Jamban Sehat Atau Water Closed

Posted on : Maret 28, 2016 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |

Jamban Atau Water Closed (WC) Yang Sehat

Jamban atau water closed adalah suatu tempat pembuangan kotoran manusia baik tinja ataupun air kencing. Jamban yang sehat adalah tempat pembuangan kotoran manusia yang lazim disebut kakus atau WC, sehingga kotoran tersebut  tersimpan disuatu tempat tertentu dan tidak menjadi penyebab atau penyebar penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1989).

Macam-Macam Jamban atau Water Closed

Ada beberapa jamban atau water closed (WC) yang sesuai dengan standar kesehatan (Notoatmodjo, 2003), yaitu:

  1. Jamban Pupuk (The Compost privy). Pada prinsipnya jamban ini seperti kakus cemplung, hanya lebih dangkal galinya. Disamping juga jamban ini untuk membuang kotoran binatang dan sampah, daun-daunan, prosedurnya adalah sebagai berikut:
  2. Jamban Cemplung, Kakus ( Pit Latrin ). Jamban cemplung ini tidak boleh terlalu dalam sebab apabila terlalu dalam akan mengotori air tanah dibawahnya. Dalamnya pit latrine berkisar antara 1,5-3 meter saja dan jarak sumber air minum sekurang-kurangnya 15 meter.
  3. Jamban cemplung berventilsi ( Ventilasi Improved Pit Latrine). Jamban ini hampir sama dengan jamban cemplung bedanya lebih lengkap yakni menggunakan ventilasi pipa, untuk daerah pedesaan pipa ventilasi ini dapat terbuat dari bambu.
  4. Jamban Empang (Fishpond Latrine). Jamban ini dibangun diatas empang ikan. Didalam sistem jamban empang ini terjadi daur  ulang (Recycling) yakni tinja dapat dimakan langsung oleh ikan, ikan dimakan orang dan orang mengeluarka tinja yang dimakan ikan dan demikian seterusnya.
  1. Mula-mula membuat jamban cemplung biasa.
  2. Lapisan bawah sendiri ditaruh sampah daun-daunan.
  3. Diatas ditaruh kotoran-kotoran binatang (kalau ada tiap hari).
  4. Setelah kurang lebih 20 inchi ditutup lagi dengan daun-daunan sampah, selanjutnya ditaroh kotoran lagi.
  5. Demikian selanjutnya hingga penuh.
  6. Setelah penuh ditimbun tanah dan membuat jamban baru.
  7. Lebih kurang 6 bulan kemudian dipergunakan untuk pupuk tanaman.

Septic Tank

Latrin jenis septic tank ini cara paling memenuhi persyaratan, oleh sebab itu cara pembuangan tinja semacam ini dianjurkan. Septi Tank terdiri tengki sedimentasi yang kedap air dimana tinja dan air buangan masuk akan mengalami dekomposisi. Didalam tengki ini tinja akan berada selama beberapa hari. Selama waktu tersebut tinja akan mengalami 2 proses, yakni :

1.Proses Kimiawi

Akibat penghancuran tinja akan direduksi dan seagian besar (60%-70%) zat-zat padat akan mengendap didalam tengki sebagai “sludge”. Zat-zat yang tidak dapat hancur bersama-sama lemak dan busa akan mengapung dan membentuk lapisan yang munutup permukaan air didalam tengki tersebut, lapisan ini disebut “scum” yang berfungsi mempertahankan suasana anaerob dan fakultatif anaerob akan tumbuh subur dan berfungsi pada proses berikutnya.

2.Proses Biologis

Dalam proses ini terjadi dekomposisi melalui aktivitas bakteri anaerob dan fakultatif anaerob yang memakan zat-zat organik alam sludge dan scum. Hasilnya terbentuk gas dan zat cair lainya juga terjadi pengurangan volume sludge sehingga  memungkinkan septi tank tidak cepat penuh.

Jamban pedesaan di Indonesia dapat digolongakan menjadi 2 macam (Depertemen Kesehatan Republik Indonesisa, 1985) yaitu :

  • Jamban tanpa leher angsa

Jamban jenis ini mempunyi beberapa cara pembuangan kotoranya yakni:

1).  Bila kotoran dibuang ketanah jamban ini sering disebut jamban cemplung/cubuk.

2). Bila kotoran dibuang ke empang jamban ini bisa disebut jamban empang.

3). Bila kotoran dibuang ke Sungai disebut jamban Sungai.

4). Bila kotoran dibuang ke Laut disebut jamban Laut.

  • Jamban dengan leher angsa

Jamban ini mempunyai 2 cara yaitu:

1). Dimana tempat jongkok leher angsa berada langsung diatas lubang galian penampung kotoran.

2). Dimana tempat jongkok tidak berada langsung diatas lubang galian penampungan kotoran.

Syarat-Syarat Jamban Sehat

Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sebagai berikut (Sudrajad, 2008):

  1. Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan tanah yang ada disekitar jamban.
  2. Menghindarkan berkembang biaknya / tersebarnya cacing tambang dipermukaan tanah.
  3. Tidak memungkinkan berkembang biaknya lalat dan serangga lain.
  4. Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak menyedapkan.
  5. Mengusahakan kontuksi yang sederhana, kuat dan murah.
  6. Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd