Penyakit Tifus Abdominalis

Posted on : Maret 29, 2016 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |

Tifus Abdominalis adalah penyakit infeksi usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama atau menyebabkan enteritis akut (Noer Foellah, 1996). Tifus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 1997). Tifus Abdominalis adalah infeksi akut usus halus disebabkan oleh kuman Salmonella Thyposa (Mansjoer, 1999).

 Anatomi Fisiologi

Usus halus atau intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pylorus dan berakhir pada sekum, panjangnya 6 meter, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorpsi hasil pencernaan yang terdiri dari : lapisan usus halus antara lain : lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (Muskulus sirkuler), lapisan otot memanjang (Muskulus longitudinal), lapisan serosa (sebelah Luar).

Bagian usus halus terdiri atas :

  1. Duodenum, disebut juga usus 12 jari, panjang 25 cm, berbentuk sepatu kuda yang melengkung ke kiri, pada lengkungan terdapat pankreas.
  2. Yeyenum, dimana dua per-lima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang 2-3 meter.
  3. Ileum, panjang 4-5 meter, ujung bawah Ileum berhubungan dengan sekum. Lekukan yeyenum dan Ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantara lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai

tipes

Adapun fungsi usus halus adalah :

  1. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran limfe.
  2. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
  3. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida. (Syaifuddin, 1996).

Etiologi

Penyebab Tifus Abdominalis adalah Sallmonella Typhi dan Sallmonella Paratyphi A, B dan C, ini disebabkan kuman bergerak dengan rambut getar dan tidak berspora, mempunyai 3 macam antigen O (somatik terdiri zat kompleks), antigen H (flagella) dan V1. Dalam serum penderita terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. (Yuliana, Suriadi, 2001).

Patofisiologi

Masuknya kuman Salmonella tyhpi (S. typhi) dan Salmonella paratyphi  (S. paratyphi) kedalam tubuh manusia terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam lambung, sebagian lolos masuk ke dalam usus dan selanjutnya berkembangbiak. Bila respons imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel (terutama sel-M) dan selanjutnya ke lamina propia. Di  lamina propia  kuman berkembangbiak dan difagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plague peyeri ileum distal dan kemudian  ke kelenjar getah bening mesentrika. Selanjutnya melalui duktus torasikus  kuman yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang asimtomatik) dan menyebar keseluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembangbiak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk kedalam sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.

Di dalam hati kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembangbiak dan bersama cairan empedu diekskresikan secara “intermittent” ke dalam lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskuler, gangguan mental dan koagulasi.

Di dalam plague payeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hyperplasia jaringan (S.typhi intra makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat, hyperplasia jaringan dan nekrosis organ). Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah sekitar  plague peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hyperplasia akibat akumulasi sel-sel mononuclear di dinding usus. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang  hingga kelapisan otot, serosa usus dan  dapat mengakibatkan  perforasi.

Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya  komplikasi  seperti gangguan neuropsikiatrik, kardiovaskuler, pernapasan, dan gangguan  organ lainnya (Bambang Setiyohadi, 2006).

Gejala Klinis

Masa inkubasi Tifus Abdominalis berlangsung 10-14 hari. Gejala-gejala yang timbul amat variasi atau tidak khas. Manifestasi klinis Tifus Abdominalis tidak hanya mengalami perubahan selama lebih dari 20 tahun terakhir (Bambang Setiyohadi, 2006).

Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala klinis serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demam, sakit kepala, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan epitaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan peningkatan suhu tubuh.

Setelah minggu ke dua maka gejala menjadi jelas berupa demam yang tinggi terus menerus biasa mencapai 400C, bradikardi relatif, lidah yang khas kotor di tengah, tepi dan ujung merah dan tremor, hepatomegali, splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa samnolen, stupor, koma, delirium dan roseolae yang jarang ditemukan khususnya pada bagian abdomen, tanda yang juga terdapat pada daerah dada dan punggung ini akan terlihat memudar bila ditekan.

Dalam minggu ketiga suhu badan berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir pada minggu ke tiga.

Gejala klinis yang ditemukan yaitu :

  • Demam

Pada kasus yang khas, demam berlangsung tiga minggu bersifat demam  reminten dan suhu tidak seberapa tinggi selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur meninggi setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat pada sore dan malam hari.

  • Gangguan pada Saluran Pencernaan

Pada mulut terdapat bau yang tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepinya kemerahan, jarang disertai tremor. Pada abdomen ditemukan keadaan perut kembung, hepatomegali, splenomegali dan disertai nyeri pada perabaan.

  • Gangguan Kesadaran.

Umumnya kesadaran menurun walaupun berapa dalam yaitu apatis  sampai samnolen, jarang terjadi soppor, koma atau gelisah ditemukan pada minggu kedua. Di samping gejala-gejala yang biasa ditemukan tersebut, ditemukan gejala lain pada punggung dan anggota gerak  serta bintik-bintik kemerahan karena adanya embolitosil dalam kapiler kulit, kadang juga ditemukan bradikardi ( Noer Foellah, 1996 ).

 Pemeriksaan Penunjang

  • Pemeriksaan Leukosit

Pada kebanyakan kasus Tifus Abdominalis jumlah leukosit pada persediaan darah tepi berada pada batas normal. Kadang-kadang Leukositosis, oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna pada pemeriksaan diagnosis Tifus Abdominalis (normal 4.000-10.000 / mm3).

  • Pemeriksaan Widal test

Hasilnya positif (+) yaitu terdapat aglutinasi pada antigen O yang bersel dari tubuh kuman dan aglutinasi pada antigen H berasal dari flagella kuman (normal negatif) jika hasil tinggi 1/320, jika hasil sedang 1/160, jika hasil rendah 1/80.

  • Pemeriksaan urine dan feses

Dilaksanakan pada minggu kedua, yaitu PO leukosit sedimen urobilin dan reduksi yang biasanya negatif ( Noer Foellah, 1996 ).

Penatalaksanaan

  • Perawatan

Penderita Tifus Abdominalis perlu di rawat di rumah sakit untuk isolasi, observasi serta pengobatan. Penderita harus tirah baring absolut 5-7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari, maksud dari tirah baring adalah untuk mencegah terjadinya komplikasi pendarahan usus atau perforasi usus. Mobilisasi klien dilakukan secara bertahap sesuai dengan pulihnya kesadaran. Posisi tidur harus diubah-ubah untuk mencegah terjadinya dekubitus, mobilisasi dilakukan secara bertahap yaitu :

Duduk       : Pada hari kedua bebas panas

Berdiri       : Pada hari ketujuh bebas panas

Berjalan     : Pada hari kesepuluh bebas panas

  •  Diit

Pada penderita Tifus Abdominalis bahan makanan tidak boleh mengandung banyak serat, tidak merangsang dan tidak menimbulkan gas, diit yang diberikan adalah bubur saring untuk menghindari komplikasi pendarahan, perporasi usus. Setelah bebas panas dapat diberikan bubur biasa dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan klien.

  • Obat

Antibiotik yang sering dipergunakan :

  1. Kloramfenikol. Merupakan obat yang terbaik, dosis hari pertama sebanyak 4 x 250 mg, dosis hari kedua sampai hari ketujuh bebas panas 4 x 500 mg atau selama 14 hari dengan penggunaan obat kloramfenikol demam turun rata-rata setelah lima hari.
  2. Tiamfenikol. Dosis dari efektivitas tiamfenikol sama dengan kloramfenikol, dengan tiamphenicol demam akan turun rata-rata 5-6 hari.
  3. Kotrimoksazol. Dosi untuk orang dewasa 2 x 2 tablet sehari, digunakan sampai hari ke tujuh bebas panas, Kotrimoksazol demam turun rata-rata 5-6 hari.
  4. Ampisilin dan Amoksisillin. Efektifitas ampisilin dan amoksisilin lebih kecil dibanding kloramfenikol, dosis yang dianjurkan berkisar 75-150 mg/kg BB/ hari, digunakan sampai tujuh hari bebas panas, demam rata-rata turun setelah tujuh hari sampai sembilan hari, (Sjaifoellah, 1996)

Komplikasi

Menurut Sjaifoellah (1996), Tifus Abdominalis dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

Komplikasi intestinal

  • Pendarahan usus. Pendarahan sedikit hanya ditemukan jika dilakukan  pemeriksaan tinja dengan benzidin, jika pendarahan banyak terjadi dapat disertai tanda- tanda renjatan.
  • Perforasi Usus. Perforasi biasanya timbul pada minggu ketiga atau setelahnya dan terjadi pada bagian distal ileum, perforasi yang tidak disertai peritonitis hanya dapat ditemukan bila terdapat udara di rongga peritoneum, yaitu tukak hati menghilang dan terdapat diantara hati dan diafragma pada photo rountgen yang dibuat dalam keadaan terbuka.
  • Ileus Paratilitik. Biasanya menyertai perforasi tetapi dapat terjadi tanpa perforasi usus. Ditemukan gejala, abdomen akut yaitu nyeri yang hebat, dinding abdomen tegang (Defense Musculus) dan nyeri tekan.

Komplikasi Ekstra Intestinal

  • Komplikasi Kardiovaskuler. Kegagalan sirkulasi perifer (rejatan sepsis) miokarditis, trombosis dan tromboflebitis.
  • Komplikasi Darah. Anemia hemolitik trombositopenia atau dessiminated intravasculer coalugution dan sindrom uremia hemolitik.
  • Komplikasi Paru. Pneomonia, empiema dari pleuritis.
  • Komplikasi Hepar dan Kandung Kemih. Hepatitis dan kolesistitis.
  • Komplikasi Ginjal. Glomerulonefritis, pielonefritis, dan perineritis
  • Komplikasi Tulang. Osteomielitis, spondilitis, dan artritis.
  • Komplikasi Neuropsikiatrik Delirium, meningismus, meningitis dan psikosis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd