Konsep Luka Bakar

Posted on : Maret 30, 2016 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |

Pengertian

Luka bakar adalah perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh yang dipindahkan melalui konduksi atau radiasi elektromagnetik (Effendi, 1999). Luka bakar adalah kerusakan jaringan karena tenaga, suhu, listrik, dan kimia dari tak berarti sampai luas, yang menyangkut satu atau banyak organ dan sistem tubuh (Boswick, 1998). Luka bakar adalah lesi jaringan yang terjadi karena suhu yang tinggi (Markum, 1997).

Klasifikasi Luka Bakar

Menurut effendi (1999), keparahan cidera luka bakar diklasifikasikan berdasarkan pada resiko mortalitas dan resiko kecacatan fungsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi keparahan cidera termasuk sebagai berikut :

  • Cidera luka bakar mayor. Pasien dengan luka bakar mayor biasanya dibawa ke fasilitas perawatan luka bakar khusus, setelah mendapatkan perawatan kedaruratan di tempat kejadian. Cidera luka bakar mayor adalah setiap dari yang berikut :
  • Cidera luka bakar minor. Luka bakar derajat 1-2 yang luasnya < 15% LPTT (Luas Permukaan Tubuh Total) pada orang dewasa dan 10% LPTT pada anak atau luka bakar derajat 3 yang luasnya < 2% LPTT. Pasien dengan luka bakar minor biasanya mendapatkan perawatan awal di unit gawat darurat kemudian dipulangkan dengan instruksi tindak lanjut di bagian rawat jalan.
  • Keparahan luka bakar. Cidera luka bakar dapat berkisar dari lepuh besar sampai luka bakar massif derajat III. Cidera luka bakar dikategorikan ke dalam luka bakar minor, sedang dan mayor.
  • Cidera luka bakar sedang. Luka bakar derajat 2-3 yang terkomplikasi dengan luas 15% sampai 25% dari LPTT pada orang dewasa atau 10% sampai 20% LPTT pada anak-anak atau luka bakar derajat 3 < 10% LPTT yang tidak berhubungan dengan komplikasi. Pasien dengan luka bakar sedang umumnya ditangani di bagian rawat inap.
  1. Cidera luka bakar derajat 1-2 > 25% LPTT pada orang dewasa luka bakar atau 20% LPTT pada anak-anak
  2. Cidera luka bakar derajat 3-10% LPTT atau lebih
  3. Luka bakar yang mengenai tangan, wajah, mata, telinga, kaki, dan perineum
  4. Cidera inhalasi
  5. Cidera listrik
  6. Luka bakar yang berkaitan dengan cidera lain misalnya cidera jaringan lunak, fraktur, trauma, dan lain-lain.
  • Kedalaman luka bakar. Kerusakan kulit akibat luka bakar seringkali digambarkan sesuai dengan kedalaman cidera dan digolongkan dengan istilah ketebalan partial dan ketebalan penuh, yang berhubungan dengan berbagai lapisan kulit.
  1. Luka bakar ketebalan partial superficial (luka bakar derajat I), merusak epidermis. Luka bakar akibat terjemur matahari contoh dari tipe ini.
  2. Luka bakar ketebalan partial dalam (luka bakar derajat II) mengenai lapisan epidermis dengan dermis, termasuk kelenjar keringat dan sebasea, syaraf sensoris dan motorik, kapiler, folikel rambut.
  3. Luka bakar ketebalan penuh (luka bakar derajat III) mengenai lapisan lemak. Lapisan ini mengandung kelenjar keringat dan akar folikel rambut, semua lapisan epidermis mengalami kerusakan. Jaringan yang terkena yaitu semua yang diatas dan bagian lemak subcutan, dapat mengenai jaringan otot.
  1. Lokasi luka bakar

Luka bakar pada kepala, leher, dan dada seringkali mempunyai kaitan dengan komplikasi pulmonal. Luka bakar yang mengenai wajah sering menyebabkan abrasi kornea. Luka bakar pada telinga membuat mudah terserang kondritis auricular dan rentan terhadap infeksi serta kehilangan jaringan lebih lanjut. Luka bakar pada tangan dan persendian sering membutuhkan therapy fisik dan okupasi yang lama dan memberikan dampak kehilangan waktu untuk bekerja dan atau kecacatan fisik menetap serta kehilangan pekerjaan. Luka bakar pada area parineal membuat mudah terserang infeksi akibat autokontaminasi oleh urine dan feces. Luka bakar sirkumferensial ekstremitas dapat menyebabkan efek seperti penebalan pembuluh darah dan mengarah pada gangguan vaskuler distal. Luka bakar sirkumferensial thorak dapat mengarah pada inadekuat ekspansi dinding dada dan insufisiensi pulmonal.

  1. Agen penyebab luka bakar

Luka bakar juga diklasifikasi berdasarkan agen yang menyebabkan terjadinya luka bakar termasuk termal, listrik, kimia, dan radiasi. Pada situasi tertentu (misalnya kebakaran rumah, ledakan mobil atau seperti timbulnya awan panas, gunung merapi) akan mengakibatkan pasien tidak hanya mengalami luka bakar, tetapi juga menghirup udara panas dan atau keracunan karbonmonoksida (CO). Kondisi yang demikian akan mengakibatkan pasien mengalami gangguan pada saluran pernafasan yang dapat menjadi penyebab kegagalan pernafasan sehingga menimbulkan kematian.

  1. Ukuran luka bakar

Ukuran luka bakar (persentase cidera pada kulit) ditentukan dengan salah satu dari metode : (a) rule of nine dan (b) diagram bagan Lund dan Browder yang spesifik dengan usia. Ukuran luka ditunjukkan dengan persentase LPTT (Luas Permukaan Tubuh Total). Ketepatan penghitungan bervariasi bergantung pada metode yang digunakan untuk memperkirakan luasnya luka bakar yang terjadi.

  • Gejala Klinis

Gejala luka bakar ini dapat dilihat dari dalamnya, lamanya kontak dan luas luka bakar itu sendiri (Effendi, 1999).

  1. Luka bakar ketebalan partial superfisial (derajat I). Keadaan luka kering, tidak ada lepuh, warna merah pink, memutih dengan tekanan. Pada awalnya terasa nyeri dan kemudian gatal akibat stimulasi receptor sensoris. Biasanya akan sembuh dengan spontan tanpa meninggalkan jaringan parut.
  1. Luka bakar ketebalan partial dalam (derajat II). Keadaan luka basah, warna pink atau merah, sebagian memutih, ada lepuh serta edema subcutan. Luka bakar ini akan terasa nyeri dan sensitive terhadap tekanan. Penyembuhan terjadi sekitar 23-25 hari. Jika luka ini mengalami infeksi atau suplai darahnya mengalami gangguan maka luka ini akan berubah menjadi luka bakar ketebalan penuh.
  1. Luka bakar ketebalan penuh (derajat III). Luka akan tampak berwarna putih, merah, coklat atau hitam dan kulit terkelupas. Luka tidak akan menimbulkan rasa nyeri karena semua reseptor sensoris telah mengalami kerusakan total. Penyebab lazim yaitu nyala api yang berkepanjangan, listrik, kimia, dan uap panas. Penyembuhan tidak dapat beregenerasi sendiri, membutuhkan tandur kulit.
  • Katagori

Menurut Hudak dan Gallo (2000), luka bakar dapat dikategorikan berdasarkan mekanisme terjadinya, yaitu.

  1. Luka bakar termal. Disebabkan oleh nyala api, cairan panas, logam panas, minyak panas, sinar matahari, dan sinar ultraviolet.
  1. Luka bakar listrik. Disebabkan terjadi karena arus voltase yang membangkitkan panas energi listrik.
  1. Luka bakar kimia. Disebabkan oleh kontaknya jaringan asam kuat, alkali, atau bahan campuran organik.
  1. Luka bakar radiasi. Disebabkan oleh terbukanya sumber radioaktif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd