PEMBERDAYAAN PSIKOLOGIS

Posted on : April 25, 2016 | post in : TEORI MANAJEMEN |Leave a reply |

Perkembangan dan pengukuran mengenai konsep pemberdayaan telah menarik minat peneliti di bidang organisasi dan sumber  daya  manusia. Studi awal tentang pemberdayaan psikologis dimulai oleh dikembangkannya teori kognitif sosial oleh Bandura (1977) yang menghasilkan konsep self-efficacy. Konsep self-efficacy  mengidentifikasi bahwa individu belajar menjadi bagian dan mempengaruhi suatu kelompok sosial yang berkontribusi melalui pemberian motivasi, sikap, dan tindakan.

Konsep tersebut menjadi dasar studi oleh Conger dan Kanungo (1988) untuk mulai mempelajari dan mengemukakan adanya konsep psychological empowerment (pemberdayaan psikologis). Mereka berpendapat bahwa pemberdayaan kepada aspek manajerial hanya sedikit berdampak pada pemberdayaan pegawai. Pemberdayaan pegawai akan memberikan rasa kepada pegawai untuk dapat berkinerja secara kompeten dan meningkatkan inisiatif dalam bekerja.

Penelitian lanjutan oleh Thomas dan Velthouse (1990) mengembangkan model pemberdayaan psikologis yang berasal dari empat elemen kognitif dalam rangka memahami aktifitas dan tanggungjawab penyelesaian tugas oleh pegawai. Empat elemen kognitif tersebut meliputi meaningfulness, competence, choice, dan impact.

Hasil studi oleh Perkins dan Zimmerman (1995) mengungkapkan bahwa konsep pemberdayaan pegawai meliputi proses dan strukturisasi dalam suatu organisasi yang berupaya meningkatkan partisipasi pegawai dan pengembangan terhadap tujuan organisasi. Sejalan dengan studi-studi tersebut Spreitzer (1995) mengembangkan pengukuran pemberdayaan psikologis menjadi empat dimensi, yaitu:

  1. Meaning. Dimensi ini menggambarkan hubungan atau keterlibatan antara aturan kerja yang dibutuhkan pegawai dengan keyakinan, sikap, perilau, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh pegawai.
  1. Competence. Dimensi ini menjelaskan tentang tingkat kepercayaan diri pegawai untuk dapat berkinerja dengan kemampuan atau keahlian yang dimiliki dalam menyelesaikan pekerjaan.
  1. Self-determination. Dimensi ini mencerminkan batas kewenangan dan sikap pegawai dalam berperilaku saat bekerja dan penyelesaian tugas.
  1. Impact. Dimensi ini menggambarkan pengaruh dan dampak yang diberikan oleh pegawai di tempat kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd