Artikel Telaahan (Review Paper) Status Gizi Pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan Kaitannya Dengan Penyakit Tidak Menular Pada Masa Dewasa

Posted on : Desember 30, 2015 | post in : TUGAS KULIAH |Leave a reply |

Abstrak

Tujuan telaah artikel ini adalah untuk mengetahui peran penting nutrisi pada masa awal kehidupan dan kaitannya dengan penyakit degeneratif. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan berbagai jurnal yang terkait dengan epidemiologi, gizi daur kehidupan, status gizi dan penyakit tidak menular kronis. Hasil telaah literatur dan jurnal-jurnal penelitian menunjukkan bahwa Kecukupan nutrisi pada periode awal kehidupan atau pada masa seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) sangat berperan dalam menentukan kesehatan pada masa dewasa. Selain itu, Kekurangan maupun kelebihan nutrisi pada masa seribu hari pertama kelahiran meningkatkan resiko terjadi penyakit tidak menular kronis seperti diabetes, hipertensi dan penyakit jantung. Maka untuk meminimalkan terjadinya penyakit tidak menular kronis pada masa dewasa perlu di upayakan sejak dini mulai di dalam kandungan.

Kata kunci : Nutrisi, Penyakit Metabolik, Periode Awal Kehidupan

Pendahuluan

Status gizi masyarakat sering digambarkan dengan besaran masalah gizi pada kelompok anak balita. Kekurangan gizi pada balita dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan fisik dan perkembangan mental serta kecerdasan, bahkan dapat menjadi penyebab kematian (Endang L., dkk, 2012). Dampak dari defisiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. Anak yang kurang gizi mengalami penurunan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini akan menimbulkan perkembangan anak yang buruk. Keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak, yang akan berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak.  Kegiatan pemantauan balita gizi kurang atau buruk merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui dengan cepat kasus gizi buruk di masyarakat.

Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur, bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi status gizi pada periode siklus kehidupan berikutnya (intergenerational impact) (Azwar, 2004). Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya (Sutomo, 2010). Indeks beratnya masalah gizi balita menurut World Healty Organization (WHO) didasarkan pada masalah gizi buruk, wasting dan stunting yang ditemukan pada suatu wilayah survey. Prevalensi wasting (kurus) dikatakan tinggi bila diatas 10-14% dan sangat tinggi bila ≥ 15%, dan prevalensi stunting (pendek) dikatakan tinggi bila diatas 30-39% dan  ≥ 40%. Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 persen, yang artinya masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius (Riskesdas, 2013).Dilihat dari beratnya masalah gizi menurut WHO, maka masalah gizi pada anak balita di Indonesia tergolong sangat tinggi dan menjadi masalah yang sangat serius untuk ditangani.

Perkembangan terkini menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa janin dan usia 2 tahun pertama kehidupan berpengaruh sangat penting terhadap risiko terjadi berbagai penyakit tidak menular yang kronis pada usia dewasa (Endang L. Achadi, Kusharisupeni,  Atmarita, dan Rachmi Untoro,  2012). Penyataan tersebut didukung oleh pernyataan Murti, B., (2011) yang menyatakan bahwa hasil-hasil studi epidemiologi sepanjang hayat (life course epidemilogy) menunjukkan fondasi kesehatan di usia dewasa telah diletakkan sejak dini pada awal kehidupan sebelum dan setelah kelahiran.  Dampak malnutrisi pada masa anak-anak terhadap orang dewasa di Indonesia dengan semakin banyaknya anggota masyarakat yang mengalami obesitas maupun penyakit non-infeksi seperti diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi (Adianti Handajani, Betty Roosihermiatie, Herti Maryani, 2010).

Untuk itu, perlu dilakukan intervensi sejak dini untuk mencegah  terjadinya defisiensi gizi pada masa-masa awal kehidupan terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) untuk meminimalkan terjadinya kasus penyakit kronik degeneratif pada masa dewasa. Berdasarkan pemikiran tersebut, penulis mencoba mengulas dan membahas mengenai peran penting gizi pada masa 1000 hari pertama kehidupan dan kaitannya dengan penyakit tidak menular kronis (metabolik) pada masa dewasa dengan menelaah jurnal-jurnal penelitian sebagai dasar untuk memberikan tanggapan atas kasus yang terjadi.

Peran Penting Nutrisi di Awal Kehidupan

Balita adalah seorang anak yang usianya diantara 1-5 tahun. Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu sering disebut golden age atau masa keemasan. Pertumbuhan dan perkembangan anak balita yang optimal tentunya dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang dikonsumsi. Menurut  Vilda Ana Veria Setyawati dan Zinatul Faizah, (2012) Pola konsumsi yang tidak seimbang maka akan timbul status gizi buruk dan status gizi lebih.

Gizi dan kesehatan anak mulai ditentukan dalam 1.000 hari pertama kehidupannya, yaitu dimulai sejak terjadinya kehamilan. Selain itu, kondisi kesehatan dan gizi orang tua, terutama ibu sebelum dan selama hamil turut menentukan kesehatan anak di masa depan. Jika tidak ditangani selama rentang masa tersebut, masalah gizi dan kesehatan anak akan memberikan dampak negatif pada usia selanjutnya. Menurut Endang L. Achadi, Kusharisupeni,  Atmarita, dan Rachmi Untoro ( 2012)Periode perkembangan janin di dalam kandungan dan selama dua tahun pertama kehidupanberpengaruh terhadap berbagai aspek kualitas sumber
daya manusia. Tidak semata-mata mencakup kualitasfisik, tetapi juga kualitas kognitif dan risiko terhadap kejadian penyakit kronis.

Masa 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) yaitu masa selama 270 hari (9 bulan) dalam kandungan ditambah 730 hari (2 tahun pertama) pasca lahir. Pada masa ini merupakan masa-masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pasca lahir dan dewasa, karena sebagian besar organ dan sistem tubuh  terbentuk pada periode ini.  Menurut Endang L., dkk, (2012) Pertumbuhan pada periode seribu hari pertama yang berhubungan sangat erat dengan kemampuan ibu menyediakan zat gizi yang dibutuhkan janin dan bayi direpresentasikan oleh status gizi ibu. Pengaruh kritis dan dampak jangka panjang status gizi ibu terhadap perkembangan janin semakin dipertegas oleh berbagai bukti pendukung. Menurut Wilkinson dan Marmot, (2003) dalam Murti, B., 2011) menyatakan bahwa keadaan yang buruk selama kehamilan, seperti defisiensi nutrisi selama kehamilan, stres maternal, olahraga yang tidak cukup (ibu hamil juga memerlukan senam), dan perawatan prenatal yang tidak memadai, dapat menyebabkan perkembangan fetus yang tidak optimal. Perkembangan fetus yang buruk merupakan resiko kesehatan pada kehidupan selanjutnya.

Kurangnya asupan gizi pada masa kehamilan berisiko terhadap perkembangan janin didalam kandungan maupun pasca melahirkan. Defisiensi asam folat pada awal kehamilan dapat berakibat terjadinya neural tube defect (NTD) pada janin. Selain itu, dampak lain ketidakcukupan asam folat selama kehamilan akan menimbulkan anemia megaloblastik dan terhambatnya pertumbuhan serta perkembangan janin (Sriwahyuni, Rahayu Indriasari1, Abdul Salam, 2013). Lebih lanjut Sri wahyuni dkk, (2013) menjelaskan bahwa pada masa kehamilan perlu pula diperhatikan kecukupan vitamin A, iodium dan zink. Defisiensi vitamin A dapat berakibat kebutaan. Defisiensi vitamin A pada akhir kehamilan mempunyai resiko 3 kali terkena infeksi saluran urine, diare dan disentri, problem makan, pre-eklampsia dan eklampsia serta anemia.

Dampak yang ditimbulkan malnutrition pada periode ini (1000 HPK) bersifat permanen dan berjangka panjang. Keterlambatanpertumbuhan pada seribu hari pertama tersebut menyebabkan perubahan permanen pada bayi. Apabila setelah periode tersebut terjadi perubahan lingkungan yang mendukung pertumbuhan yang cepat, maka tubuh dan fungsi organ tidak dapat menyesuaikan diri sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis (Endang L., dkk, 2012).

Tinjauan Thirty Phenotipe

Teori dan sejumlah bukti empiris tentang berbagai dugaan mekanisme pengaruh status gizi pada awal kehidupan terhadap perkembangan penyakit kronis antara lain meliputi thrifty phenotype hypothesis, developmental plasticity,dan fetal programming (Endang L., dkk, 2012). Teori dan sejumlah bukti empiris tersebut pada intinya menunjukkan fondasi kesehatan di usia dewasa telah diletakkan sejak dini pada awal kehidupan sebelum dan setelah lahir (Murti, B., 2011). Pernyataan tersebut didasari oleh Hipotesis thrifty phenotype atau hipotesis Barker yang menyatakan bahwa pertumbuhan janin berpengaruh sangat kuat pada penyakit kronis ketika masa dewasa (Endang L., dkk, 2012).

Menurut Murti, B., (2011) Banyaknya gangguan kronis yang timbul di usia dewasa diduga berhubungan dengan dua faktor yang tampaknya saling bertentangan yang bisa terjadi pada awal kehidupan, yaitu : 1. Kemiskinan (yakni, ibu malnutrisi melahirkan bayi malnutrisi dengan berat badan lahir rendah) ; 2. Kemakmuran (yakni, paparan yang dialami bayi dengan fenotip berat badan lahir rendah terhadap diet tinggi kalori/ energi). Faktor-faktor itu memiliki peran terhadap fenomena biologis kelenturan perkembangan (development plasticity) atau kemampuan genotip untuk menghasilkan aneka bentuk dan perilaku sebagai respon terhadap kondisi lingkungan. Hal tersebut terjadi ketika janin kekurangan gizi selama di dalam kandungan maka akan menyebabkan janin terebut  melakukan penyesuaian terhadap lingkungan yang “hemat” gizi dengan cara memperlambat pertumbuhan secara umum. Janin dan bayi berada dalampertumbuhan dan perkembangan yang bersifat “plastis”atau mudah menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan. Makafenomena ini disebut dengan developmental plasticity yang bermakna keadaan genotip dapat meningkat ke suatu rentang status fisiologis dan morfologis tertentu sebagai reaksi terhadap kondisi lingkungan yang berbeda selama perkembangan (Endang L., dkk, 2012).

Perubahan yang terjadi bukan perubahan genotip tetapi fenotip yang bersifat permanen dan dapatditransmisikan ke generasi berikutnya. Janin yang telahberadaptasi pada periode kehidupan tersebut dihadapkan dengan tiga pilihanlingkungan meliputi lingkungan gizi yang lebih buruk, sama, dan berlebihan dari sebelumnya. Perbedaan antara lingkungan sebelum dan sesudah sertaketidaksesuaian disebut “mismatch”, sementara perubahan yang telah terjadi pada janin dan bayi bersifat permanen. Akibatnya, bayi yang mengalami lingkungan
gizi berlebihan dalam jangka panjang, berisiko menderita berbagai penyakit tidak menular kronis (Endang L., dkk, 2012).

Penyakit Tidak Menular Kronis

Dampak malnutrisi pada masa anak-anak terhadap orang dewasa di Indonesia dengan semakin banyaknya anggota masyarakat yang mengalami obesitas maupun penyakit non-infeksi seperti diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi (Nurhaedar Jafar, 2011). Penyakit tidak menular atau penyakit degeneratif sejak beberapa dasawarsa silam telah menjadi segmentasi permasalahan tersendiri bagi tiap negara di seluruh dunia. Hingga saat ini penyakit degeneratif telah menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Hampir 17 juta orang meninggal lebih awal setiap tahun akibat epidemi global penyakit degeneratif (Adianti Handajani, Betty Roosihermiatie, Herti Maryani, 2010).

Di Indonesia transisi epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit, di mana penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Penyakit degeneratif merupakan penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kegemukan dan lainnya (Adianti Handajani, dkk., 2010). Lebih lanjut dikatakan oleh Endang L., dkk ( 2012) prevalensi berbagai penyakit tidak menular di Indonesia tergolong tinggi, antara lain hampir sepertiga penduduk dewasa menderita penyakit tekanan darah tinggi. Oleh sebab itu, pada masa yang akan datang, Indonesia dihadapkan pada beban yang berat akibat biaya penatalaksanaan yang tinggi dan produktivitas penduduk yang rendah akibat penyakit tersebut. Sehingga Indonesia menanggung beban gandapenyakit di bidang kesehatan, yaitu penyakit infeksi masih merajalela dan ditambah lagi dengan penyakitpenyakit kronik degeneratif.

Endang L., dkk, (2012) menjelaskan bahwa keterlambatanpertumbuhan pada seribu hari pertama tersebut menyebabkan perubahan permanen pada bayi.Apabila setelahperiode tersebut terjadi perubahan lingkungan yang mendukung pertumbuhan yangcepat, maka tubuh dan fungsiorgan tidak dapat menyesuaikan diri sehinggameningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.Pertumbuhan pada periode seribu hari pertama yangberhubungan sangat erat dengan kemampuan ibu menyediakan zat gizi yang dibutuhkan janin dan bayi direpresentasikan oleh status gizi ibu. Pengaruh kritis dandampak jangka panjang status gizi ibu terhadap perkembangan janin semakin dipertegas oleh berbagai buktipendukung. Hasil penelitian Victora, et al. (2008) menyatakan bahwa Efek gizi kurang di dalam
kandungan dapat memanjang ke 3 generasi, seperti diindikasikan oleh hubungan antara ukuran TB nenek dan berat badan lahir bayi yg dilahirkan oleh wanita dalam
studi kohor tersebut.

Selain itu, penelitian yang dilakukan di India tentang anak yang gizi kurang, cendrung menjadi dewasa pendek, selanjutnya cendrung melahirkan bayi kecil yang berisiko mempunyai resiko berprestasi pendidikan yang rendah dan pada akhirnya mempunyai status ekonomi yang rendah. Lebih lanjut dikatakan bahwa Stunting pada usia dini dapat memprediksi kinerja kognitif dan risiko terjadinya penyakit jantung koroner pada dewasa (Chandrakant L., 2008 dalam Endang L. Achadi, 2014). Hasil penelitian yang dilakukan Mas Nugroho Ardi Santoso (2009) menyimpulkan bahwa anak usia 15-18tahun dengan riwayat berat badan lahir rendahmempunyai mean kadar VCAM-1 224.6 ng/ml lebihtinggi daripada anak dengan riwayat berat badan lahirnormal (b= 224.6; p< 0.001). Beberapa penelitian tersebut mengindikasikan bahwa riwayat berat badan lahir rendah lebih berisiko mengalami penyakit tidak menular kronis pada saat dewasa.

Kejadian penyakit tidak menular kronis tidak hanya terjadi pada anak gizi kurang atau ibu hamil yang gizi buruk tapi dapat juga terjadi pada wanita yang overweight. Penelitian yang dilakukan Barker, DJP., (2008) dalam Endang L. Achadi, (2014) menunjukkan bahwa wanita yang Overweight dapat melahirkan bayi makrosomik (sangat besar) yang seringkali tidak bisa memproduksi insulin dengan baik sehingga berisiko mengalami obesitas dan diabetes tipe 2.

 Bersama dengan semakin peliknya permasalahan yang diakibatkan oleh
berbagai macam penyakit menular, kasus penyakit non infeksi menimbulkan adanya beban ganda bagi dunia kesehatan. Menurut WHO, diperkirakan banyak
negara mengalami kerugian hingga miliar Dollar akibat penyakit degeneratif ini, oleh karena itu dibutuhkan langkah konkret untuk menanggulanginya. Indonesia termasuk salah satu dari 17 negara dari 193 negara yang mempunyai 3 masalah gizi tinggi pada balita yaitu Stunting, wasting dan Gemuk.Menurut data Riskesdes (2013) Pada tahun 2013 secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 persen, yang artinya masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius (Depkes, 2014).

Untuk itu Perbaikan kualitas kesehatan masyarakat dalam mencegah dan meminimalkan kematian akibat peningkatan penyakit degeneratif di masyarakat memerlukan upaya-upaya seperti Memberikan pendidikan tentang pola perilaku dan
pola hidup sehat dengan gizi seimbang kepada seluruh masyarakat baik melalui pendidikan formal maupun informal sejak dini secara berkesinambungan.

 

Kesimpulan

Kecukupan nutrisi pada periode awal kehidupan atau pada masa seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) sangat berperan dalam menentukan kesehatan pada masa dewasa. Selain itu, Kekurangan maupun kelebihan nutrisi pada masa seribu hari pertama kelahiran meningkatkan resiko terjadi penyakit tidak menular kronis seperti diabetes, hipertensi dan penyakit jantung. Maka untuk meminimalkan terjadinya penyakit tidak menular kronis pada masa dewasa perlu di upayakan sejak dini mulai di dalam kandungan.

 

Referensi

Adianti Handajani, Betty Roosihermiatie, Herti Maryani, 2010. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Pola Kematian pada Penyakit Degeneratif di indonesia. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Vol. 13 No. 1 Januari 2010: 42–53.

Depkes., 2014. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia Tahun 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan KesehatanDepartemen Kesehatan RI. Jakarta.

Endang L. Achadi, 2014. Periode Kritis 1000 Hari PertamaKehidupan dan Dampak JangkaPanjang terhadap Kesehatan danFungsinya. Makalah, disampaikan pada: “Kursus Penyegar Ilmu Gizi, diselenggarakan oleh
PERSAGI, di Yogyakarta, 25 November 2014

Endang L. Achadi, Kusharisupeni,  Atmarita, dan Rachmi Untoro, 2012. Status Gizi Ibu Hamil dan Penyakit Tidak Menular pada Dewasa.Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 7, No. 4, November 2012.

Mas Nugroho Ardi Santoso, 2009. Hubungan Antara Kadar Vascular Cell Adhesion Molecule-1 (VCAM-1) dan Riwayat Berat Badan Lahir RendahPada Anak Usia 15-18 Tahun. Jurnal Kedokteran Indonesia, Vol. 1, No. 2, Juli 2009. 126-120.

Murti, B., 2011. Kesehatan Anak dan Epidemiologi Sepanjang Hayat. Editorial Jurnal Kedokteran Indonesia, Vol 2, No. 1, Januari 2011.

Nurhaedar Jafar, 2011. Sindrom Metabolik. Program studi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sri Wahyuni, Rahayu Indriasari, Abdul Salam,  2013. Pola Konsumsi Buah dan Sayur Serta Asupan Zat Gizi Mikro dan Serat Pada Ibu Hamil Di Kabupaten Gowa 2013.Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Makassar.

Vilda Ana Veria Setyawati dan Zinatul Faizah, 2012.Hubungan Antara Asupan Protein, Besi, Dan Seng Dengan Status Gizi Pada Anak Balita Gizi BurukDi Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Semarang.Jurnal Visikes Vol. 11, No. 1 April 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd