Infection  of Urinary tract – Infeksi Saluran Kemih

Posted on : April 26, 2016 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |
  • Pengertian

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah keadaan dimana kuman tumbuh dan berkembang biak dalam saluran kemih dalam jumlah yang bermakna. Infeksi saluran kemih dapat berlangsung dengan gejala (simtomatis) atau tanpa gejala (asimtomatis) (Suyono, 2005).  Infeksi saluran kemih (ISK) adalah ditemukannya bakteri pada urin di kandung kemih, yang umumnya steril (ManSjoer, 2000).

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah bekembangnya mikroorganisme didalam saluran kemih, yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus atau mikroorganisme (sistitis), uretra (uretritis), dan ginjal (pielonefritis) (Cravens,2006).

  • Etiologi

Infeksi pada kemih disebabkan oleh bakteri. Bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli (sekitar 70-95%) dari kasus infeksi saluran kemih) dan S. Saprophyticus (sekitar 5-10% dari kasus infeksi saluran kemih). Saluran kemih yang dapat terinfeksi meliputi ginjal, ureter, kandung kemih da uretra, namun yang paling banyak adalah infeksi saluran kemih.

               Infeksi Saluran Kemih disebabkan oleh mikroorganisme patogenik misalnya bakteri e.coli, streptococus, satafilococus, pseudomonas. Faktor Resiko yang umum terjadinya Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah:

  1. Ketidakmampuan atau kegagalan kandung kemih untuk mengosongkan isinya secara sempurna.
  2. Penurunan daya tahan tubuh.
  3. Peralatan yang dipasang pada saluran perkemihan seperti kateter dan prosedur sistoskopi.
  • Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih

Infeksi   saluran   kemih dapat dibagi menjadi dua kategori umum berdasarkan lokasi anatomi, yaitu : (Sukandar, 2006 dalam PP RTG – 2011).

  1. a. Infeksi saluran kemih bawah
  2. b. Infeksi saluran kemih atas

Presentasi klinis infeksi saluran kemih bawah tergantung dari gender:

  • Perempuan
  1. Sistisis

Sistisis  adalah presentasi klinik infeksi kandung kemih disertai bakteriuria bermakna.

  1. Sindrom uretra akut (SUA)

Sindrom uretra akut adalah presentasi klinis sistisis tanpa ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistisis bakterialis.

  • Laki-laki

Presentasi  klinis  infeksi  saluran  kemih  pada  laki-laki  mungkin  sistitis, prostatitis, epidimidis dan uretritis.

  1. Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala yang berhubungan dengan ISK bervariasi. Separuh dari klien yang ditemukan adanya bakteri dalam urin (bakteriuria) tidak menujukan gejala (asimtomatik). Gejala yang sering ditemukan pada ISK adalah:

  1. Nyeri dan rasa panas ketika berkemih (disuria), poliuria, dan terdesak ingin berkemih.
  2. Sulit berkemih dan disertai kejang otot pinggang ()
  3. rasa nyeri dengan keinginan mengosongkan kandung kemih meskipun telah kosong (Tenesmus).
  4. kecenderungan sering buang air kecil pada malam hari (Nokturia)
  5. kesulitan memulai berkemih (Prostatismus).
  •  Patogenesis Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih terjadi karena adanya gangguan keseimbangan antara mikroorganisme penyebab infeksi (uropatogen) sebagai agent dengan epitel saluran kemih sebagai host. Gangguan keseimbangan ini disebabkan oleh karena pertahanan tubuh dari host yang menurun ataupun karena virulensi agent meningkat (Purnomo, 2007).

Adapun cara masuknya kuman kedalam saluran kemih yaitu sebagai berikut:

  • Infeksi Asenden (Ascenden infection)

Kuman masuk melalui uretra adalah penyebab paling sering dari infeksi saluran kemih, baik pada pria maupun wanita. Pada keadaan normal bakteri dalam urine kandung kemih biasanya akan dikeluarkan sewaktu berkemih, tetapi keadaan ini tidak akan dijumpai bila ada urine stasis. Kuman berasal dari floral usus dan hidup secara komensal didalam introitus vagina , preputim penis, kulit perineum dan sekitar anus cenderung lebih sering menyebabkan infeksi saluran kemih asendens. Pada pria aktifitas seksual juga mempertinggi terjadinya infeksi saluran kemih.

  1. Melalui Aliran Darah ( Hematogenous Spred)

Penyebaran melalui darah jarang terjadi, pada kasus-kasus tuberkolosis, abses ginjal dan abses perinefrik. Sebaliknya bakteri sering masuk kealiran darah pada penderita infeksi akut, ginjal dan prostate. Bakterimia karena komplikasi infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada penderita yang mengalami kelainan struktur dan fungsi saluran kemih.

2.Melalui Aliran Lymph (Lymphatogenous Spread)

       Infeksi saluran kemih melalui lymph, walau sangat jarang namun dapat terjadi. Kemungkinan bakteri pathogen masuk melalui aliran lymph rectum atau koloni menuju prostate atau kandung kemih, dapat juga melalui aliran lymph peri-uterina pada wanita.

3.Penyebaran Langsung dari Organ sekitarnya (Direct Extension From Other Organ)

Abses intra peritoneum  khususnya disebabkan oleh peradangan usus halus, radang pelvic yang berat pada wanita, abses para vesikal dan fistel saluran kemih (khususnya fistel vesikovagina dan resiko intestinal) dapat menyebabkan infeksi saluran kemih dengan cara penyebaran langsung.

4.Faktor Yang Mempermudah Terjadinya Infeksi Saluran Kemih

Walaupun telah diketahui bahwa bakteri penyebab infeksi saluran kemih paling sering berasal dari daerah perineum (faecal origin) tetapi factor yang menyebabkan bakteri ini dapat menginvasi saluran kemih dan menimbulkan infeksi masih belum diketahui sepenuhnya. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa infeksi saluran kemih dimulai dengan melekatnya bakteri pada sel epitel saluran kemih. Sekarang diyakini bahwa saluran kemih adalah proses dinamika yang menyertai perubahan pada sel bakteri dan sel penderita (Purnomo, 2005).

Faktor yang mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih antara lain sebagai berikut:

  1. Faktor dari Host

Kemampuan host untuk menahan mikroorganisme masuk kedalam saluran kemih disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain adalah:

  • Pertahanan lokal dari host yaitu:
  1. Mekanisme pengosongan urine yang teratur dari buli-buli dan gerakan peristaltitk uretra (wash out mechanism)
  2. Derajat keasaman (PH) urin yang rendah
  3. Adanya ureum didalam urine.
  4. Osmolalitas urine yang cukup tinggi
  5. Estrogen pada wanita pada usia produktif
  6. Panjang uretra pada pria
  7. Adanya zat anti bacteria pada kelenjar prostate atau PAF (anti Bacterial Faktor) yang terdiri atas unsure Zn
  8. Uromukoid (protein Tamm Horsfall) yang menghambat penempelan bakteri pada urotelium.
  9. Faktor dari Uropatogen

   Terjadinya infeksi saluran kemih dimulai adanya kolonisasi bakteri pada epitel vagina atau uretra. Karena beberapa faktor yang berasal dari host, bakteri masuk kedalam buli-buli dan menempel pada dinding urotelium melalui pili atau fimbria yaitu suatu tonjolan pada permukaan sel bakteri yang berbentuk seperti rambut.

  • Pemeriksaan Diagnostik
  1. Kultur urin: menentukan criteria infeksi.
  2. Hitung koloni: sekitar 100.000 CFU per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter. Adanya bakteri dalam specimen yang dikumpulkan melalui aspirasi jarum suprapubik kedalam kandung kemih.
  3. Pemeriksaan urinalis : adanya hematuria.
  4. IVP, sistoskopi, USG.
  • Faktor penyebab infeksi saluran kemih karena pemasangan kateter.

Faktor Penyebab Infeksi Saluran Kemih pada pasien yang menggunakan kateter urin menurut Brunner and Suddart (2003), sebagai berikut:

1.Prosedur Kateterisasi atau Metode kateterisasi

      Bila pemasangan kateter tidak menggunakan teknik aseptik dan steril serta pesonil yang tidak terampil dan tidak dapat memahami teknik pemasangan kateter secara aseptik dan steril.

2.Lamanya kateter terpasang

      Jika kateter harus dibiarkan terpasang selama beberapa hari atau beberapa minggu, kateter tersebut harus diganti secara periodik yaitu 1 minggu sekali dan pemasangan kateter tidak boleh dihentikan tanpa adanya latihan kandung kemih (Bledder Training)

3.Jenis kateter

      Kateter yang berbahan lateks lebih mudah terjadi infeksi saluran kemih dibanding kateter logam, di Negara maju seperti Amerika serikat menganjurkan penggunaan kateter urin berselaput campuran perak atau kateter oksida perak untuk mecegah infeksi saluran kemih terkait kateter.

4.Frekuensi perawatan kateter.status imunologi pasien.

      Kateter urin harus dicuci dengan sabun dan air paling sedikit 2 kali / hari, gerakan membuat kateter tertekuk bergeser maju mundur harus dihindari

5.Status Imunologi Pasien

      Pasien yang mudah teserang infeksi saluran kemih adalah pasien tua, debil, post partum, DM, dan penyakit kronis.

6.Upaya pencegah Infeksi Saluran Kemih pada pasien dengan kateterisasi

Upaya yang dapat dilakukan perawat untuk mencegah Infeksi Saluran Kemih pada pasien dengan kateterisasi menurut Brunner and Suddart (2002), sebagai berikut:

7.Mempertahankan teknik aseptik pada saat melakukan pemasangan kateter, seperti :

  • Menggunakan sarung tangan tangan steril disposible (sekali pakai).
  • Memisahkan peralatan steril dan tidak steril untuk mencegah terjadinya kontaminasi.
  • Mencuci tangan dengan efektif sebelum melakukan tindakan pemasangan atau sebelum kontak dengan bagian apapun dari sistem kateterisasi maupun pasien.

Menurut WHO (2007), cuci tangan yang efektif yaitu sebagai berikut ;

  • Dimulai cuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan bersih.
  • Menggunakan sabun cair atau sabun batangan, menggosokkan sabun tersebut sampai berbusa banyak.
  • Menggosokkan ke bagian punggung tangan dengan jari tangan menjalin secara bergantian, sebanyak 3 (tiga) kali.
  • Mengepalkan salah satu tangan dan menggosokkan ke permukaan tangan lainnya dimulai dengan menggosokan buku-buku jari tangan, kuku tangan, dan ujung-ujung jari tangan secara bergantian, sebanyak 3 (tiga) kali.
  • Memutar-mutar ibu jari tangan dengan salah satu tangan yang dilakukan secara bergantian, sebanyak 3 (tiga) kali.
  • Membilas tangan dengan air mengalir mulai dari permukaan tangan sampai dengan sikut tangan.
  • Mengeringkan tangan dengan menggunakan handuk / tissue / alat pengering.
  1. Observasi adanya tanda-tanda peradangan lokal atau komplikasi.
  2. Mengganti balutan stiap 24 jam sampai dengan 48 jam.
  3. Mengganti kateter minimal setiap 1 minggu sekali.
  4. Bila ada kolonisasi kemih asimtomatik, diberikan anti biotik sebelum kateter dicabut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd