Gaya Bahasa Sastra

Posted on : Februari 5, 2016 | post in : HASIL PENELITIAN |Leave a reply |

Gaya Bahasa  Sastra

Menurut Slametmuljana dan Simorangkir Simanjuntak, gaya bahasa merupakan susunan perkataan yang terjadi karena perasaan-perasaan dalam hati pengarang, dengan sengaja ataupun tidak, akan menimbulkan suatu gejolak perasaan tertentu dalam hati pembaca. Dalam hal ini pusat perhatiannya terletak pada pengarang. Pendapat Gorys Keraf hampir sama yaitu bahwa gaya (bahasa) itu adalah cara untuk mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (Pradopo 2005a: 3-4)

Menurut  Atmazaki  (1990:93-95)  bahwa  gaya  bahasa  sastra   disebut  juga  istilah  stilistika  atau  penggunaan  bahasa  dalam  karya  sastra. Pengertian  ini  dipertentangan  penggunaan  bahasa  dalam    konteks  ini  dapat  diartikan  sebagai  penggunaan  bahasa  oleh  orang  yang  tidak  mempunyai  kompetensi  linguistik   yang  baik,  sehingga     menimbulkan  hal-hal  yang  salah  atau  menyimpang,  yang  tidak dapat  dipertanggung  jawabkan  secara  ilmiah.  Secara  umum    pengertian  stilistika  adalah  kajian  terhadap  karya  sastra  yang  berpusat  kepada  pemakaian  bahasa,  yang  objek  kajiannya  adalah  karya  sastra  yang  sudah  ada.  Persoalan  gaya  bahasa  sastra  bukanlah  tentang  efisiensi  dan  efektifitas  pengguna  bahasa,  melainkan  tentang  cara  penggunaan  bahasa  untuk  menghasilkan  efek  tertentu.

 Gaya  bahasa  sastra  tidak  saja  dalam  arti  keindahan,  melainkan      juga  dalam  arti  kemantapan  pengungkapan.  Gaya  bahasa  adalah  suatu  efisiensi  dan  efektifitas  yang  berkaiatan  dengan  tata  bahasa  (kalimat  yang  efektif  yang  sesuai  dengan  kaidah  bahasa),  hemat  dalam  pengungkapan  tetapi  dapat  menyampaikan  banyak  ide  dan juga sering  memperlihatkan  penentangan  terhadap  pengucapan bahasa yang  klise.

Sejalan  dengan  itu  Sudjiman  (1993:2-4)  menambahkan  bahwa  stilistika  mengkaji  wacana  sastra  dengan  orientasi  linguistic.  Oleh      karena  itu,  stilistika  sangat  berkaitan  erat  dengan  berbagai  cabang    dan  tataran  linguistic,  misalnya  dalam  pengkajian  penggunaan  bahasa  suatu  karya  sastra  dan  efektifitas  penggunaannya.  Adapun   menurut  karakteristik  karya  sastra  dan  efektifitas  penggunaannya.  Adapun  menurut  karakteristik  karya  sastra  itu  masing-masing dapat  bergerak  pada  tataran  fonologis,  morfologis,  sintaksis,  dan  semantik.

Stilistika  mengkaji  cara  sastrawan  memanipulasi  atau  memanfaatkan      unsur  dan  kaidah  yang  terdapat  dalam  bahasa  dan  efek  apa  yang       ditimbulkan  oleh  penggunaannya  itu.  Stlistika  juga  meneliti  ciri khas  penggunaan  bahasa  dalam  wacana  sastra,  ciri-ciri  yang  membedakan  atau  mempertentangkannya  dengan  wacana  nonsastra,  menelit  deviasi  terhadap  tata  bahasa  sebagai  sarana  literer.   Singkatnya,  meneliti  fungsi  puitik  bahasa.

Kemudian  ditambahkan  pula  oleh  Wellek  dan  Warren  (1993: 220-226)  bahwa  stilistika  secara  luas,  meneliti  semua  teknik  yang  dipakai  untuk  tujuan  ekspresif  tertentu,  dan  meliputi  wilayah  yanglebih  luas  dari  sastra  atau  retorika,  semua  teknik  itu  untuk membuat  penekanan  dan  kejelasan  dalam  wilayah  stilistika. Di  dalam  suatu  karya  sastra  tentu  saja  stilistika  tidak  dapat  diterapkan  dengan  baik  tanpa  dasar  linguistik  yang  kuat,  karena  salah  satu  perhatian  utamanya  adalah  kontras  system  bahasa  karyasastra  dengan  penggunaan  bahasa  pada  zamannya.  Oleh  karena  itu,stilistika  dapat  menjabarkan  cirri-ciri  khusus  karya  sastra,  ada  dua   kemungkinan  pendekatan  analisis  stilistika  semacam  itu.  Yang  pertama  dimulai  dari  menganalisis  sistematis  tentang  system  linguistik  karya  sastra,  dan  dilanjutkan  dengan  iterpretasi  tentang  ciri-cirinya  dilihat  dari  tujuan  estetis  karya  tersebut  sebagai  makna  total.  Gaya  akan  muncul  sebagai  sistem  linguistik  yang  khas  dari  karya  atau  sekelompok  karya.  Kemudian  yang  kedua  tidak   berte ntangan  dengan  yang  pertama,  mempelajari  sejumlah  ciri  khas  membedakan  sistem  satu  dengan  sistem-sistem  lain. Adapun  langkah  dalam  menganalisis  stilistika  dengan  mengamati   deviasi-deviasi  seperti  penggunaan  bunyi,  iverse  susunan  kata,     susunan  hirarki  klausa  yang  mempunyai  fungsi  estetis  seperti   penekanan  atau  membuat  kejelasan  dan  justru  sebaliknya  usaha   estetis  untuk  mengaburkan  dan  makna  menjadi  tidak  jelas.

Berdasarkan  ketiga  uraian  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  stilistika  adalah  bagian  dari  ilmu  sastra  yang  sangat  penting  karena   dapat  menjabarkan  cirri-ciri  sejumlah  cirri  khas  yang  membedakan  sistem satu  dengan  yang  lainnya.  Kemudian  dilanjutkan  dengan   mengamati  penggunaan  bunyi,  susunan  kata,  dan  susunan  klausa  untuk  membuat  kejelasan  makna  dan  pengaburan  makna  yang   tidak  jelas.

Gaya  dalam  cerita  pendek  dikisahkan  salah  satu  moment  dalam  Kehidupan  manusia.  Waktu  penceritaannya  pendek,  jumlah  baris  (halamannya) pendek,  dapat  di  baca  dalam  sekali  duduk,  biasanya  dalam  cerita  pendek   penyelesaian  cerita  nya  selalu  mendadak  dan  penyelesaian  cerita  itu  bersifat open  ending  (terbuka  untuk  diselesaikan  sendiri),  serta  menggunakan  bahasa sederhana  tetapi  sugestif  (Waluyo,  1994:34-35).  Dalam  cerita  pendek,  pengarang mengambil  sari  ceritanya  saja,  kejadian-kejadian  perlu  dibatasi,  yakni  di batasipada  kejadian-kejadian  yang  benar-benar  dianggap  penting  untuk membentuk  kesatuan  ceerita.  Disamping  itu  cerita  harus  memiliki  kepanduan atau  kebulatan  yang  tinggi.  Maka  dari  itu,  tokoh  yang  digambarkan  harus diperhatikan  agar  tidak  mengurangi  kebulatan  cerita  dan  biasanya  berpusat  pada  tokoh  utama  dari  awal  hingga  akhir  cerita,  Jasin  menjelaskan  (dalam waluyo,  1994:34).

Ucapan  atau  ekspresi  karya  sastra  sebagai  karya  seni  berbeda  dengan   ucapan  karya-karya  kebahasaan  yang  lain  yang  tidak  memokok  nilai  seninya. Untuk  itulah  dalam  mengenal  suatu  karya  sastra  di  perlukannya  ciri-ciri Empiris  sifat  estetik  karya  sastra.  Ciri-ciri  empiris  sifat  karya  sastra  ini  adalah sebagaiberikut:)  bahasa yang  digunakan  sastrawan  atau  karya  sastra  berusaha membuat  ucapan  yang  aneh,  yang  menyimpang  penggunaan  bahasa  sehari-hari pemakaian  bahasa  yang  normatif,  melainkan  pengarang  berusaha  mendapatkan efek  atau  kesan  yang  membuat  kekaguman  atau  terpesona; 2)  memproyeksikan prinsip  ekuivalensi  (persejajaran, persamaan  nilai),  pengarang  memilh  kata-kata yang  tepat,  yang  ekspresif,  untuk  melukiskan  perasaan  dan  pikirannya.

Pemilihan  itu  disesuaikan  dengan  kata-kata  kombinasinya  yang  seharga  atau senilai,  baik  arti  maupun  bunyi;  3)  Untuk  mendapatkan  niali  estetik  yang  intens  dalam  karya  sastra  dipergunakn  sarana-sarana  sastra  secara  bersama-sama  seperti  gaya  bahasa,  pilihan  kata,  bahasa  kiasan,  humor,  symbol,  tegangan, pembayangan dll.  Untuk  mendapatkan  efek  yang  sebanyak-banyaknya. Pembuatan  bahasa  yang  aneh,  prisip  ekuivalensi  dan  penggunaan  saran-saran sastra  itu  menimbulkan  kebaharuan  dalam  karya  sastra  sehingga  menimbulkan daya  pesona  dan  kekaguman  yang  dapat  memberiakn  nilai  seni  atau  menambah nilai  seni  karya  sastra  (Pradopo, 2002: 88-90).

Style atau  gaya  bahasa  menulis  merupakan  aspek  yang  sangat  penting, hal  ini  dapat  ditinjau  dari  brmacam-macam  sudut  pandang.  Antara  lain  yaitu gaya  bahasa  berdasarkan  pilihan  kata  dan  gaya  bahasa  berdasarkan  langsung   tidaknya  makna  serta  gaya  bahasa  kiasan.

Beradasarkan  pilihan  kata,  gaya  bahasa  mempersoalkan  kata  mana yang  paling  tepat  dan  sesuai  untuk  posisi  tertentu  dalam  kalimat,  serta  tepat tidaknya  penggunaan  kata  dilihat  dari  lapisan  pemakaian  bahasa  dalam masyarakat.  Oleh  karena  itu,  gaya  bahasa  sebagai  bagian  dari  diksi  bertalian dengan  ungkapan-ungkapan  yang  individual  atau  karakteristik,  yang  memiliki nilai  artistik  yang  tinggi.  Diksi  mencakup  pengertian  kata-kata  mana  yang  di pakai  pengarang  cerpen  untuk  menyampaikan  suatu  gagasan, serta  bagaimana membentuk  pengelompokan  kata-kata  yang  tepat  untuk  ungkapan-ungkapan, yang  tepat,  dan  gaya  mana  yang  paling  tepat  digunakan  dalam  suatu  situasi serta  nilai  rasa  yang  dimiliki  kelompok  masyarakat  pembaca  (Keraf, 2005: 117).

Gaya  bahasa  berdasarkan  makna  diukur  dari  langsung  tidaknya  makna, yaitu  apakah  acuan  yang  dipakai  masih  mempertahankan  makna  denotatifnya atau  sudah  ada  penyimpangan.  Apabila  acuan  yang  digunakan  itu  masih   mempertahankan  makna  dasar,  maka  bahasa  itu  masih  bersifat  polos  tetapi apabila  sudah  ada perubahan  makna,  entah  berupa  makna  konotatif  atau  sudah  menyimpang  jauh  dari  makna  denotatifnya,  makna  acuan  itu  dianggap sudah  memiliki  gaya  bahasa  yang  dimaksud.

Sedangkan  gaya  bahasa  kiasan  ini  pertama-tama  dibentuk  berdasarkan Persamaan.  Membandingkan  sesuatu  dengan  yang  lain,  berarti  mencoba   menemukan  ciri-ciri  yang  menunjukan  kesamaan  antara  kedua  hal  tersebut. Perbandingan  sebenarnya  mengandung  dua  pengertian,  yaitu  perbandingan  yang termasuk  dalam  gaya  bahasa  kiasan  (Keraf, 2005:126-136).

Gaya Bahasa Teoritis

Gaya  bahasa  retoris  kesemuanya  berjumlah  21  macam. macam-macam  contoh  gaya  bahasa  retoris tersebut  diantaranya  adalah   sebagai  berikut: (Triningsih  Diah  Erna,  2009: 18-24).

  1. Aliterasi adalah semacam  gaya  bahasa  yang  berwujud  perulangan konsonanyang    Gaya  bahasa  ini  sering  digunakan  dalam  puisi  atau  prosa  untuk  penekanan  makna.

Contoh:

  1. Takut titik  lalu
  2. Keras-keras kerak  kena  air  lembut juga
  1. Elipsis adalah  suatu  gaya  byang  berwujud  menghilangkan  suatu  kalimatyang  dengan  mudah  dapat  di  isi  atau  ditafsirkan  oleh  pembaca  atau pendengar.  Sehingga  struktural  gramatikal  atau  kalimat  memenuhi  pola  yang  berlaku

Contoh:

  1. Masihkah kau  tidak  percaya  bahwa  dari  segi  fisik  engkau  tak  apa-apa,  badanmu  sehat,  tetapi  psikis…..
  2. Jika anda  gagal  melaksanakan  tugas…, tetapi  baiklah  kita  tidak  membicarakan  hal
  3. Litotes adalah  semacam  gaya  bahasa  yang  dipakai  untuk  menyatakan sesuatu  dengan  tujuan  merendahkan  Sesuatu  tersebut  dinyatakan  kurang  dari  keadaan  sebenarnya.

 Contoh:

  1. Kedudukan saya  ini  tidak  ada  artinya  sama  sekali
  2. Saya tidak  akan  merasa  bahagia  jika  mendapatkan  hadiah  mobil
  3. Pleonasme dan  Tautologi  adalah  gaya  acuan  yang  mempergunakan  kata-kata  lebih  banyak  dari  pada  yang  diperlukan  untuk  menyatakan  suatupikiran  atau

  Contoh:

  1. Saya telah  mendengar  hal  itu  dengan  telinga  saya    Saya  pun  telah  melihat  kejadian  itu  dengan  mata  kepala  saya  sendiri.  Sungguh  memalukan!
  2. Globe yang  merupakan  tiruan  bentuk  bumi  berbentuk
  3. Hiperbola adalah  semacam  gaya  bahasa  yang  mengandung  suatu  pernyataan  yang  berlebihan,  dengan  membesarkan-besarkan  suatu

Contoh :

  1. Kemarahanku sudah  menjadi-jadi  hingga  hampir-hampir  meledak  karena  aku  sangat
  2. Prajurit itu  masih  tetap  berjuang  dan  sama  sekali  tidak  tahu  bahwa  ia  sudah
  3. Paradoks adalah  semacam  gaya  bahasa  yang  mengandung  pertentangan yang  nyata  dengan  fakta-fakta  yang  Paradoks  dapat  berarti  semua  hal  yang  menarik  perhatian  karena  kebenaranya.

Contoh :

  1. Musuh sering  merupakan  kawan  yang
  2. Ia mati  kelaparan  di  tengah-tengah  kekayaan  yang  melimpah  ruah

Gaya Bahasa Kiasan

Adapun  gaya  bahasa  kiasan  kurang  lebih  berjumlah 16  macam,  yang  diantaranya  adalah  sebagai  berikut;

  1. Persamaan atau  simile  adalah  perbandingan  yang  bersifat  Ekplisit  yang  dimaksud  adalah  perbandingan  tersebut  langsung  menyatakan  sesuatu  sama  dengan  gal  yang  lain. Gaya  ini  ditandai  dengan  penggunaan  kata  seperti,  bagai,  bak,  umpama,  laksana,  atau  sebagai.

Contoh :

  1. Matanya seperti  bintang  timur
  2. Bagai duri  dalam  daging
    1. Metafora adalah  merupakan  gaya  bahasa  yang  menganalogikan  sesuatu  secara  langsung  dalam  bentuk  yang

Contoh :

  1. Ia membeli  cendera  mata  dari  Bali
  2. Ia sangat  menyayangi  buah  hatinya
    1. Personifikasi atau  prosopopeia  adalah  semacam  gaya  bahasa  kiasan  yang menggambarkan  benda-benda  mati  atau  barang-barang  yang  tidak  bernyawa  seolah-olah  memiliki  sifat

Contoh :

  1. Angin yang  meraung  di  tengah  malam  yang  gelap  itu  menambah  ketakutan  kami
  2. Matahari baru  saja  kembali  ke  peraduannya  ketika  kami  tiba  di  sana  (Triningsih  Diah  Erna,  2009:  28-29).

Demikianlah  berbagai  macam  gaya  bahasa  berdasarkan  penggolongannya. Pengarang  menggunakan  gaya  bahasa  tersebut  sesuai  dengan  kebutuhannya  di dalam  membuat  karyanya  dan  biasanya  gaya  bahasa  pengarang  jauh  lebih luas  daripada  penggolongan  gaya  bahasa  tersebut.  Selain  itu,  gaya  bahasa   juga  berhubungan  dengan  sebagai  aspek  sastra  yang  lainnya  seperti  latar,alur, penokohan  atau  perwatakan  dan  pandangan  hidup  pengarang.  Dengan  adanya aspek  ini,  maka  karya  sastra  tersebut  dapat  membentuk  kekoherensi  keseluruhan  di  dalam  karya  sastra  seta  dapat  menimbulkan  efek  tertentu  (Wellek  dan  Waren.  1993:276-280).

Fungsi Gaya  Bahasa

Gaya  bahasa  dapat  dipandang  sebagai  kenyataan penggunaan  bahasa (phenomena)  yang  istimewa,  dan  tidak  dapat  dipisahkan  dari  cara  atau   seorang  pengarang  dalam  merefleksikan  (memantulkan,  mencerminkan)  pengalamn,  bidika,  nilai-nilai,  kualitas  kesadaran  pikiran  dan  pandangannya yang  istimewa  atau  khusus,  serta  sebagai  ekspresi  pribadi  penulisnya  dalam  menghadapi  dan  menyikapi  pokok  masalah  karangannya.

Gaya  bahasa  juga  merupakan  bagian  kreativitas  yang  disadari  sebagai alat  untuk  mencapai  suatu  tujuan  dan  juga  sebagai  suatu  perwujudan  dari keterampilan  (skill)  menggunakan  bahasa  secara  khusus  atau  istimewa.  Dengan  kata-kata,  jenis  kata  atau  kalimat-kalimat  yang  dipilih  dan  disenangi seorang  penulis  dapat  memperhatikan  gaya  karangannya  kepada  pembaca walaupun  tidak  secara  langsung  hal  itu  dilakukan.  Dengan  cara-cara  yang  tak lazim,  penulis  menggali  sumber-sumber  keindahan  bahasa,  mengolah  kata-kata yaitu  penggunaan  bahasa  yang  menggambarkan  atau  melukiskan  sesuatu. (Ahmadi, 1997 : 74-76).

Stilistika (Kajian  Gaya  Bahasa  Sastra)

Pusat  perhatian  stilistika  adalah  style,  yaitu  cara  yang  digunakan  seorang pengarang  atau  penulis  untuk  menyatakan  maksudnya  dengan  menggunakan bahasa  sebagai  sarana.  Denaga  demikian,  style  dapat  diterjemahkan  sebagai gaya  bahasa,  sesungguhnya  gaya  bahasa  terdapat  dalam segala  ragam  bahasa, yakniragam  lisan  dan  ragam  tulis,  ragam  nonsastra  dan  ragam  sastra.  Karena gaya  bahasa  adalah  cara  menggunakan  bahasa  dalam   konteks  tertentu   orang-orang  tertentu  untuk  maksud  tertentu.  Akan  tetapi,  secara  tradisional gaya  bahasa  selalu  ditautkan  dengan  teks  sastra,  khususnya  teks  sastra  tertulis.

Bahasa  juga  mempunyai  tugas  dan  peranan  yang  penting  dalam  kehadiran  karya  sastra.  Karena  keindahan  sebuah  karya  sebagian  besar  disebabkan kemampuan  penulis  mengekploitasi  kelenturan  bahasa  sehingga  menimbulkan kekuatan  dan  keindahan.  Bahasa  sastra  adalah  yang  khas,  bahasa  yang  telah dilentur-lenturkan  oleh  pengarang  sehingga  mencapai  kesan  keindahan  dan   kehalusan  rasa.  Pengrang  menggunakan  kata-kata  yang  khusus,  serta  untuk meninggalkan  kesan  sensitivitas  yang  khusus  pula.

Gaya  bahasa  mencakup  diksi  atau  pilihan  kata,  struktur  kalimat,  majas dan  citraan,  pola  rima,  dan  matra  yang  digunakan  seorang  sastrawan  yang   terdapatdalam  karya  sastra.  Untuk  menentukan  gaya  khas  seorang  pengarang terlebih  dahulu  harus  membaca  dan  menelaah  penggunaan  bahasa  dalam semua  karyanya.

Oleh  karena  itu,  pengkajian  stilistika  meneliti  gaya  sebuah  teks  sastra  secara rinci,  dengan  secara  sistematis  memperhatikan  preferensi  penggunaan  kata atau  struktur  bahasa.  Mengamati  antar  hubungan  pilihan  itu  untuk  mengidenti fikasi  ciri-ciri  stilistik,  yang  membedakan  pengarang,  karya,  tradisi  atau   periode  tertentu  dari  pengarang,  karya,  tradisi  atau  periode  lainnya.  Ciri  ini dapat  bersifat  fonologis  (pola  bunyi  bahasa,  matra,  rima),  sintaksis  (tipe   struktur  kalimat),  leksikal  ( diksi,  frekuensi,  penggunaan  kelas  kata  tertentu), atau  retoris  (majas,  citraan).  Gaya  bahasa  dapat  ditentukan  pula  antara lain  oleh  sifat  karya  yang  bersangkutan,  baik  berupa  epic  atau  lirik  lisan  atau tulisan  serta  siapa  pembaca  yang  dituju.  Dengan  bahasa  yang  indah  dan berbunga-bunga,  serta  beragam  majas,  pengarang  berusaha,  menarik  perhatian  pembaca  kepada  bentuk  estetiknya,  baru  kemudian  pada  gagasan  yang  hendakdisampaikan  (Sudjiman,1993 :13-15  dan  Semi,1990:81).

Ada  beberapa  konsepsi  dan  kriteria  pendekatan  stilistika  menurut  (Semi,  1990:  82-83)  sebagai  berikut  :

  1. Pendekatan stilistika  beranggapan  bahwa  kemampuan  sastrawan  mengekploitasi  bahasa  dalam  segala  dimensi  merupakan  suatu  puncak  kreativitas  yang dinilai  sebagai
  2. Di dalam  pendekatan  stilistika,  kajian  bahasa  harus  lebih  mendalam,  sampai kepada  menggunakan  bahasa  simbolik,  kemampuan  pemilihan  kata  hinggapenemuan  berbagai  kemungkinan
  3. Analisis ditujukan  pula  ke  arah  membuka  tabir  kekaburan  yang  seringdijumpai  pada  karya  abstrak,  dan  karya  eksperimental  yang    Denganbegitupendekatan  ini  dapat  memberi  faedah  yang  besar  untuk  membantukhalayak  pembaca  mendapatkan  interpretasi  yang  lebih  tepat.
  4. Analisis ini  ditujukan  pula  kepada  corak  penulisan  yang  bersifat  individual, yang  bersifat  khas  bagi
  5. Analisis gaya  kepengarangan  tidak  hanya  menyangkut  gaya  perorangan, tetapi  juga  dapat  dilakukan  analasis  terhadap  gaya  kelompok  pengarang,  gaya  umum  yang  berlaku  pada  periode
  6. Analisis kebahasaan  diarahkan  juga  pada  masalah  pemakaian  kata  dalam  kalimat-kalimat  dalam  paragraf,  paragraf  dalam  wacana,  serta  bagaimanasemuanya  itu  dijalin  penulis  sehingga  menjadikannya  sesuatu  yang  menggugah  dan
  7. Analisis mengenai  pemakaian  ragam  bahasa,  dialek  atau  laras
  8. Analisis kebahasaan  dapat  dan  kadang-kadang  harus  dikaitkan  dengananalisisperwatakan,  sebab  bagaimanapun  bahasa  yang  digunakan  tokohakan  menggambarkaan  watak,  kepribadian  cara  berpikir  dan
  9. Keterangan dalam  penulis  memilih  kata-kata  yang  tepat  dan  menggugahmerupakan  segi  lain  yang  akan
  10. Analisis stilistika  dikaitkan  pula  pada  analisis  tentang  pemahaman  pembacaterhadap  karya

Beradasarkan  uraian  di  atas  kajian  dengan  pendekatan  stilistika  dalam penelitianini  diarahkan  untuk  mengkaji  kemampuan  menganalisispemakaian gaya  bahasa,  pilihan  kata  dan  untuk  menemukan  berbagai  kemungkinan  penafsiran  yang  berkaitan  dengan  pemaparan  karya  sastra  sebagai  bentuk  penyampaian gagasan  pengarang.  Jadi  dalam  penelitian  ini  pendekatan  stilistika  digunakan  untuk  mengkaji  kekhasan  gaya  bahasa  pengarang  cerpen  di  Harian  Rakyat Bengkulu,  berdasarkan  ciri  khas  masing-masing  pengarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd