PENGARUH MANAJEMEN LABA NYATA TERHADAP RELEVANSI NILAI LABA

Posted on : April 13, 2016 | post in : HASIL PENELITIAN |Leave a reply |

Abstract

This study aimeds to identify effect of the real earnings management on operating cash flow, discretionary cost, and production costs, and the effect of real earnings management on value relevance of earnings. Based on purposive sampling method, 58 samples (522) observation were selected. This study used data from non-financial companies listed in BEI.

 The results of this study is real earnings management negatively effect operating cash flow, but did not find the real earnings management have negative effect on discretionary expenses. Thus, there is not evidence that real earnings management positive influence production costs. This study also didn’t found evidence that companies’s suspect has a lower value relevance of earnings than unsuspect company.

Keywords: real earnings management, the value relevance of earnings, abnormal cash flow from operations, abnormal discretionary expenses, and abnormal production costs.

Latar Belakang Masalah

            Laporan keuangan merupakan catatan informasi keuangan perusahaan pada suatu periode akuntansi yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan. Menurut FASB (1978) melalui Statement of Financial Accounting Concepts No.1 menetapkan tujuan utama pelaporan keuangan yaitu menyediakan informasi yang relevan bagi pengambilan keputusan investor, untuk mencapai tujuannya maka laporan keuangan yang diterbitkan suatu perusahaan harus mengungkapkan kondisi perusahaan yang sebenarnya dan mempunyai relevansi nilai. Beaver (1968) memberikan definisi mengenai relevansi nilai sebagai kemampuan menjelaskan (explanatory power) dari informasi akuntansi dalam kaitannya dengan nilai perusahaan.

            Relevansi nilai dalam laporan keuangan tersebut berupa relevansi nilai laba dan relevansi nilai buku yang dijadikan sebagai alat pengukur kinerja perusahaan oleh para investor. Beberapa penelitian mengenai relevansi nilai  (misalnya,  Jones, 1991; Ohlson, 1995; Dechow  et al., 1995; Burgstahler dan Dichev, 1997; Francis dan Schipper, 1999; Barth et al., 1999; serta Marquardt dan Wiedman, 2004), menyatakan relevansi nilai tergantung dari kualitas informasi yang tersedia.  Permasalahan yang berhubungan dengan relevansi nilai, yaitu apakah kualitas informasi yang disajikan sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Kualitas informasi berhubungan dengan perilaku  penyusun laporan keuangan perusahaan yaitu pihak manajemen. Pihak manajemen mampu untuk melakukan sistem pelaporan dengan teknik manipulasi berupa manajemen laba, agar kinerja perusahaan terlihat baik oleh investor. Penilaian kinerja melalui komponen angka laba dan nilai buku dijadikan pedoman bagi para investor untuk membuat keputusan-keputusan ekonomi melalui informasi keuangan yang relevan, namun parameter kinerja perusahaan yang mendapatkan perhatian utama para investor sebelum membuat keputusan investasi adalah angka laba, sehingga ketika pihak manajemen melakukan manajemen laba maka akan berpengaruh terhadap relevansi nilai laba.

Umumnya terdapat dua alat manajemen laba yang banyak diteliti , yaitu manajemen akrual dan manipulasi aktivitas riil (Rahmawati dkk, 2010). Topik pada penelitian ini fokus terhadap manajemen laba nyata karena dari kedua alat manajemen laba berupa manajemen akrual dan manajemen laba nyata pada praktiknya kebanyakan manajemen laba nyata menjadi pilihan untuk dilakukan oleh para manajer dibandingkan dengan manajemen akrual, dikarenakan manajemen laba akrual memberikan risiko terdeteksi dengan mudah oleh auditor, investor ataupun badan pemerintah sehingga dapat berdampak pada harga saham bahkan menyebabkan kebangkrutan atau kasus hukum, maka dalam praktiknya pihak manajer akan lebih memilih melakukan tindakan manajemen laba nyata yang dapat dilakukan sepanjang tahun  dan sulit dideteksi dibandingkan manajemen secara akrual. Berdasarkan pengertiannya manajemen laba nyata merupakan tindakan memanipulasi angka laba melalui aktivitas riil perusahaan sehari-hari, selama periode akuntansi berjalan yang dilakukan oleh pihak manajer. Manajemen laba nyata dapat terjadi ketika manajer berkeinginan untuk meningkatkan laba yang dilaporkan, dengan melakukan tindakan menyimpang dari praktik operasi normal perusahaan melalui manipulasi atas tiga aktivitas rill, aktivitas tersebut meliputi melalui arus kas kegiatan operasi (Cash Flow Operation), biaya produksi, dan biaya diskresioner (Sahabu, 2009).

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan ,maka masalah yang di angkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Apakah manajemen laba nyata  berpengaruh negatif terhadap arus kas operasi (Cash Flow Operation)?
  2. Apakah manajemen laba nyata berpengaruh negatif terhadap biaya diskresioner?
  3. Apakah manajemen laba nyata berpengaruh positif terhadap biaya produksi?
  4. Apakah perusahaan yang melakukan manajemen laba nyata memiliki relevansi nilai laba yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan manajemen laba nyata?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk membuktikan bahwa manajemen laba nyata berpengaruh negatif terhadap arus kas operasi (Cash Flow Operation).
  2. Untuk membuktikan bahwa manajemen laba nyata berpengaruh negatif terhadap biaya diskresion
  3. Untuk membuktikan bahwa manajemen laba nyata berpengaruh positif terhadap biaya produksi.
  4. Untuk membuktikan bahwa perusahaan yang melakukan manajemen laba nyata memiliki relevansi nilai laba yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan manajemen laba nyata.

 

Pengembangan Hipotesis dan Manajemen Laba

Pengembangan hipotesis memerlukan teori-teori dan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Perumusan hipotesis dalam penelitian ini dinyatakan dalam hipotesis alternatif yang dikembangkan sebagai berikut :

  • Arus Kas Operasi dan Manajemen Laba Nyata

Menurut Roychowdhury dalam Fazeli dan Rasouli (2011) dijelaskan bahwa metode yang dilakukan agar arus kas operasi berada pada target abnormal adalah memanajemen penjualan dengan memberikan potongan harga yang berlebihan dan kelonggaran jatuh tempo pembayaran penjualan kredit untuk meningkatkan penjualan. Roychowdhury (2006) juga menemukan bahwa manajemen laba nyata berpengaruh negatif terhadap arus kas kegiatan operasi.

Menurut Gunny (2005) dalam penelitiannya menyatakan aktivitas manajemen laba nyata berpengaruh negatif  terhadap arus kas kegiatan operasi dan Return on Assets perusahaan yang akan datang dan return perusahaan yang akan datang. Aprilia (2010) menyatakan perusahaan  di  Indonesia  terindikasi  secara  signifikan  melakukan manajemen laba nyata atas arus kas operasi pada saat right  issue. Fazeli dan Rasouli (2011) menyatakan setelah mengontrol tingkat penjualan, perusahaan yang melakukan manajemen laba nyata (suspect) memiliki arus kas operasi yang lebih rendah.

Melalui manajemen penjualan, maka penjualan secara temporer akan meningkat dalam tahun berjalan dengan tujuan untuk meningkatkan laba dalam pencapaian target laba, tindakan yang dilakukan dalam mempercepat metode ini adalah percepatan waktu penjualan dan atau perolehan tambahan penjualan melalui potongan harga dan kredit yang lebih ringan. Volume penjualan yang meningkat menyebabkan laba tahun berjalan tinggi namun arus kas menurun karena kas masuk kecil akibat adanya penjualan kredit dan potongan harga.

Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini yaitu :

H1 :     Manajemen laba nyata berpengaruh negatif terhadap arus kas operasi (Cash Flow Operation) .

  • Biaya Diskresioner dan Manajemen Laba Nyata

Metode yang dilakukan dalam melakukan manajemen laba nyata atas biaya diskresioner adalah dengan melakukan pengurangan biaya diskresioner (Roychowdhury, 2006). Teknik manajemen laba nyata atas biaya diskresioner ini akan berpengaruh negatif, karena semakin besar tingkat manajemen laba nyata yang dilakukan perusahaaan, maka biaya diskresioner akan semakin rendah. Penelitian Dechow dan Sloan (1996) menyatakan bahwa manajer mengurangi biaya riset dan pengembangan pada akhir masa jabatan untuk meningkatkan laba jangka pendek. Bushee (1998) menemukan bukti bahwa dengan mengurangi biaya riset dan pengembangan akan meningkatkan laba, kemudian Fazeli dan Rasouli (2011) menyatakan setelah mengontrol tingkat penjualan, perusahaan yang melakukan manajemen laba nyata (suspect) memiliki biaya diskresioner yang lebih rendah.

Biaya diskresioner timbul dari keputusan penyediaan anggaran secara berkala (biasanya tahunan) yang secara langsung mencerminkan kebijakan manajemen puncak mengenai jumlah maksimum biaya yang diizinkan untuk dikeluarkan dan biaya tersebut tidak dapat menggambarkan hubungan yang optimum antara masukan dengan keluaran (yang diukur dengan volume penjualan, jasa atau produk). Biaya diskresioner hanya dapat dihentikan pengeluarannya atas kebijakan manajemen.

Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini yaitu :

H2:      Manajemen laba nyata berpengaruh negatif terhadap biaya diskresioner.

  • Biaya Produksi dan Manajemen Laba Nyata

Metode yang digunakan dalam melakukan manajemen laba nyata melalui biaya produksi ini adalah produksi berlebih (overproduction), sehingga menimbulkan pengaruh positif terhadap biaya produksi yang tinggi. Menurut penelitian Fazeli dan Rasouli (2011) menyatakan setelah mengontrol tingkat penjualan, perusahaan yang melakukan manajemen laba nyata (suspect) memiliki biaya produksi yang tinggi. Thomas dan Zhang (2002) menyatakan  bahwa perusahaan melakukan produksi besar-besaran dengan tujuan untuk meningkatkan laba yang dilaporkan.

Penelitian Andayani (2008) menyatakan bahwa perusahaan manufaktur melakukan overproduksi, memberi diskon dan kelonggaran kredit sebagai indikasi adanya manajemen laba  nyata menyebabkan biaya produksi menjadi tinggi. Teknik overproduksi dilakukan dengan cara memproduksi lebih banyak barang dari yang diperlukan untuk memenuhi permintaan yang diharapkan, maka laba akan meningkat sehingga biaya overhead tetap dapat dialokasikan kepada jumlah unit yang lebih besar dan biaya tetap per unitnya akan menjadi lebih rendah dan harga pokok penjualan untuk memproduksi barang pun akan lebih kecil (Rowchowdhury, 2006).

Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini yaitu :

H3:      Manajemen laba nyata berpengaruh positif terhadap biaya produksi.

  • Relevansi Nilai Laba dan Manajemen Laba Nyata

Relevansi nilai akuntansi dicirikan oleh kualitas informasi akuntansi baik itu relevansi nilai laba ataupun relevansi nilai buku, yang dijadikan sebagai pengukur kinerja perusahaan . Kualitas informasi keuangan berhubungan dengan sistem pelaporan yang dilakukan oleh pihak manajemen. Pihak manajemen dapat melakukan rekayasa atau manipulasi laba dengan tujuan untuk melaporkan kinerja yang baik melalui manajemen laba nyata, selanjutnya tindakan manipulasi laba ini akan berpengaruh terhadap relevansi nilai laba, yaitu terjadinya penurunan relevansi nilai laba. Penelitian Fazeli dan Rasouli (2011) menyatakan bahwa relevansi nilai laba akan menjadi rendah karena dampak dari manajemen laba nyata.

Berdasarkan uraian diatas, hipotesis yang dapat diajukan dalam penelitian ini yaitu :

         H4:    Perusahaan yang melakukan manajemen laba nyata memiliki relevansi nilai laba yang rendah dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan manajemen laba nyata.

 

Jenis Penelitian

Berdasarkan jenis data yang digunakan, penelitian ini dapat digolongkan kedalam penelitian empiris. Penelitian empiris (empirical research) merupakan penelitian terhadap fakta empiris yang telah diperoleh berdasarkan observasi atau pengamatan (Indriantoro dan Supomo, 2002).

Populasi dan Sampel Penelitian

            Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang listed di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2002-2010, sedangkan sampel pada penelitian ini berjumlah 58 perusahaan. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Metode purposive sampling merupakan pengambilan sampel sesuai dengan kriteria tertentu. Adapun beberapa kriteria sampel tersebut yaitu sebagai berikut:

  1. Perusahaan non-keuangan yang memiliki persedian dan melakukan aktivitas operasi perusahaan dengan mengubah persediaan menjadi barang dalam proses ataupun barang jadi.
  2. Menerbitkan laporan keuangan dengan periode yang berakhir pada tanggal 31 desember dan memiliki semua data yang diperlukan untuk variabel-variabel yang telah ditentukan sebelumnya.
  3. Perusahaan yang melaporkan laporan keuangannya dalam satuan mata uang rupiah dan tidak delisting selama tahun periode pengamatan.

Pengujian Hipotesis

Pengujian terhadap hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji arah koefisien β (uji arah) terhadap masing-masing koefisien regresi. Koefisien regresi dapat ditentukan dengan menggunakan p-value sebesar 5 < % (0.05),

sedangkan untuk Pengujian hipotesis empat, dilakukan dengan menggunakan uji chow test.

 

Hasil Penelitian

  1. Berdasarkan hasil regresi pada hipotesis H1 membuktikan bahwa manajemen laba nyata memiliki pengaruh negatif terhadap biaya arus kas operasi dengan size dan MVBV sebagai variabel kontrol.
  2. Berdasarkan hasil regresi pada hipotesis H2 tidak membuktikan bahwa manajemen laba nyata memiliki pengaruh negatif terhadap biaya diskresioner dengan size dan MVBV sebagai variabel kontrol.
  3. Berdasarkan hasil regresi pada hipotesis H3 tidak membuktikan bahwa manajemen laba nyata memiliki pengaruh positif terhadap biaya produksi dengan size dan MVBV sebagai variabel kontrol.
  4. Berdasarkan hasil pengujian chow test untuk pengujian hipotesis 4, pada penelitian ini tidak ditemukan bukti bahwa perusahaan yang diduga melakukan manajemen laba nyata memiliki relevansi nilai laba yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan manajemen laba nyata.

Saran Penelitian

  1. Untuk penelitian yang akan datang dapat dilakukan penelitian serupa dan diharapkan dapat membuktikan penelitian terdahulu yaitu bahwa manajemen laba nyata memiliki pengaruh negatif terhadap biaya diskresioner, manajemen laba nyata memiliki pengaruh positif terhadap biaya produksi, serta memiliki relevansi nilai laba yang lebih rendah apabila perusahaan melakukan tindakan manajemen laba nyata, dengan tidak hanya menggunakan size dan MVBV sebagai variabel kontrol.
  2. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan data harga saham yang digunakan untuk menghitung return saham adalah harga saham yang terbit pada tanggal publikasi laporan keuangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd