Menstruasi

Posted on : Maret 29, 2016 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |

Pengertian

Menstruasi adalah pengeluaran darah dari alat kandungan secara teratur setiap bulan pada wanita yang sehat dan tidak hamil (Prawirohardjo, 2005). Manuaba (1998) mengatakan menstruasi adalah pengeluaran darah secara teratur dari alat kandungan yang merupakan tanda kematangan alat reproduksi wanita. Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan (Awan, 2008).

Berdasarkan definsi diatas dapat disimpulkan menstruasi adalah proses pengeluaran darah haid dari alat kandungan setiap bulan secara teratur, dan terjadi pada wanita yang tidak hamil.

Manuaba (1998) mengatakan kejadian menstruasi dipengaruhi beberapa faktor yang mempunyai  system tersendiri yaitu :

  • Sistem susunan saraf pusat dan panca inderanya.
  • System hormonal : aksis hipotalamo-hipofisis-ovarial.
  • Perubahan yang terjadi pad aovarium.
  • Perubahan yang terjadi pada uterus sebagai organ akhir.
  • Rangsangan estrogen dan progesterone pada panca indera, langsung pada hipotalamus dan melalui perubahan emosi.

Fisiologi Menstruasi

Menurut Prawirohardjo (2001), pada setiap siklus menstruasi FSH (Foficecle Stimulating Hormone) dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis yang menimbulkan beberapa folikel primer yang dapat berkembang di ovarium. Umunya salah satu folikel kadang-kadang juga lebih 1     berkembang menjadi folikel de graaf yang membuat estrogen. Estrogen menekan FSH sehingga lobus anterior hipofisis dapat mengeluarkan hormone gona dotropin yang kedua yakni LH (Luteinizing hormone) yang produksi kedua hormone gonadoptrin yang kedua yakni LH (Luteinizing hormone) yang produksi kedua hormon gonadoptropin ini (FSH dan LH) dibawah pengaruh RH (Releasing Hormone) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofisis. Penyaluran RH sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan baik estrogen terhadap hipotalamus. Bila penyaluran RH normal maka produksi gonadotropin akan baik sehingga folikel de graff akan lenih matang.

Estrogen dapat menyebabkan endometrium tumbuh dan berproliferasi. Di bawah pengaruh LH folikel de graaf menjadi lebih matang, mendekati ovarium dan kemudian terjadilah ovulasi (ovum di lepas oleh ovarium). Pada ovulasi ini kadang-kadang terdapat perdarahan sedikit disebut inter menstrual poin. Setelah ovulasi terjadi maka dibentuklah korpus luteum (warnanya menjadi kuning karena pengaruh LH dan LTH).

Korpus luteum menghasilkan hormon progesteron. Progesteron ini mempunyai pengaruh terhadap endometrium yang telah berproliferasi dan menyebabkan kelenjar berkeluk dan bersileresi (masa sekresi). Bila tak ada pembuahan korpus luteum berdegenarasi dan mengakibatkan kadar estrogen dan progesteron menurun yang menimbulkan efek pada arteri yang berkeluk-keluk di endometrum. Setelah itu, terjadi degenerasi serta pendarahan dan pelepasan endometrium yang rekrorik.

Stadium Menstruasi

Siklus menstruasi menurut Manuaba (1998) dibagi menjadi 3 fase yaitu:

  • Stadium menstruas

Berlangsung sekitar 3 – 5 hari, lapisan stratum kompakta dan spongiosa dilepaskan, tetinggal lapisan stratum basalis 0,5 mm. Jumlah perdarahan sekitar 50 cc tanpa terjadi pembekuan darah karena banyak mengandung fermen dan nila terdapat gumpalan darah menunjukkan perdarahan menstruasi cukup banyak.

  • Stadium regenerasi

Stadium ini dimulai hari keempat menstruasi dimana luka bejas deskuamasi endometrium ditutup kembali epitel selaput lende endometrrium. Sel basali mulai berkembang, mengalami mitosis  dan kelenjar endometrium mulai tumbuh sekali ?

  • Stadium proliferasi

Pada stadium proliferasi lapisan endometrium pertumbuhan kelenjarnya lebih cepat dari jaringan ikatnya sehingga berkelok-kelok. Lapisan atasnya tempat saluran kelenjar yang berkelok menjadi lebih longgar disebut stratum spongiosa. Stadium proliferasi berlangsung sejak hari ke 6 – 14 dan tebal endometrium.

  • Stadium pramenstruasi (sekresi)

Pada stadium regenerasi sampai stadium proliferasi endometrium dipengaruhi oleh hormone estrogen dan sejak saat ovulasi korpus luteum nmengeluarkan hormone estrogen dan progesterone yang mempengaruhi endometrium ke dalam stadium sekresi. Dalam stadium sekresi tebal endometrium tetap hanya kelenjarnya lebih berkelok-kelok dan mengeluarkan secret. Disamping itu, sel endometrium mengandung banyak glikogen, protein, air dan mineral sehingga siap untuk menerima implantasi dan memberikan nutrisi pada zigot.

Stadium sekresi berlangsung sejak hari ke 14 – 28 dan umur korpus luteum hanya berlangsung 8 hari. Setelah mencapai umur 8 hari korpus luteum mengalami kematian sehingga tidak mengeluarkan hormone estrogen dan progesteron dan menimbulkan iskemia stratum kompakta dan stratum spongiosa. Stadium iskemia berlangsung sebentar dan di ikuti stadium vasodilatasi pembuluh darah yang menyebabkan deskuamasi lapisan-lapian endometrium dalam bentuk perdarahan menstruasi. Setelah deskuamasi berlangsung 4 hari diikuti stadium regenerasi dan siklus menstruasi berulang kembali

  • Gangguan menstuasi

Gangguan haid dan siklusnya khusus dalam masa reproduksi menurut Prawirohardjo(2005) dapat di golongkan sebagai berikut :

  • Kelainan dalam bayaknya darah dan lamanya perdarahan haid yaitu hipermenore dan hipomenore.
  • Kelainan pada siklus haid yaitu polimenore, oligomenore dan amenora.
  • Perdarahan diluar haid yaitu metroragia
  • Gangguan lain yang ada hubungan dengan haid antara lain premenstrual tension, mastodonia, mittelschnerz rasa nyeri saat ovulasi ) dan disminorhe,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd