Kriteria Harta yang Wajib Dizakati

Posted on : Mei 10, 2016 | post in : AGAMA |Leave a reply |

Agama Islam  sebagai agama yang paripurna selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada para pemeluknya untuk melakukan amal perbuatan yang baik (amal saleh dengan berbagai macam cara yang telah disyari’atkan dalam agama Islam, salah satunya harta yang wajib dizakati. Zakat pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu zakat badan (zakat fitrah) dan zakat harta (mal), sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Abdul Abbas, yang artinya zakat itu ada dua macam sebagaimana maklum, zakat badan dan zakat mal (harta). Berikut ini penulis akan menguraikan macam-macam zakat tersebut:

  1. Zakat Maal (harta), menurut bahasa adalah segala sesuatu yang diinginkan sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya menurut syar’a, harta adalah segala sesuatu yang dapat dimiliki dan dapat digunakan atau dimanfaatkan menurut ghalibnya (lazim). Zakat Maal adalah Zakat yang dikenakan atas harta (maal) yang dimiliki oleh individu atau lembaga dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara hukum (syara’). Maal berasal dari bahasa Arab yang secara harfiah berarti ‘harta’. Mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja (profesi) dan dan Zakat saham atau obligasi. Masing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri. Zakat maal, terbagi lagi sebagai berikut:
  2. Zakat Binatang Ternak,dalam syari’at Islam telah ditetapkan bahwa zakat itu mulai diwajibkan pada bulan syawal tahun kedua Hijriah, setelah diwajibkannya zakat fitrah.Adapun jenis binatang ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah unta, sapi, kerbau, kambing, domba. Sedangkan kuda tidak wajib dikeluarkan zakatnya, kecuali jika untuk diperdagangkan, maka wajib atas nama tijarah. Hal ini berdasarkan Hadist yang diterima Ali ra, bahwa Nabi telah bersabda:“telah saya maafkan bagimu mengenai kuda dan hamba sahaya, tidak wajib zakat pada keduanya”.
  3. Zakat Mata Uang, pengertian mata uang adalah emas dan perak. Mata uang adalah salah satu harta yang wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan telah mencukupi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh syari’at Islam. Hal ini berdasarkan dalil-dalil dari nash Al-Qur’an mengatakan :”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”.
  4. Zakat Hasil Pertanian, hasil pertanian berupa makanan pokok seperti beras atau jagung dan gandum, wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah mencapai nisabnya yang telah ditentukan oleh syara’ dengan tidak disyaratkan sampai haulnya. Artinya wajib dizakatkan dikala mengatamnya. Hikmah tidak disyaratkan haulnya karena bila ditunggu sampai satu tahun, maka besar kemungkinan akan menjadi habis, karena dimakan setiap hari, sehingga mempersulit muzakki. Sebagaimana firman Allah dalam suratAl An’am ayat 141, yang artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun, yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuknya) dan warnanya dan yang tidak sama (rasanya) makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam) bila ia berbuah dan tunaikanlah haknya dihari memetiknya”.
  5. Zakat Buah-buahan, Buah-buahan adalah termasuk salah satu dari hasil pertanian yang wajib dikeluarkan zakatnya dengan ketentuan telah mencapai nisab yang telah ditentukan oleh syari’at Islam. Buah-buahan yang dimaksudkan disini adalah kurma dengan anggur. Mengenai sayur-sayuran seperti kelapa atau lainnya tidak wajib atasnya kecuali bila dibuat sebagai suatu usaha yang mempunyai modal yang banyak, maka wajib atasnya sebagai tarah atau usaha. Nisab dari buah-buahan ini adalah limaausuq dan bersih dari pada kulitnya. Sesuai Sabda Rosulullah, yang artinya: “Tidak ada sedekah (zakat) pada biji dan buah-buahan sehingga sampai banyaknya lima ausuq”.
  6. Zakat Perniagaan, maksud dari kata perniagaan disini adalah usaha untuk mencari keuntungan seperti toko, pabrik, industri dan lain-lain, yang bisa dinilai dengan uang. Perniagaan di sini termasuk juga di dalamnya rikaz, yaitu hasil temuan dari harta yang ditanam oleh orang-orang terdahulu. Apabila harta tersebut diketemukan sekarang, maka wajiblah dikeluarkan zakatnya. Adapun dasar wajibnya adalah sesuai dengan firman Allah Swt yang mengatakan, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untukmu”.
  7. Zakat Profesi.Yusuf Al-Qardhawi menyatakan bahwa diantara hal yang sangat penting untuk mendapatkan perhatian kaum muslimin saat ini adalah penghasilan atau pendapatan yang diusahakan melalui keahliannya, baik keahlian yang dilakukannya secara sendiri maupun bersama-sama. Yang dilakukan sendiri, misalnya profesi dokter, arsitek, ahli hukum, penjahit, pelukis, mungkkin juga da’i atau mubaligh dan lain sebagainya. Sedangkan yang dilakukan secara bersama-sama misalnya: pegawai (pemerintah atau swasta) dengan mmenggunakan sistem upah atau gaji.
  8. Zakat Perusahaan, sebagaimana diketahui , pada saat ini hampir sebagian besar perusahaan dikelola tidak secara individual, melainkan secara bersama-sama dalam sebuah kelembagaan dan organisasi dengan manajemen yang modern. Misalnya dalam bentuk PT, CV atau Koperasi.
  9. Zakat Fitrah. Zakat ini wajib dikeluarkan sesuai bulan Ramadhan sebelum shalat’ id sedangkan bagi orang yang mengeluarkan zakat fitrah setelah dilaksankan shalat’id maka apa yang ia berikan bukanlah termasuk zakat fitrah tetapi merupakan sedekah.Cara penyerahan zakat fitrah dapat ditempuh dua cara, yaitu:
  • Zakat fitrah diserahkan langsung oleh yang bersangkutan kepada fakir miskin. Apabila hal ini dilakukan, maka sebaiknya pada malam hari dan lebih baik lagi jika mereka diberikan pada pagi hari sebelum shalat Idul Fitri dimulai agar dengan adanya zakat fitrah itu melapangkan kehidupan mereka, pada hari raya, sehingga mereka tidak perlu lagi berkeliling menadah tangan kepada orang lain.
  • Zakat fitrah diserahkan kepada amil (panitia) zakat. Apabila dilakukan maka sebaiknya diserahkan satu hari atau dua hari ataupun beberapa hari sebelum hari raya Idul fitri agar panitia dapat mengatur distribusi degan baik dan tertib kepada mereka yang berhak menerimanya pada malam hari raya atau pada pagi harinya. Kewajiban membayar zakat fitrah bersamaan dengan disyariatkannya puasa Ramadhan yaitu pada tahun kedua Hijriyah. Kewajiban membayar zakat fitrah dibebankan kepada setiap muslim dan muslimah, baligh atau belum, kaya atau tidak, dengan ketentuan dia masih hidup pada malam hari raya dan memiliki kelebihan dari kebutuhan pokoknya untuk sehari. Zakat fitrah dibayarkan maksimal sebelum shalat Idul Fitri.

Dari penjelasan di atas, zakat merupakan rukun Islam, yang  sumber agama berasal dari ajaran Tuhan yang diperoleh atau yang diturunkan dan  disebarluaskan melalui para Nabi dan Rasul-Nya.

H. Chairuman Pasaribu, Hukum Perjanjian Dalam Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2004,  Hlm 104.

Hikmat Kurnia dan A. Hidayat, Panduan Pintar Zakat Harta Berkah, Pahala Bertambah Plus Cara & Mudah Menghitung Zakat, Jakarta: Qultum Media, 2008, Hlm. 141.

Noor Aflah,  Aritektur zakat Indonesia dilengkapi Kode etik Amil Zakat Indonesia, Jakarta: UI Press, 2009, Hlm. 184.

Sirman Dahwal, Op. Cit, Hlm 13-14.

Gus arifin, Fiqih Puasa Memahami Puasa, Ramadhan, Zakat Fitrah, Hari Raya, dan Halal Bi Halali, PT. Elex Media Komputindo,Jakarta, 2013, Hlm 223.

Ilham Bisri,  Sistem Hukum Indonesia, Prinsip-Prinsip & Implementasi Hukum di Indonesia, Rajawali Jakarta, 2012, Hlm. 2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd