Analisis Fungsi Pengawasan Pada Bagian Perkebunan  di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet

Posted on : Februari 26, 2016 | post in : HASIL PENELITIAN |Leave a reply |

ABSTRAK   

Pengawasan yang dilakukan oleh pengawas yaitu mengabsen karyawan di saat datang ke area perkebunan dan mengawasi saat selesai atau melakukan penimbangan getah karet saja, sehingga pada saat karyawan hendak melakukan atau memulaui mengambil getah karet tidak dilakukan  pengawasan, sehingga sering terjadi ketebalan dan ketipisan dalam mengambil getah karet. Penelitian ini bertujuan Untuk Mengetahui Fungsi Pengawasan Pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara.

Penelitian ini metode kualitatif untuk memahami fenomena yang dialami subjek penelitian secara holistik. Informan dalam penelitian diambil sebanyak 8 orang yang terdiri dari 1 orang Sinder, 1 orang Mandor Besar, 3 orang Mandor dan 5 orang karyawan (1 orang per afdiling). Dalam hal ini informan penelitian dipilih yang terlibat langsung dengan Pelaksanaan Pengawasan Pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara. Teknik penentuan informan dalam penelitian menggunakan metode porposive sampling.

Pengawasan yang dilakukan mandor pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara belum optimal dikarenakan mandor melakukan absensi pada karyawan sudah melebihi jam masuk yang seharusnya dan dalam memeriksa kelengkapan peralatan sadap karyawan hanya beberapa kali dalam 1 bulan.

Saran penelitian kepada mandor pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara hendaknya dapat mengoptimalkan tugasnya dalam melakukan pengawasan sesuai dengan Tupoksinya, khususnya dalam mengecek kehadiran keryawan lebih pagi dan dapat mengecek peralatan sadap karyawan dalam setiap pagi sebelum karyawan bekerja melakukan penyadapan.

Kata Kunci: Pengawasan, Mandor, PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet

Latar Belakang

Hasil observasi peneliti dilapangan pelaksanaan pengawasan Pada Bagian Perkebunan  di PTPN VII Kabupaten Bengkulu Utara belum  optimal, hal ini kurangnya ketegasan yang diambil pengawas dalam memberikan  sanski pada karyawan yang  tidak  disiplin dalam  melaksanakan pekerjaan.

Berdasarkan data pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara jumlah luas area perkebunan sebesar 3.400,18 Ha yang terbagi dalam 5 afdiling/kelompok. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pengawas di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara mengatakan dalam setiap  afdiling/kelompok memiliki 5 orang pengawas dan 25 orang karyawan. Masalah  yang  sering  terjadi dalam pelaksanaaan pekerjaan yaitu masalah waktu keberangkatan karyawan, dimana  dalam bekerja apabila pekerjaan yang dilakukan dengan sistem borongan mereka  berangkat jam 5-6 pagi,  namun apabila pekerjaan yang dilakukan sistem borongan  mereka berangkat jam 2 atau 3 malam.

Selain itu dilihat dari keterampilan karyawan dalam mengambil getah karet, terlihat masih rendahnya keterampilan karyawan, sehingga sering terjadi ketebalan dalam mengambil getah sehingga menyebabkan getah banyak tapi merusak kulit batang karet dan ketipisan sehingga menyebabkan getahnya kurang. Hal dikarenakan kurangnya pengawasan oleh mandor pada saat mereka bekerja, sehinngga terjadinya peniurunan hasil produksi atau hasil sadapan karet. Sementara itu pengawasan yang dilakukan oleh pengawas yaitu mengabsen karyawan di saat datang ke area perkebunan dan mengawasi saat selesai atau melakukan penimbangan getah karet saja, sehingga pada saat karyawan hendak melakukan atau memulaui mengambil getah karet tidak dilakukan  pengawasan, sehingga sering terjadi ketebalan dan ketipisan dalam mengambil getah karet.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimanakah Fungsi Pengawasan Pada Bagian Perkebunan  di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara?”.

Tujuan Penelitian

Untuk Mengetahui Fungsi Pengawasan Pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara.

TINJAUAN PUSTAKA

Pengawasan

Siagian (2009:59) pengawasan adalah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua pekerjaan yang sedang dilaksanakan berjalan sesuai rencana yang telah ditentukan sebelumnya.

Pengawasan merupakan kegiatan untuk mengetahui seberapa jauh perencanaan dapat dicapai atau dilaksanakan. Melalui pengawasan dapat dilakukan penyempurnaan, perbaikan kegiatan-kegiatan yang telah maupun belum sempat dilakukan seperti tercantum dalam perencanaan (Atmodiwirio, 2009;23). Ali (2012:51) Pengawasan adalah pengendalian pengawasan dan pengamatan dari pekerjaan yang dilakukan apakah sesuai dengan rencana yang ditentukan.

Pengawasan suatu kegiatan sistematis dengan berpedoman pada standar, tindakan koreksi, atau penyimpangan dari perencanaan yang telah ditetapkan. Pengawasan yang dilakukan meliputi pengawasan tujuan strategis pengawasan, mengamankan semua program pemerintah, dipatuhinya peraturan perundangan-undangan, dilaksanakannya kebijaksanaan yang telah ditetapkan.

Urian Tugas Mandor Sadap Bagian Perkebunan PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet

Uraian tugas mandor sadap yaitu membantu mandor besar afdeling untuk menggali produksi seoptimal mungkin dengan cara menggkoordinir penyadap yang dibawahinya untuk melaksanakan kegiatan penyadapan sesuai dengan teknis yang berlaku (PTPN VII Persero, 2014:12).

  1. Mengecek kehadiran penyadap setiap pagi
  2. Memeriksa kelengkapan peralatan sadap bawahannya
  3. Menerima dan mengawasi pengumpulan produksi hasil sadap bawahannya baik kualitas maupun kuantitas
  4. Memberikan penjelasan dan pengarahan kepada setiap penyadap mengenai mutu produksi baik latek maupun lump.
  5. Menekan kehilangan/loses produksi
  6. Menyusun rotasi penyadapan di kemandorannya

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini metode kualitatif untuk memahami fenomena yang dialami subjek penelitian secara holistik. Penelitian kualitatif tidak diarahkan pada kesimpulan untuk membuktikan suatu hipotesis ditolak atau diterima, dan tidak menguji hubungan antara variable, tetapi lebih ditekankan pada pengumpulan data untuk mendeskripsikan keadaan sesungguhnya (Soegiono (2008). Dalam penelitian ini akan digambarkan tentang permasalahan  fungsi Pengawasan Pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara.

Konsep dan Operasional Penelitian

Konsep Penelitian

Fungsi-fungsi manajemen menurut pakar di atas diperjelas sebagai berikut (Muninjaya, 2013).

  1. Planning (perencanaan)

Sebuah proses yang dimulai dengan merumuskan tujuan organisasi sampai dengan menyusun dan menetapkan rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan. Tanpa perencanaan tidak akan ada kejelasan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh staf untuk mencapai tujuan organisasi. Melalui perencanaan akan dapat ditetapkan tugas-tugas staf, dan dengan tugas-tugas ini seorang pimpinan akan mempunyai pedoman untuk melakukan  supervisi/pengawasan, dan menetapkan sumber daya yang dibutuhkan oleh staf untuk menjalankan tugas-tugasnya.

  1. Orgnizing (pengorganisasian)

Rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkan secara efisien untuk mencapai tujuan organisasi. Fungsi pengorganisasian juga meliputi proses mengintegrasikan semua sumber daya yang dimiliki oleh sebuah organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

  1. Actuating (pelaksanaan)

Proses memberikan bimbingan kepada staf agar mereka mampu bekerja secara optimal dalam melakukan tugas-tugasnya sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki dan dukungan sumber daya kesehatan yang mampu disediakan. Kejelasan komunikasi, pengembangan motivasi yang efektif dan penerapan kepemimpinan yang efektif akan sangat membantu suksesnya manager melaksanakan fungsi manajemen ini. Dalam hal ini, inti pokok fungsi manajemen ini adalah bagaimana manager mampu mengambangkan kebijakan dan strategi guna memacu motivasi kerja stafnya.

  1. Controling (pengawasan)

Proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi terhadap penyimpangan yang terjadi. Fungsi manajemen ini memerlukan perumusan standar untuk kerja staf yang jelas. Standar ini digunakan untuk menilai  hasil kegiatan staf atau unit kerja.

Operasional Penelitian

Secara konseptual Fungsi Pengawasan mandor pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara dilihat dari pelaksanaan tugas mandor, sebagai berikut:

  1. Mengecek kehadiran penyadap setiap pagi
  2. Memeriksa kelengkapan peralatan sadap bawahannya
  3. Menerima dan mengawasi pengumpulan produksi hasil sadap bawahannya baik kualitas maupun kuantitas
  4. Memberikan penjelasan dan pengarahan kepada setiap penyadap mengenai mutu produksi baik latek maupun lump.
  5. Menekan kehilangan/loses produksi
  6. Menyusun rotasi penyadapan di kemandorannya

Informan Penelitian

Informan dalam penelitian diambil sebanyak 12 orang yang terdiri dari 1 orang Asisten, 1 orang Mandor Besar, 5 orang Mandor dan 5 orang karyawan (1 orang per afdiling). Dalam hal ini informan penelitian dipilih yang terlibat langsung dengan Pelaksanaan Pengawasan Pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara. Teknik penentuan informan dalam penelitian menggunakan metode porposive sampling yaitu penentuan informan berdasarkan pertimbangan peneliti (Sugiyono, 2008).

Teknik Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini menggunakan tehnik analisis induktif yaitu untuk melakukan abstraksi setelah rekaman fenomena-fenomena khusus dikelompokkan menjadi satu. Tahapan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat alur kegiatan yang terjadi bersamaan, yaitu: pengumpulan data, analisa data secara keseluruhan, tampilkan data dan simpulan. Verifikasi merupakan proses siklus dan interaktif sehingga dilakukan secara berulang-ulang sampai ditemukan jawaban masalah yang diteliti (Sugiyono, 2008).

 

HASIL PEELITIAN DAN PEMBAHASAN

 Pengawasan yang dilakukan mandor pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara belum optimal dikarenakan mandor melakukan absensi pada karyawan sudah melebihi jam masuk yang seharusnya. Dimana seharusnya karyawan mulai melakukan penyadapan pada pukul 05.30 Wib, apabila karyawan banyak yang tidak masuk kerja atau masuk sudah melebihi jam 08:00 Wib akan mempengaruhi hasil produksi di afdilingnya masing-masing.

Dalam memeriksa kelengkapan peralatan sadap karyawan, hanya beberapa kali dalam 1 bulan dilakukan oleh mandor sehingga mandor tidak mengatahui karyawan yang tidak lengkap membawa peralatan sadap seperti batu asah. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kinerja karyawan dalam melakukan penyadapan.

Oleh karena itu hendakanya mandor selaku pengawas dapat mengoptimalkan tugasnya dengan mengabsen karyawan dalam setiap pagi sesuai waktu yang seharusnya. Selain itu juga pengawas harus memeriksa perlengkapan peralatan sadap dalam setiap pagi agar tidak ada lagi karyawan yang tidak lengkap membawa peralatan sadap. Bagi karyawan yang sering tidak masuk dan tidak membawa peralatan yang lengkap sebaiknya diberi peringataan dan sanksi, agar mereka dapat lebih disiplin dalam melaksanakan pekerjaan.

Selama ini sanksi karyawan PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara diberikan apabila dalam 1 bulan terdapat 2 kali mangkir, maka penyadap akan diberikan sanksi ringan seperti teguran secara lisan, penundaan kenaikan berkala atau golongan selama 1 tahun, pemotongan tunjangan sebesar 50% perbulan selama 12 bulan. Selain itu apabila karyawan  Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara dalam 1 bulan terdapat 2 kali mangkir, maka penyadap bersangkutan diberikan sanksi penurunan golongan 1 tingkat, pencabutan jabatan, penundaan kenaikan berkala atau golongan selama 1 tahun.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan uraian tugas mandor sadap yaitu membantu mandor besar afdeling untuk menggali produksi seoptimal mungkin dengan cara menggkoordinir penyadap yang dibawahinya untuk melaksanakan kegiatan penyadapan sesuai dengan teknis yang berlaku yaitu: Mengecek kehadiran penyadap setiap pagi, memeriksa kelengkapan peralatan sadap bawahannya, menerima dan mengawasi pengumpulan produksi hasil sadap bawahannya baik kualitas maupun kuantitas.

Selain mandor memberikan penjelasan dan pengarahan kepada setiap penyadap mengenai mutu produksi baik latek maupun lump, menekan kehilangan/loses produksi, dan menyusun rotasi penyadapan di kemandorannya. Pada saat melakukan pengarahan mandor memberikan pengarahan tentang masalah keberangkatan pada 05.30 wib sampai hanca setiap harinya, maksimal kerja karyawan 7 samap 8 jam dalam setiap hari, masalah pohon yang akan disadap, karyawan harus menyadap keseluruhan batang karet, apabila tidak dilakukan penyadapan keselurhan, maka hasil yang di peroleh tidak akan masksimal, dan interval penyadapan terlalu berat.

Menurut Agustina, (2014:34) potensi setiap sumber daya manusia yang ada dalam perusahaan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga mampu memberikan hasil yang maksimal. Perusahaan dan pegawai merupakan dua hal yang saling membutuhkan. Jika pegawai berhasil membawa kemajuan bagi perusahaan, keuntungan yang diproleh akan dipetik oleh kedua pihak. Bagi pegawai keberhasilan merupakan aktualisasi potensi sekaligus peluang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan bagi perusahaan, keberhasilan merupakan sarana menuju pertumbuhan dan perkembangan perusahaan. Tujuan yang dicapai perusahaan tidak akan terlepas dari peran dan andil setiap karyawan yang menjadi penggerak kehidupan perusahaan,  sehingga sudah selayaknya para pimpinan berusaha untuk dapat memahami kondisi para karyawannya.

Hal sesuai dengan pendapat Azwar (1996), untuk mendapatkan hasil pengawasan yang baik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi yaitu  pengawasan harus bersifat khas, pengawasan harus mampu melaporkan setiap penyimpangan, pengawasan harus fleksibel dan berorientasi pada masa depan, pengawasan harus mencerminkan keadaan organisasi, pengawasan harus mudah dilaksanakan dan hasil pengawasan harus mudah dimengerti.

Sedangkan Fiedler dalam Indrawijaya (1999), mengemukakan bahwa ada 3  (tiga) variabel situasi yang dapat menentukan efektifitas seorang pimpinan yaitu: Hubungan pimpinan dengan anggota/bawahan: berhubungan dengan seberapa baik tingkat penerimaan anggota kelompok terhadap pimpinan, Struktur tugas berkaitan dengan kerutinan dari pekerjaan para bawahan dalam arti telah dirumuskan, sehingga tidak membingungkan dan Posisi kekuasaan berhubungan dengan penyediaan kewenangan formal yang diberikan kepada pimpinan tersebut.

Fungsi pengawasan yang telah dilaksanakan adalah sebagai fungsi dari proses manajemen. Melalui fungsi pengawasan dan pengendalian, standart keberhasilan selalu harus dibandingkan dengan hasil yang telah dicapai atau yang mampu dikerjakan. Jika ada kesenjangan atau penyimpangan diupayakan agar dapat dideteksi. Kegiatan fungsi pengawasan dan pengendalian bertujuan agar efisiensi penggunaan sumber daya dapat lebih berkembang dan efektivitas tugas-tugas staf untuk mencapai tujuan program dapat lebih terjamin (Sastrohadiwiryo, 2012:78).

Sementara itu penelitian Widia Agustina (2014) dengan judul Dampak Pengawasan Dan Kepuasan Kerja dalam Mempengaruhi Disiplin Kerja Karyawan PT. Perkebunan Nusantara IV (PERSERO) Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan dan kepuasan kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap disiplin kerja karyawan, namun hasil uji parsial menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh terhadap disiplin kerja karyawan adalah kepuasan kerja, sedangkan pengawasan tidak berpengaruh terhadap disiplin kerja.

Menurut Ali (2012:51) pengawasan adalah pengendalian pengawasan dan pengamatan dari pekerjaan yang dilakukan apakah sesuai dengan rencana yang ditentukan. Pengawasan suatu kegiatan sistematis dengan berpedoman pada standar, tindakan koreksi, atau penyimpangan dari perencanaan yang telah ditetapkan. Pengawasan yang dilakukan meliputi pengawasan tujuan strategis pengawasan, mengamankan semua program pemerintah, dipatuhinya peraturan perundangan-undangan, dilaksanakannya kebijaksanaan yang telah ditetapkan.

Dalam pelaksanaan pengawasan sasaran yang akan dicapai adalah sebagai berikut (Kartasasmita, 1997): Meningkatkan disiplin, prestasi kerja dan pencapaian sasaran pelaksanaan tugas, Menekan hingga sekecil mungkin penyalahgunaan wewenang, Menekan hingga sekecil mungkin kebocoran dan pemborosan keuangan negara dan segala bentuk pungutan lainnya, Mempercepat penyelesaian perizinan dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat, dan Mempercepat kepengurusan kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Menurut pendapat Kartasasmita, (1997) faktor pengawasan melekat terdapat Faktor Pendorong Keberhasilan Pengawasan yaitu: Organisasi yang tepat sesuai dengan tugas pokok dan memenuhi kebutuhan pelaksanaan demi tercapainya sasaran, Sarana dan prasarana termasuk pembiayaan untuk mendukung kebutuhan pelaksanaan kegiatan, Adanya tindak lanjut dari hasil temuan pengawasan yang bersifat preventif atau refresif termasuk hukuman/justisia demi terjaminnya hasil guna pengawasan melekat, Penerapan Panca tertib di semua jajaran baik aparat pemerintahan maupun masyarakat, mampu mendorong kepada upaya penegakan disiplin nasional dan berfungsinya pengawasan melekat. Sedangkan Faktor Penghambat Keberhasilan Pengawasan yaitu: Budaya ewuh pakewuh dalam mengadakan kebijaksanaan pada eselon di bawah sangat menghambat tercapainya sasaran nasional dan Keteladanan dalam artian negatif dapat mempengaruhi lingkungan

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pengawasan yang dilakukan mandor pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara belum optimal dikarenakan mandor melakukan absensi pada karyawan sudah melebihi jam masuk yang seharusnya dan dalam memeriksa kelengkapan peralatan sadap karyawan hanya beberapa kali dalam 1 bulan. Temuan penelitian secara rinci sebagai berikut:

  1. Dalam melakukan pengawasan mengecek kehadiran karyawan penyadap dalam setiap pagi belum optimal.
  2. Memeriksa kelengkapan peralatan sadap bawahannya melaksanakan tugas belum optimal.
  3. Menerima dan mengawasi pengumpulan produksi hasil sadap bawahannya baik kualitas maupun kuantitas sudah optimal.
  4. Memberikan penjelasan dan pengarahan kepada setiap penyadap mengenai mutu produksi baik latek maupun lump sudah optimal.
  5. Berusaha menekan kehilangan/loses produksi hasil sadap pada karyawan yang bekerja sudah optimal.
  6. Menyusun rotasi penyadapan di kemandorannya dalam setiap hari sudah optimal.

Saran

Kepada mandor pada Bagian Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara hendaknya dapat mengoptimalkan tugasnya dalam melakukan pengawasan sesuai dengan Tupoksinya, khususnya dalam mengecek kehadiran keryawan lebih pagi dan dapat mengecek peralatan sadap karyawan dalam setiap pagi sebelum karyawan bekerja melakukan penyadapan. Selain itu Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara dapat memberikan teguran kepada mandor yang tidak disiplin dalam melaksanakan tugasnya.

Selain itu juga Perkebunan di PTPN VII Unit Usaha Perkebunan Karet Kabupaten Bengkulu Utara dapat mempertahankan dan lebih meningkatkan lagi pelaksanaan pengawasan yang sudah baik. Agar mutu produksi hasil sadapan karet dapat lebih berkualitas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Admodiwirio Soebagio. 2009. Manajemen Pendidikan Indonesia. Penerbit Ardadizya Jaya.  Jakarta.

Agustina, Widia. 2014. Dampak Pengawasan Dan Kepuasan Kerja Dalam Mempengaruhi Disiplin Kerja Karyawan PT. Perkebunan Nusantara IV (PERSERO) Medan. Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis Vol 14 No . 1 / Maret 2014 Fakultas Ekonomi – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara.

Ali Zaidin. 2012. Dasar-Dasar Manajemen. Edisi  I. Jakarta.

Azwar Azrul. 2010. Pengantar Administrasi. Binarupa Aksara: Jakarta

Hasibuan, S. P. Melayu. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi. Bumi Aksara: Jakarta.

Lembaga Administrasi Negara RI. 2003. Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia: Buku I Prinsip-Psinsip Penyelenggaraan Negara. Jakarta.

Moleong Lexy. J. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Kanisius. Bandung.

Muninjaya. 2013. Manajemen Sumber Daya Manusia.  EGC. Jakarta.

Sadono Sukirno dkk, 200. Pengantar Bisnis:Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

Sarwono dan Lubis. 2007. Metode Riset untuk Desain Komunikasi.  Penerbit Andi. Yogyakarta.

Sastrohadiwiryo, Siswanto. 2012. Manajemen Tenaga Kerja. PT Bumi Aksara. Jakarta.

Siagian, Sondang P. 2009. Filasafat Manajemen. PT Bumi Aksara. Jakarta.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Alfabeta. Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd