Zakat dalam Prespektif Islam

Posted on : Mei 10, 2016 | post in : AGAMA |Leave a reply |

Tujuan  hukum Islam adalah kebahagian hidup manusia di dunia ini dan di akhirat kelak, dengan jalan mengambil (segala) yang bermanfaat dan mencegah atau menolak yang mudarat, salah satunya dengan melaksanakan zakat.

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, dari rukun Islam yang lima. Dimana zakat berada pada urutan yang ketiga setelah sholat. Bahkan karena keutamaannya hampir semua perintah dalam Al-Qur’an yang menyebutkan tentang sholat selalu dibarengi dengan zakat.

Nabi SAW telah menegaskan di Madinah bahwa zakat itu wajib serta telah menjelaskannya kedudukannya di dalam Islam. Yaitu bahwa zakat adalah salah satu rukun Islam yang utama, dipujinya orang-orang yang melaksanakan dan diancamnya orang yang tidak melaksanakannya dengan berbagai upaya dan cara. Hal ini dapat kita lihat saat peristiwa Jibril mengajarkan agama kepada kaum Muslimin dengan cara mengajukan pertanyaan yang menarik kepada Rasulullah, yang artinya: ”Apakah itu Islam?” Nabi menjawab; ”Islam adalah mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Nya, mendirikan sholat, membayar zakat, berpuasa pada bulan Romadhon, dan naik haji bagi yang mampu melaksanakannya. (Hadist Muttafaq’alaih).

Dengan demikian, zakat di dalam sunah dan begitu juga di dalam Al-Qur’an adalah dasar Islam yang ketiga. Tanpa dasar yang ketiga bangunan Islam tidak akan berdiri tegak dengan baik. Dipujinya orang-orang yang melaksanakan zakat, antara lain disebutkan dalam Hadist dari Anas-menurut Bazzar-Rosulullah Saw bersabda, yang artinya:

Siapa yang membuang dunia hanya untuk beribadat kepada Allah dan tidak mempersekutukannya, mendirikan sholat dan membayar zakat, lalu ia meninggal, maka sesungguhnya Allah senang kepadanya.

Di dalam Hadist lain Rasulullah mengancam orang-orang yang tidak membayar zakat dengan hukuman berat di akhirat supaya hati yang lalai tersebut dan sifat kikir seseorang dapat berubah. Kemudian dengan cara memberikan pujian dan menakut-nakuti beliau menunjukkan agar supaya manusia secara suka rela melaksanakan kewajiban zakat tersebut.

Dalam H.R. Bukhari Rasulullah bersabda, yang artinya : “Siapa yang dikaruniai oleh Allah kekayaan tetapi tidak mengeluarkan zakatnya, maka pada hari kiamat nanti akan didatangi oleh seekor ular jantan gundul, yang sangat berbisa dan sangat menakutkan dengan dua bintik di atas kedua matanya, lalu melilit dan mematuk lehernya sambil berteriak sayalah harta kekayaanmu yang kau timbun-timbun dulu.” Sunnah Nabi tidak hanya mengancam orang yang tidak mau membayar zakat dengan hukuman di akhirat, tetapi juga mengancam orang-orang yang tidak mau memberikan hak fakir miskin itu dengan hukuman di dunia secara kongkrit. Di dalam H.R. Bukhari mengatakan, bila sedekah itu bercampur dengan kekayaan lain, maka kekayaan itu akan binasa. Hadist ini mengandung dua pengertian:

  1. Sedekah, dalam arti zakat, bila masih berada di dalam dan belum dikeluarkannya dari kekayaan akan menyebabkan kekayaan itu binasa.
  2. Seseorang yang mengambil zakat sedang ia kaya dan memasukkannya ke dalam kekayaannya, maka kekayaan itu akan habis.

Dalam Al-qura’an berulang kali diterangkan agar kaum muslim membayar zakat, disamping menegakkan shalat. Tidak kurang dari 30 kali, dan yang bergandengan  dengan kewajiban shalat 28 kali. Tetapi persentase pembayaran zakat itu sama sekali tidak disinggung oleh Al-qur’an, di sinilah letak penting fungsi hadis Rasulullah Saw,untuk menerangkan ayat-ayat Al-quran yang masih bersifat global (mujmal) sehingga hadis-hadis tentang zakat dapat membantu memahami perintah zakat lebih rinci.

Adapun Hikmah dan manfaat zakat antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Sebagai perwujudan keimanan kepasa Allah Swt, mensyukuri nikmat nya,menumbuhkan akhlak mulia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, menghilangkan sifat kikir, rakus dan matrealistis, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus membersihkan dan mengembangkan harta yang dimiliki.
  2. Karena zakat merupakan hak mustahik, maka zakat berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka terutama fakir miskin, ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah Swt, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul dari kalangan mereka, ketika mereka melihat orang kaya yang memilik harta cukup banyak.
  3. Sebagai pilar amal bersama (jama’i) antara orang-orang kaya yang berkecukupan hidupnya dan para mujahid yang seluruh waktunya digunakan untuk berjihad di jalan Allah, yang karena kesibukannya tersebut, ia tidak memiliki waktu dan kesempatan untuk berusaha dan berikhtiar bagi kepentingan nafkah diri dan keluarga.
  4. Sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki umat Islam, seperti sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi, sekaligus sarana pengembangan kualitas sumber daya manusia muslim.
  5. Untuk memasyaratkan etika bisnis yang benar, sebab zakat itu bukanlah membersihkan harta yang kotor, tetapi mengeluarkan bagian dari hak orang lain dari harta yang kita usahakan dengan baik dan benar sesuai dengan ketentuan Allah Swt.
  6. Dari sisi pembangunan kesejahteraan umat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd