Authentic Leadership

Posted on : April 19, 2016 | post in : TEORI MANAJEMEN |3 Replies |

Pengertian

Authentic Leadership (AL) adalah tipe kepemimpinan yang mengharuskan pemimpin bertindak authentic. Authentic leadership adalah pemimpin yang jujur pada diri sendiri (May dkk., 2003). Artinya, dimilikinya kesejalanan antara perilaku dengan keyakinannya. Authentic leadership pertama kali diperkenalkan oleh Avolio & Luthans (2003). Lebih lanjut menurut Avolio & Luthans (2003) Authentic leadership adalah pola perilaku pemimpin yang mendorong kapasitas psikologis dan iklim serta etika yang positif, untuk menumbuhkan kesadaran diri karyawan untuk bekerja dengan maksimal.

            Menurut Walumbwa & Avolio (2008) authentic leadership merupakan pola perilaku pimpinan yang mengacu pada kapasitas psikologis yang positif  dan iklim etika yang positif untuk mendorong kesadaran diri perspektif moral yang diinternalisasi, pemgolahan informasi seimbang, dan transparansi relasional bagian dari pemimpin  dalam bekerja dan pengikut sebagai pendorong dalam pengembangan diri.

Kepemimpinan adalah salah satu bagian penting dari manajemen, sebagai contoh, para manajer atau pemimpin merencanakan dan mengorganisasikan pekerjaan, tetapi peran utama pemimpin adalah mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dengan antusias (Davis & Newstrom, 2002). Seorang pemimpin diharapkan mampu membawa organisasi yang dipimpinnya melaksanakan pekerjaan dengan baik sehingga dapat memberikan pelayanan yang berkualitas. Sehingga dengan kata lain bahwa kepemimpinan berperan penting dalam memaksimalkan kinerja organisasi melalui pelayanan yang berkualitas.

Berbagai definisi mengenai kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut suatu proses pengaruh sosial. Pengaruh sosial yang dimaksud adalah pengaruh yang disengaja dan dijalankan oleh seseorang terhadap orang lain untuk menstruktur aktivitas-aktivitas dan hubungan-hubungan di dalam suatu kelompok atau organisasi (Yukl, 2013).

Ada berbagai tipe gaya kepemimpinan yang dibahas oleh para ahli. Gaya kepemimpinan transformasional, transaksional, situasional, pelayanan dan autentik dengan pendekatan yang berbeda-beda. Kepemimpinan transformasional lebih menyerukan pada nilai-nilai moral dari para bawahan dalam upayanya untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang masalah etis. Pendekatan situasional lebih menekankan pada dimensi arahan dan dimensi dukungan. Kepemimpinan pelayanan lebih cenderung mengutamakan kebutuhan, kepentingan dan aspirasi bawahannya  (Siagian, 2003).

Berbeda halnya dengan gaya kepemimpinan authentic yang lebih menekankan pada proses kepemimpinan yang dihasilkan dari perpaduan antara kapasitas psikologis individu dengan konteks organisasi yang terbangun baik, sehingga mampu menghasilkan perilaku yang tinggi kadar kewaspadaan dan kemampuannya dalam mengendalikan diri, sekaligus mendorong pengembangan diri secara positif. Untuk memahami kepemimpinan autentik, penting mengetahui definisi mengenai kepemimpinan autentik (Kernis, 2003).

Kebanyakan definisi kepemimpinan authentic dimulai dengan keaslian. Asli artinya tidak dibuat-buat yang berasal dari ketulusan hati. Asli atau genuine, original of undisputed origin adalah keaslian yang tidak terbantahkan; yang tahu bukan saja diri sendiri tetapi orang yang dipimpinnya pun dapat merasakan ketulusannya (Kernis (2003). Pemimpin yang berperilaku authentic berarti bertindak sesuai dengan nilai-nilai seseorang, preferensi, dan kebutuhan sebagai lawan dari bertindak hanya untuk menyenangkan orang lain atau untuk mencapai hadiah (Mey dkk, 2003).

Avolio dkk (2004) mendefinisikan pemimpin authentic sebagai pemimpin yang sangat menyadari bagaimana mereka berpikir dan berperilaku dan dianggap oleh orang lain sebagai sadar pada diri sendiri dan pada perspektif nilai-nilai orang lain, memiliki kekuatan moral, menyadari konteks dan percaya diri, penuh harapan, optimis, tangguh, dan karakter moral yang tinggi. Gaya kepemimpinan authentic sebagai satu proses menggabungkan kedudukan pemimpin positif dan komitmen yang diberikan dalam konteks membangun sebuah organisasi (Harter, 2002).

Dari uraian di atas dapat ditarik suatu definisi mengenai kepemimpinan authentic yakni kepemimpinan yang tidak dibuat-buat di dalam bertindak, jujur, konsisten antara ucapan dan perbuatan serta menghargai tatanan moral. Pemimpin autentik dapat mendorong orang-orang yang dipimpinnya bertindak sesuai dengan instruksi dan arahannya.

Dimensi Authentic Leadership

Authentic leadership dalam prakteknya menurut George, (2003) harus memperhatikan lima dimensi; yaitu purpose, values, heart, relationships, dan self-discipline. Sementara itu menurut Avolio dan Gardner (2005) menyebutkan ada empat dimensi Authentic leadership yaitu: self awareness, transparency, ethical/moral, dan balanced processing.

Authentic leadership dapat dikembangkan melalui dimensi transparency, altruistic actions, dan behavioral consistency untuk mengarahkan aktifitas suatu kelompok menuju  tujuan bersama. Uraian ketiga komponen tersebut sebagai berikut: (Walumbwa, et. Al, 2008).

  1. Transparency

Transparency merujuk pada terbukanya keyakinan, nilai, dan sikap suatu individu. Istilah lain yang digunakann dalam literatur authentic leadership adalah relational transparency (Avolio et. al, 2004). Relational transparency mencakup keterlibatan dalam komunikasi yang terbuka dan mengungkapkan informasi tentang diri (Gardner et. al, 2005).

Sementara itu George (2003) membangun hubungan yang kuat dengan bawahan melalui komunikasi yang terbuka merupakan bagian dari authentic leadership. May, et. al (2003) authentic leadership mencakup artikulasi secara transparan baik kelemahan maupun keterbatasan pada individu bawahan. Lebih lanjut May et. al, (2003) berpendapat bahwa authentic leadership melakukan akuntabilitas untuk aksi dan menjadi jujur tentang kesalahan suatu individu. Hannah et. al, (2005) menegaskan bahwa authentic leadership juga membawa dilema moral dan etika pada bawahan dan stakeholders yang relevan untuk memulai suatu diskusi terbuka. Mereka juga berpendapat bahwa authentic leadership ikut menjaga rahasia dari bawahan.

  1. Altruistic Actions

Altruistic actions mengacu pada perilaku pro sosial, ungkapan pelayanan tanpa pamrih, dalam kepentingan terbaik para bawahan dan stakeholders lainnya (Michie & Gooty, 2005). Lebih lanjut menurut Michie & Gooty (2005) menyatakan bahwa authentic leadership mencakup altruistic actions termasuk memperlakukan secara adil, memperlakukan dengan respek, meninggalkan kebiasaan kepentingan pribadi menjadi kepentingan kelompok, dan terbuka pada ide dari orang lain. Hannah et al. (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup perilaku altruistic, ditujukan untuk membantu orang lain melampaui diri sendiri.

Menurut George (2003) authentic leadership mencakup memimpin dengan hati, termasuk menunjukkan kasih sayang dan empati pada bawahan. Dia menemukan beberapa dukungan teorinya dalam wawancara dengan pemimpin yang menerapkan authentic leadership. Dia juga berpendapat bahwa authentic leadership mencakup menunjukkan bawahan bahwa mereka bernilai. Hannah et. al (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup membantu menyelesaikan dilema etik yang tidak secara langsung mempengaruhi pemimpin. Novicevic, et. al (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup menyeimbangkan tanggung jawab terhadap diri sendiri, bawahan, dan para stakeholders.

Walumba, et. al (2008) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup melakukan usaha yang tulus untuk mencari solusi moral berkualitas tinggi untuk menjamin kesejahteraan semua stakeholders. Dimensi ini juga mencakup tindakan yang bertujuan pada pengembangan bawahan. Gardner et. al, (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup membantu bawahan untuk mencapai otentisitas. Demikian pula, Illies et. al. (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup pengembangan kesejahteraan bawahan. Mereka berpendapat bahwa ini mencakup perilaku seperti menciptakan suatu bangunan yang memfasilitasi kemandirian bawahan, menyediakan umpan balik yang tidak diawasi, mengakui pandangan bawahan selama berinteraksi, dan menanyakan tentang bakat dan minat bawahan.

  1. Behavioral Consistency

Behavioral consistency mengacu pada menyelaraskan tindakan dengan keyakinan yang tetap, nilai, dan sikap. Gardner et. al. (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup perilaku authentic dan yang lain setuju. Perilaku otentik mengacu pada tindakan yang diarahkan oleh diri pemimpin yang sebenarnya yang tercermin oleh core values, keyakinan, pikiran dan perasaan, karena bertentangan dengan kontinjensi lingkungan atau tekanan dari orang lain. Illies et. al (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup menunjukkan integritas individu, yang didefinisikan sama dengan perilaku otentik dan mencakup berperilaku secara konsisten dengan konsep diri seseorang.

Banyak peneliti authentic leadership telah berpendapat bahwa authentic leadership mencakup bertindak sesuai dengan nilai-nilai seseorang dan tidak cukup bagi para pemimpin untuk bertindak secara konsisten dengan nilai-nilai mereka serta mencakup pemimpin bertindak secara konsisten dengan articulated values (Avolio & Gardner, 2005). Michie & Gooty (2005) berpendapat bahwa, pemimpin yang otentik efektif dalam memimpin orang lain karena bawahan melihat konsistensi diantara diri pemimpin mereka yang sebenarnya, sebagaimana diungkapkan dalam nilai, tujuan, atau suara dan perilaku mereka. Pernyataan ini juga berpendapat bahwa nilai-nilai harus diartikulasikan oleh para pemimpin dalam konteks perilaku authentic leadership. Pemodelan yang positif juga bagian dari dimensi perilaku ini (Avolio & Gardner, 2005). Gardner et. al, (2005) berpendapat bahwa authentic leadership mencakup mengembangkan bawahan yang otentik melalui proses pemodelan yang positif.

Authentic leadership mencakup pemodelan nilai yang positif, keadaan psikologis, perilaku, dan pengembangan diri. Illies et. al, (2005) juga berpendapat bahwa authentic leadership mencakup pemodelan perilaku yang positif.

Secara spesifik, Walumbwa et al. (2008) mendefinisikan authentic leadership sebagai suatu pola perilaku kepemimpinan yang mengacu dan meningkatkan baik kapasitas psikologis yang positif dan iklim etika positif, untuk menumbuhkan kesadaran diri yang lebih besar (Self Awareness), perspektif moral yang diinternalisasikan (Internalized Moral Perspective), pengolahan informasi yang berimbang (Balanced Processing), dan hubungan yang transparan (Relational Transparancy) disaat pemimpin bekerja dengan bawahannya, membantu pengembangan diri yang positif (Walumbwa  et. al, 2008). Sejalan dengan tujuan penelitian ini, maka 3 (tiga) dimensi dari Walumbwa, et. al,  (2008) tersebut akan digunakan dalam penelitian ini.

3 Comments

  1. daftar pustakanya ada gak?

  2. Awesome! Its truly awesome article, I have got much clear idea concerning from this piece of writing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd