Gawat Darurat – Emergency

Posted on : Desember 30, 2016 | post in : TEORI KESEHATAN |Leave a reply |

Gawat darurat adalah keadaan klinis pasien yangmembutuhkan tindakan medis segera gunapenyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatanlebih lanjut (UU no 44 tahun 2009). Gawat darurat adalah suatu keadaan yang terjadinya mendadak mengakibatkan seseorangatau banyak orang memerlukan penanganan/pertolongan segera dalam arti pertolongansecara cermat, tepat dan cepat. Apabila tidak mendapatkan pertolongan semacam itu makakorban akanmati atau cacat/kehilangan anggotatubuhnya seumur hidup (Saanin, 2011).

Keadaan darurat adalah keadaan yang terjadinya mendadak, sewaktu-waktu/kapan saja terjadi dimana saja dan dapat menyangkut siapa saja sebagai akibat dari suatu kecelakaan,suatu proses medik atau perjalanan suatu penyakit (Saanin, 2011). Pelayanan gawat darurat tidak hanya memberikan pelayanan untuk mengatasi kondisi kedaruratan yang di alami pasien tetapi juga memberikan asukan keperawatan untuk mengatasi kecemasan pasien dan keluarga (Hati, 2011).

Keperawatan gawat darurat adalah pelayanan profesioanal keperawatan yang di berikan pada pasien dengan kebutuhan urgen dan kritis. Namun UGD dan klinik kedaruratan sering di gunakan untuk masalah yang tidak urgent, sehingga filosopi tentang keperawatan gawat darurat menjadi luas, kedaruratan yaitu apapun yang di alami pasien atau keluarga harus di pertimbangkan sebagai hedaruratan (Hati, 2011).

Sistem pelayana bersifat darurat sehingga perawat dan tenaga medis lainnya harus memiliki kemampuan, keterampilan, tehnik serta ilmu pengetahuan yang tinggi dalam memberikan pertolongan kedaruratan kepeda pesien (Saanin, 2011).

Pasien yang tiba-tiba dalam keadaan gawat atau akan menjadi gawat dan terancam nyawanya dan atau anggota badannya (akan menjadi cacat) bila tidak mendapatkan pertolongan secepatnya. Bisanya di lambangkan dengan label merah. Misalnya AMI (Acut Miocard Infark).  Pasien berada dalam keadaan gawat tetapi tidak memerlukan tindakan darurat. Bisanya di lambangkan dengan label Biru. Misalnya pasien dengan Ca stadium akhir.

Pasien akibat musibah yang datang tiba-tiba, tetapi tidak mengancam nyawa dan anggota badannya. Bisanya di lambangkan dengan label kuning. Misalnya: pasien Vulnus Lateratum tanpa pendarahan.Pasien yang tidak mengalami kegawatan dan kedaruratan. Bisanya di lambangkan dengan label hijau. Misalnya : pasien batuk, pilek.

Kriteria Pasien Gawat Darurat

Pasien gewat darurat adalah seseorang atau banyak orang yang mengalami suatu keadaaan yang mengancam jiwanya yang memerlukan pertolongan secara cepat tepat dan cermat yangmana bila tidak ditolong maka seseorang atau banyak orang tersebut dapat mati ataumengalami kecacatan. Kriteria pasien gawat darurat adalah mengalami kegawatan yang menyangkut: (Saanin, 2011).

  1. Terganggunya jalan nafas, antaralain sumbatanjalan nafas oleh benda asing, asma berat, spasme laryngeal, trauma muka yang mengganggu jalan nafas dan lain-lain.
  2. Terganggunya fungsi pemafasan, antaralain trauma thorak (tension pneumothorak, masifhematotorak, emfisema, fraktur flail chest, fraktur iga), paralisis otot pernafasan karena obatatau penyakit dan lain-lain.
  3. Terganggunya fungsi sirkulasi antaralain syok (hipovolumik, kardiogorik, anafilaksis,sepsis, neurogenik), tamponade jantung dan lain-lain.
  4. Teranggunya fungsi otak dan kesadaran aatara lain stroke dengan penurunan kesadaran,trauma capitis dengan penurunan kesadaran,  koma diabetikum, koma uremikum, komahepatikum, infeksi otak, kejang dan lain-lain.

Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)

Sistim Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) mengacu pada pertolongan harus cermat, tepat dan cepat agar korban tidak mati atau cacat maka harus ditangani secara bersama dan terpadu, oleh berbagai komponen penolong atau pertolongan. Ini berarti penanganan harus dilakukan multi disiplin, multi profesi dan multi seltor meliputi:

  1. Penanganan terhadap korban banyak lpenyelarnatan jiwa
  2. Dilakukan oleh penolong dan pertolongan banyak
  3. Terjalin komunikasi dan koordinasi yang terkendali
  4. Menyangkut transportasi korban
  5. Tempat-tampat rujukan

Peran Instalasi Gawat Darurat

  1. Memberikan pelayanan gawat darurat yang cepat, tepat dan cermat dan terjangkau sesuai kebutuhan masyarakat. Menyiapkan fasilitas SDM yang terampil dan bermutu dalam melakukan pelayanan gawat darurat.
  2. Meningkatkan mutu tenaga pelayanan khusus gawat darurat secara berkesinambungan.
  3. Berpartisipasi dalam melaksanakan penelitian di bidang gawat darurat (Sadikin, 2012).

  Tugas Instalasi Gawat Darurat

  1. Menyelenggarakan pelayanan medis pasien gawat darurat yaitu pasien dengan ancaman kematian dan perlu pertolongan segera (critically ill patient), pasien yang tidak ada ancaman kematian tetapi perlu pertolongan segera (emergency patient), dan pelayanan pasien tidak gawat tidak darurat yang datang ke IGD selama 24 jam terus menerus.
  2. Mengelola pelayanan khusus siaga bencana dan pelayanan medis saat bencana.
  3. Bersama dengan Bagian Pendidikan dan Penelitian mengelola pelatihan penanganan pasien gawat darurat (Sadikin, 2012).

Kegiatan Instalasi Gawat Darurat

  1. Penyelenggaraan pelayanan medis gawat darurat: Pelayanan resusitasi, pelayanan bedah (surgikal), pelayanan nonbedah (Medikal), obstetrik ginekologi dan pediatrik yang meliputi kegiatan : Monitoring supervisi pelayanan medis di R. Tindakan, Observasi/Rawat Sementara, Monitoring supervisi keluhan pasien/pelanggan lain, Audit pelayanan dan audit kematian, Pendataan dan penanganan kasus bermasalah, Pengawasan transportasi pasien gawat darurat dari IGD ke OK atau ICU, Melakukan pelayanan kasus tidak gawat tidak darurat melalui, pelayanan poliklinik 24 jam (Sadikin, 2012)
  2. Pengelolaan unit administrasi umum dan pengaturan SDM: Perencanaan kegiatan, Pengawasan rekam medik, Penyelenggaraan kesekretariatan, Akreditasi, Pencatatan, pelaporan dan pengolahan data, Pengaturan SDM, Pengawasan keamanan dan ketertiban dan kordinasi dengan SATPAM (Sadikin, 2012).
  3. Pengelolaan keperawatan: Pengelolaan asuhan keperawatan, pelaksanaan bimbingan, pemantauan, pengawasan, dan penilaian asuhan keperawatan, Pemantauan dan pengawasan etika profesi keperawatan, Pengawasan pendukung pelayanan (koordinasi pekarya) (Sadikin, 2012).
  4. Pengelolaan penunjang dan pelatihan: Pengelolaan peralatan medis dan non medis, Pengawasan kebersihan (koordinasi kegiatan Cleaning Service), Pengawasan Depo Farmasi, Pengelolaan pendidikan dan pelatihan gawat darurat (Sadikin, 2012).
  5. Penyelenggaraan pelayanan khusus/siaga bencana: Pelayanan penanggulangan gawat darurat terpadu bencana (SPGDTB), Pelayanan pusat pengobatan keracunan tingkat Provinsi, Pelayanan siaga, Pelayanan komunikasi dan informasi, Pelayanan ambulans, Pelayanan siaga dengan pendataan kerawanan dan potensi sumber daya (geomedic mapping), Penyiapan tim reaksi cepat (rapid respons) pada saat terjadi bencana (Sadikin, 2012).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd