Artikel Telaahan (Review Paper) Hubungan Kekurangan Energi Kronis Pada Awal Kehamilan Terhadap Penyakit Metabolis Pada Usia Dewasa

Posted on : Desember 30, 2015 | post in : TUGAS KULIAH |Leave a reply |

Abstrak

Tujuan telaah artikel ini adalah untuk mengetahui Hubungan Kurangnya Asupan Energi Kronis Pada Awal Kehamilan Terhadap Penyakit Metabolis Pada Usia Dewasa. Metode studi literatur dan berbagai jurnal pendukung yang berkaitan. Hasil telaah literatur dan jurnal-jurnal penelitian menunjukkan bahwa Kekurangan Energi Kronis pada awal kehamilan mempunyai dampak yang tidak baik terhadap janin yang dilahirkannya. Apabila siklus gizi yang tidak baik dari awal kehamilan tentunya berdampak pada masa selanjutnya, dimana masa tumbuh kembang anak untuk menjadi dewasa juga mengalami gangguan termasuk juga gangguan pada metabolisme anak pada saat dewasa. Oleh karena itu seorang ibu hamil sebaiknya pada awal kehamilan dapat memenuhi kebutuhan zat gizi yang cukup untuk ibu dan janin yang dikandungnya, sehingga dengan kebutuhan gizi yang cukup diharapkan dapat mencegah gangguan metabolisme tubuh pada saat dewasa.

Kata Kunci : Asupan Energi Kronis, Awal Kehamilan, Penyakit Metabolis

Pendahuluan

Kurang Energi Kronis (KEK) merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia yang dialami oleh wanita usia subur termasuk ibu hamil dan ibu menyusui. Pada saat hamil seorang ibu sangat membutuhkan makanan dengan kandungan zat gizi yang dibutuhkan untuk janin.

Empat masalah gizi utama di Indonesia adalah Kekurangan Energi Kronik (KEK), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), Kekurangan Vitamin A (KVA), dan Anemia Gizi besi (AGB). Salah satu golongan rawan gizi yang menjadi sasaran program adalah remaja dan ibu hamil. Masalah yang banyak terjadi pada remaja dan ibu hamil adalah anemia,  defisiensi besi, dan kelebihan atau kekurangan berat badan (Sulistyoningsih, 2013).

Enam penyebab tingginya angka kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, eklampsia, aborsi tidak aman (unsafe abortion), partus lama, dan infeksi. Faktor lain yang meningkatkan AKI adalah buruknya gizi perempuan, yang dikenal dengan kekurangan energi kronis (KEK), dan anemia. Perempuan yang menderita KEK pada usia 15-49 tahun mencapai 15%, sedangkan pada remaja putri mencapai 37% (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

Kekurangan Energi Kronis (KEK) dijumpai pada WUS usia 15-49 sebesar 24,9% pada tahun 1999 dan menurun menjadi 16,7% pada tahun 2003. Pada umumnya proporsi WUS dengan risiko KEK cukup tinggi pada usia muda (15-19 tahun), dan menurun pada kelompok umur lebih tua, kondisi ini memprihatinkan mengingat WUS dengan risiko KEK cenderung melahirkan bayi BBLR yang akhirnya akan menghambat pertumbuhan pada usia balita. WUS KEK akan berdampak pada Ibu Hamil KEK (Bumil KEK) (Wuryani, 2007).

KEK adalah keadaan dimana seseorang mengalami kekurangan gizi (kalori dan protein ) yang berlangsung lama atau menahun. Dengan ditandai berat badan kurang dari 40 kg atau tampak kurus dan dengan LILA-nya kurang `dari 23,5 cm (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

Kekurangan Energi Kronis Pada Awal Kehamilan

KEK merupakan salah satu keadaan malnutrisi, malnutrisi adalah keadaan patologis akibat kekurangan atau kelebihan secara relative atau absolut satu atau lebih zat gizi (Supriasa, 2002:82). Sedangkan menurut Persagi, (2009) Kurang Energi Kronis (KEK) adalah suatu keadaan kekurangan makanan dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan ukuran Indeks Massa Tubuhnya (IMT) di bawah normal (kurang 18,5 untuk orang dewasa).

Risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK) adalah keadaan dimana remaja putri/wanita mempunyai kecenderungan menderita KEK ( Arismas,2009). Ibu KEK adalah ibu yang ukuran LILAnya < 23,5 cm dan dengan salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut : a. Berat badan ibu sebelum hamil < 42 kg. b.Tinggi badan ibu < 145 cm. c. Berat badan ibu pada kehamilan trimester III < 45 kg. d. Indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00 e. Ibu menderita anemia (Hb < 11 gr %) (Weni, 2010).

Kebutuhan energi  untuk  kehamilan  yang  normal  perlu  tambahan  kira-kira  80.000  kalori selama  masa  kurang  lebih    280  hari.  Hal  ini  berarti  perlu  tambahan  ekstra  sebanyak  kurang lebih  300 kalori setiap hari selama hamil. Kebutuhan  energi  pada  trimester  I  meningkat  secara  minimal.  Kemudian sepanjang  trimester  II  dan  III  kebutuhan  energi  terus  meningkat  sampai  akhir kehamilan.  Energi  tambahan  selama  trimester  II  diperlukan  untuk  pemekaran jaringan  ibu  seperti  penambahan  volume  darah,  pertumbuhan  uterus,  dan  payudara,  serta  penumpukan  lemak.  Selama  trimester  III  energi  tambahan  digunakan untuk pertumbuhan janin dan plasenta (Zulhaida Lubis, 2003:2).

Status gizi baik pada ibu sebelum hamil menggambarkan ketersediaan cadangan zat gizi dalam tubuh ibu yang siap untuk mendukung pertumbuhan janin pada awal kehamilan. Penelitian di Tanzania menunjukkan bahwa IMT ibu yang dibawah normal secara signifikan terkait dengan kejadian BBLR (Siza, 2008)

Pertambahan berat badan ibu yang tidak normal dapat menyebabkan terjadinya keguguran, prematur, BBLR, gangguan pada rahim dan perdarahan setelah melahirkan (Atikah dkk, 2009). Penelitian di Medan tahun 2004 menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pertambahan berat badan dan anemia terhadap BBLR (Evalatifah, 2004).

Target Millenium Development Goals sampai dengan tahun 2015 adalah mengurangi angka kematian bayi dan balita sebesar dua per tiga dari tahun 1990 yaitu sebesar 20 per 1000 kelahiran hidup (Kemeneg, 2007).  Saat ini angka kematian bayi masih tinggi yaitu sebesar 67 per 1000 kelahiran hidup. Penyebab utama tingginya angka kematian bayi, khususnya pada masa perinatal adalah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi yang terlahir dengan BBLR berisiko kematian 35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang berat badan lahirnya diatas 2500 gram.2 BBLR dapat berakibat jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dan memiliki risiko penyakit jantung dan diabetes di masa yang akan datang (Titiek, 2001)

Berat badan lahir rendah (BBLR) merupakan manifestasi dari gangguan nutrisi janin selama dalam kandungan. Hipotesis Barker yang dikenal dengan fetal origins of adult disease, menyatakan bahwa banyak penyakit utama pada kehidupan lanjut seperti hipertensi, gangguan toleransi glukosa, diabetes, jumlah nefron ginjal, ukuran glomerolus lebih besar dengan konsekuensi terjadi mikroalbuminuria dan penurunan fungsi ginjal, peningkatan kadar lemak darah dan distribusi lemak tubuh pada saat dewasa.

Penyakit Metabolis Pada Usia Dewasa

Gangguan metabolisme adalah kondisi genetik yang menyebabkan masalah dengan proses metabolisme dalam tubuh. Makanan yang kita makan dipecah menjadi komponen karbohidrat sederhana, protein serta lemak. Hal ini memecah makanan yang kompleks menjadi senyawa sederhana dalam tubuh disebut metabolisme. Ketika proses normal metabolisme terganggu karena merupakan kondisi yang diwariskan atau yang telah didapatkan, itu disebut sebagai gangguan metabolisme (Sridianti, 2015).

Ketika terjadi gangguan metabolisme, menyebabkan reaksi kimia normal terjadi. Hal ini mengganggu fungsi normal tubuh dan menyebabkan masalah kesehatan. Ada berbagai jenis gangguan metabolisme yang meliputi gangguan metabolik yang diwariskan. Namun, gangguan metabolik yang diwariskan ditemukan untuk menjadi sangat langka dan hanya mempengaruhi 1 pada sekitar 1.000 hingga 2.500 bayi yang baru lahir (Sridianti, 2015).

  1. Hipertiroidisme

Kelenjar tiroid yang terlalu aktif dianggap gangguan metabolisme. Kelenjar tiroid melepaskan tiroksin yang membantu dalam berfungsinya metabolisme. Namun, ketika dilepaskan dalam jumlah yang tinggi, menyebabkan peningkatan laju metabolisme basal (BMR). Dengan demikian, menyebabkan hilangnya berat badan yang berlebihan, denyut jantung cepat, tekanan darah tinggi dan pembengkakan di leher.

  1. Hypothyroidism

Kebalikan dari hipertiroidisme adalah hipotiroidisme. Ketika kelenjar tiroid yang kurang aktif menyebabkan kekurangan hormon tiroid, itu mengarah ke sejumlah masalah kesehatan. Orang menderita rendah tingkat basal metabolisme, berat badan yang berlebihan, denyut jantung yang lambat, sembelit, dll.

  1. Diabetes

Salah satu gangguan metabolisme umum adalah diabetes. Diabetes adalah suatu kondisi yang terjadi ketika tubuh gagal untuk memanfaatkan glukosa dengan benar. Dengan demikian, menyebabkan kadar gula darah tinggi. Ada dua jenis diabetes, tipe 1 dan tipe 2. Dalam kasus diabetes tipe 1, pankreas menghasilkan terlalu sedikit atau tidak ada insulin. Dengan demikian, orang tersebut perlu diberikan insulin sehari-hari. Hal ini menyebabkan kelelahan, kelaparan konstan, penurunan berat badan dan penglihatan kabur. Jika tidak diobati, bisa menyebabkan koma diabetes. Diabetes tipe 2 adalah orang bentuk umum mencolok di seluruh dunia. Pankreas melakukan memproduksi hormon insulin, tetapi tubuh ternyata resisten terhadap dampaknya. Dengan demikian, pasien membutuhkan lebih banyak insulin untuk membantu melakukan fungsi yang sama.

  1. Penyakit Addison

Penyakit Addision terjadi ketika kelenjar adrenal hadir pada gagal ginjal untuk menghasilkan jumlah yang cukup kortisol dan aldosteron. Dengan demikian, orang yang terkena menderita kulit gelap, tekanan darah rendah, gula darah rendah, penurunan berat badan, kelemahan otot, kelelahan, mual dan nyeri otot. Gejala berkembang secara bertahap selama berbulan-bulan. Orang tersebut diminta untuk menjalani terapi penggantian hormon untuk mengontrol kondisi ini.

  1. GM2 gangliosidosis

Ini adalah kelainan genetik resesif autosom yang juga disebut penyakit Tay-Sachs. Ini adalah salah satu jenis gangguan metabolisme pada anak yang menyebabkan kemunduran mental serta kehilangan kemampuan fisik. Menyerang pada usia 6 bulan dan menyebabkan kematian anak pada usia 4 tahun.
Glukosa-6-fosfat dehidrogenase Defisiensi (G6PD). G6PD adalah gangguan metabolisme yang terjadi sebagai suatu penyakit keturunan resesif terkait-X. G6PD adalah enzim yang diproduksi oleh sel-sel darah merah. Hal ini sangat penting untuk metabolisme karbohidrat. Defisiensi G6PD menyebabkan kerusakan dan penghancuran sel darah merah. Hal ini menyebabkan kondisi yang disebut anemia hemolitik. Pasien menderita kekurangan warna kulit, kebingungan, kelemahan, kelelahan, urin berwarna gelap dan demam.

  1. Fenilketonuria

Fenilketonuria (PKU) adalah kelainan genetik yang menyebabkan ketidakmampuan untuk memecah asam amino phenylalanine dalam tubuh. Ini menyebabkan keterbelakangan mental dan kejang pada bayi yang terkena. Kondisi ini tidak menunjukkan gejala apapun selama kelahiran. Namun, saat anak semakin besar secara bertahap membangun mengarah ke fenilalanin gejala seperti keterbelakangan mental, pertumbuhan terhambat, ukuran kepala kecil, masalah perilaku, dan lain lain pada anak yang terkena.

Hubungan Kurangnya Asupan Energi Kronis Pada Awal Kehamilan Terhadap Penyakit Metabolis Pada Usia Dewasa

Menurut Berg  A (1986) resiko KEK pada ibu hamil mempunyai akibat terhadap pertumbuhan janin, berat badan lahir, pertumbuhan bayi dan anak. Tetapi juga mempunyai pengaruh terhadap generasi selaanjutnya. Siklus status gizi yang kurang baik ini berlanjut  dari status gizi  pada masa bayi, balita, masa remaja dan calon ibu sebagai generasi selanjutnya.

Penelitian Handayani (2004) menunjukkan bahwa jarak kelahiran, pendidikan dan pengetahuan yang bersama-sama dapat memprediksi kejadian Kekurangan Energi Kronis pada ibu hamil. Ibu hamil sebaiknya menambah pengetahuan mengenai makanan yang bergizi baik dan menu makanan sehat, sehingga asupan makanan ibu hamil lebih berkualitas

Hasil penelitian Azrimaidaliza (2013) Faktor resiko terjadinya DM antara lain faktor genetik, pertambahan usia, kurangnya aktifitas fisik dan pola makan atau diet yang tidak seimbang.

Kesimpulan

Kekurangan Energi Kronis pada awal kehamilan mempunyai dampak yang tidak baik terhadap janin yang dilahirkannya. Apabila siklus gizi yang tidak baik dari awal kehamilan tentunya berdampak pada masa selanjutnya, dimana masa tumbuh kembang anak untuk menjadi dewasa juga mengalami gangguan termasuk juga gangguan pada metabolisme anak pada saat dewasa. Oleh karena itu seorang ibu hamil sebaiknya pada awal kehamilan dapat memenuhi kebutuhan zat gizi yang cukup untuk ibu dan janin yang dikandungnya, sehingga dengan kebutuhan gizi yang cukup diharapkan dapat mencegah gangguan metabolisme tubuh pada saat dewasa.

Referensi

Arisman. 2007. Gizi Dalam Daur Kehidupan. Jakarta : EGC.

 Atikah Proverawati dan Siti Asfuah. Gizi Untuk Kebidanan. Yogyakarta: Mulia Medika; 2009. Hal 37-50

Azrimaidaliza. 2013. Asupan Gizi dan Diabetes Melitus. Studi Literatur.

Berg,  A. 1986. Pendidikan Untuk Gizi Yang Lebih Baik. Peranan Gizi Dalam Pembangunan Nasional. Jakarta. Rajawali.

Evalatifah Nurhayati. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya BBLR Pada Ibu-ibu Yang Melahirkan di Wilayah Kerja Puskesmas Sentosa Baru. Medan. Program Sarjana Universitas Sumatera Utara; 2004

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Pedoman Anemia Gizi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Handayani, Sri. 2004. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kekurangan Energi Kronis Pada Ibu Hamil Di Wilayah Puskesmas Wedi Klaten. Jurnal Involusi Kebidanan, Vol. 1, No. 1, Januari 2011, 42-60

Persagi. 2009. Kamus Gizi Pelengkap Kesehatan Keluarga, Jakarta. Penerbit Buku Kompas.

Siza, JE. Risk Factors Associated With Low Birth Weight of Neonates Among Pregnant Women Attending A Referral Hospital in Northern Tanzania. Tanzania Journal of Health Research. Vol. 10, No 1.2008.

Sridianti, 2015. Contoh Jenis Metabolisme Yang memmpengarui Orang.

Sulistyoningsih, A. 2013. Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibbu Tentang Nutrisi Selama Kehamilan di Bidan Praktek Mandiri Sriaatun Pacitan. Jurnal Ilmiah Rekam Medis dan Informatika Kesehatan

Supriasa, I. D. N., Bakri, B. & Fajar, I. 2001. Penilaian Status Gizi, Jakarta, Penerbit Buku EGC.

Weni. 2010. Gizi Ibu Hamil. Jogyakarta. Muha Medika.

Wuryani, W.  2007. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Remaja Putri SMAN Di Kota Bengkulu Tahun 2007. Postgraduate, Universitas Gadjah Mada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd