Kekerasan Dalam Rumah Tangga – KDRT

Posted on : Desember 30, 2016 | post in : TEORI SOSIAL |Leave a reply |

2.1    Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)

2.1.1    Pengertian

Undang-Undang Penghapusan KDRT ini menyebutkan bahwa Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 ayat 1).

Pada tahun 1993 pada konsultasi global, mulai di bahas pengertian kekerasan, oleh WHO. Adapun saat ini menurut WHO (WHO, 2002); “kekerasan adalah penggunaan kekuatan fisik dan kekuasaan,  ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri, perorangan  atau sekelompok orang  atau masyarakat yang mengakibatkan atau kemungkinan besar mengakibatkan memar atau trauma, kematian, kerugian psikologis, kelainan perkembangan atau perampasan hak”. Dalam Deklarasi penghapusan segala bentuk kekerasan dalam bentuk kekerasan terhadap perempuan (PBB 1993), kekerasan domestik atau kekerasan dalam rumah tangga termasuk kejahatan. Ada sejumlah alasan mengapa kekerasan domestik disebut sebagai kejahatan, antara lain karena kejahatan domestik ini umumnya terjadi karena masih adanya diskriminasi posisi antara mereka yang melakukan kekerasan dengan mereka yang menjadi korban kekerasan. Biasanya mereka yang melakukan kekerasan merasa posisinya dominan dibandingkan mereka yang menjadi korban, dan jika ini terjadi di rumah tangga yang seharusnya mengayomi setiap individu, maka ini dapat digolongkan sebagai kejahatan.

Didalam rumah tangga ketegangan maupun konflik merupakan hal yang bisa terjadi. Tak ada satupun keluarga yang tidak mengalaminya. Pada tingkatan yang wajar pertengkaran bahkan bisa menjadi pewarna yang dapat menambah semarak dan hangatnya hubungan antara suami istri. Akan tetapi kadang-kadang konflik dan ketegangan tersebut berkembang menjadi tindak kekerasan yang terjadi didalam rumah tangga atau disebut KDRT. Setiap perbuatan yang dilakukan seseorang atau beberapa orang terhadap orang lain, yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual dan atau psikologis,termasuk ancaman perbuatan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang atau penekanan secara ekonomis yang terjadi dalam lingkup keluarga. Seseorang dikatakan sebagai korban kekerasan apabila menderita kerugian fisik, mengalami luka atau kekerasan psikologis, trauma emosional, tidak hanya dipandang dari aspek legal, tetapi juga sosial dan kultural.Bersamaan dengan berbagai penderitaan itu, dapat juga terjadi kerugian harta benda. Tindak kekerasan mempunyai cakupan yang luas seperti kekerasan psikologis, seksual, dan pembatasan kebebasan secara seksual.

Karakteristik korban dan pelaku KDRT, antara lain :

  1. Pasangan
  2. Korban adalah wanita antara usia 26-35 tahun.
  3. Berasal dari seluruh ras dan etnik.
  4. 90% dari pelaku kekerasan memiliki catatan kriminal lain.
  5. 30-35% pelaku kekerasan memiliki masalah kronis yang berhubungan alkohol dengan 10% diantaranya menjalani perawatan aktif akibat kekerasan mereka,kaum wanita dengan problem yang sama,berjumlah sekitar 10%.
  6. 16% pelaku kekerasan menggunakan narkoba, 20% menjalani pengobatan.
  7. Sindrom ini kebanyakan didapatkan pada kelompok sosial ekonomi rendah.
  8. Hubungan
  9. Biasa dimulai pada usia dewasa tua atau dewasa muda.
  10. Kekerasan terjadi pada 15 tahun pertama dalam hubungan dan seringkali 70% kasus dimulai pada awal hubungan.
  11. Hubungan selanjutnya hanya didukung oleh ikatan.
  12. Sindrom ini menjadi hal yang biasa dalam perkawinan dan legal dalam hubungan.
  13. Sekitar 50% wanita hamil trimester kedua atau ketiga saat mereka mengalami kekerasan.
  14. Riwayat Dahulu
  15. 80%wanita memiliki riwayat kekerasan dalam rumah tangga pada masa anak-anak dan melihat ayahnya melakukan kekerasan terhadap ibu mereka.
  16. 30% pasangan yang melakukan kekerasan memiliki riwayat yang sama.
  17. Sekitar sepertiga korban diceraikan atau ditelantarkan.

2.1.2    Bentuk – Bentuk KDRT        

Tindakan kekerasan pada dasarnya dapat dibagi dalam empat kategori, yaitu kekerasan yang bersifat fisik dan nonfisik (psikologis),kekerasan seksual dan kekerasan ekonomi (penelantaran rumah tangga).

  1. Kekerasan Fisik yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Misalnya perbuatan memukul, menempeleng, meninju, menampar, menendang, mendorong, melempar sesuatu, menjambak rambut, mencekik, dan penggunaan senjata tajam.
  2. Kekerasan Psikologis, yaitu perbuatan yang bersifat verbal yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Misalnya mengejek, mencela, menghina, memaki dengan kata-kata kotor, mengancam akan menyiksa, membawa pergi anak-anak, akan membunuh, melarang berhubungan dengan keluarga, atau dengan kawan dekat, atau melakukan intimidasi bahkan isolasi.
  3. Kekerasan Seksual, yaitu pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga, dan pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau tujuan tertentu. Misalnya pemerkosaan.
  4. Penelantaran Rumah Tangga (Kekerasan Ekonomi), yaitu perbuatan menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut (pasal 9).Misalnya: membatasi pemberian nafkah, tidak merawat anak-anak, meninggalkan rumah tangga dengan tidak bertanggung jawab, memaksa anak-anak mengemis, memaksa anak atau istri melakukan prostitusi.

Adapun lingkup, bentuk dan akibat dari kekerasan dalam rumah tangga dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini :

Tabel 1.Lingkup,Bentuk dan Akibat dari Kekerasan dalam Rumah Tangga

 

No Lingkup KDRT Bentuk KDRT Akibat KDRT
Kekerasan fisik
  1. Menampar
  2. Memukul
  3. Menjabak
  4. Mendorong
  5. Meginjak
  6.  Melempar dengan barang- barang
  1. Rasa sakit atau luka fisik cacat pada tubuh seseorang
  2. Matinya seseorang
Kekerasan Psikologis
  1. Ucapan yang menyakitkan
  2. Kata-kata kotor
  3. Bentakan
  4. Penghinaan
  5. Ancaman
  1. Ketakutan
  2. Hilangnya rasa percaya diri
  3. Hilangnya kemampuan untuk bertindak dan rasa tidak berdaya
  4. Penderita psikis berat hingga kegilaan pada seseorang
Kekerasan Seksual
  1. Perkosaan
  2. Pemaksaan hubungan seksual
  3. Pemukulan dan bentuk-bentuk kekerasan yang mendahului saat atau setelah hubungan seksual
  4. Pornografi
  5. Pemaksaan pada istri untuk terus menerus hamil
  6. Pelecehan seksual
  7. Memaksakan korban untuk melakukan hubungan seksual tanpa persetujuannya atau disaat korban tidak menghendaki
Kekerasan Ekonomi
  1. Untuk mengontrol perilaku istri,suami tidak memberikan  atau pendapatan untuk memenuhi uang atau pendapatan untuk memenuhi kehidupan keluarga sementara itu istri dilarang bekerja
  2. Suami memaksa istri untuk mencari uang
  3. Suami tidak bertanggung jawab menafkahi keluarga dan membiarkan istri untuk mencari nafkah untuk anak dan keluarga
  4. Suami menguasai uang atau barang milik istri dengan berbagai cara dan alasan
  5. Ketergantungan korban kepada pelaku secara ekonomi dengan membatasi atau atau melarang korban untuk  bekerja di dalam atau di luar rumah
  6. Membiarkan korban untuk dieksploitasi di luar atau didalam rumah
  7. Melantarkan anggota keluarga

Sumber: Peta kekerasan pengalaman perempuan Indonesia.2002.

2.1.3    Faktor Penyebab kekerasan dalam rumah tangga, yaitu :

  1. Sosial Budaya
  2. Budaya patriarkhi yang menduduki laki-laki sebagai makhluk superior dan perempuan sebagai makhluk inferior
  3. Pemahaman yang keliru terhadap ajaran agam sehingga menganggap  bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan
  4. Peniruan anak laki-laki yang hidup bersama ayah yang suka memukul, biasanya akan meniru perilaku ayahnya.
  5. Faktor Masyarakat
  6. Kemiskinan
  7. Urbanisasi yang terjadi disertainya kesenjangan pendapat diantara penduduk kota
  8. Masyarakat keluarga ketergantungan obat
  9. Lingkungan dengan frekuensi kekerasan dan kriminalitas yang tinggi
  10.  Faktor Keluarga
    1. Adanya keluarga yang sakit yang membutuhkan bantuan terus menerus, misalnya anak dengan kelainan mental.
    2. Kehidupan keluarga yang kacau tidak saling mencinta dan menghargai, serta tidak menghargai peran wanita
    3. Kurang ada keakraban dan hubungan jaringan sosial pada keluarga
    4. Sifat kehidupan keluarga inti bukan keluarga luas
  11. Faktor Individu

Di  Amerika Serikat mereka yang mempuunyai resiko lebih besar mengalami kekerasan dalam rumah tangga yaitu :

  1. Wanita yang singel, bercerai atau ingin bercerai
  2. Berumur 17-28 tahun
  3. Ketergantungan obat atau alkohol atau riwayat ketergantungan kedua zat  itu
  4. Sedang hamil
  5. Mempunyai partner dengan sifat memiliki dan cemburu yang berlebihan
  1. Faktor Komunikasi

a. Salah ucapan atau tulisan yang menyebabkan salah pengertian

b. Hambatan pada media yang digunakan, misalnya suara telepon yang

krotokan, ketikan huruf yang buram pada surat

c. Prasangka yang tidak baik

d. Salah pengertian mengenai pesan yang disampaikan

e. Gangguan lingkungan seperti suara riuh orang-orang atau kebisingan lalu lintas, suara hujan atau petir, suara pesawat terbang yang lewat dan lain- lain.

2.1.4    Korban Kekerasan dalam rumah tangga

Dalam UU RI No 23 Tahun 2004, Pasal 1 ayat 3 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga menjelaskan bahwa : “Korban adalah orang yang mengalami kekerasan dan atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah tangga”. Korban kekerasan dalam rumah tangga yaitu: (Dokumentasi WCC,2012)

  1. Istri

Istri yang sering menjadi korban pemukulan adalah istri yang tidak melakukan kegiatan produktif. Istri yang banyak mengalami kekerasan dari suaminya dalah pasangan yang berusia kawin 1-10 tahun.

  1. Anak  berusia 20-24 tahun
  2. Pembantu rumah tangga berusia sekitar  50 tahun

2.1.5    Dampak Kekerasan Domestik Atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga

  1. Dampak Medis

Keluarga yang mengalami kekerasan domestik akan pergi ke ruang gawat darurat 6 kali lebih banyak dengan mereka yang tidak mengalaminya dan pergi ke  dokter 8 kali lebih banyak dari mereka yang tidak mengalami. Tentu mereka membutuhkan biaya kesehatan yang lebih besar.

  1. Dampak Emosional

Depresi, penyalahgunaan obat dan alkohol, kecemasan, percobaan bunuh diri, keadaan stress pasca trauma, rendahnya kepercayaan diri.

  1. Dampak Secara Profesional

Kinerja yang buruk, lebih banyak waktu yang digunakan untuk mengatasi persoalan, antara lain karena membutuhkan dampingan (konseling), ketakutan kehilangan pekerjaan dan sementara bekerja, korban terus mendapat kekerasan.

  1. Dampak Pribadi

Anak-anak yang hidup dalam lungkungan kekerasan berpeluang lebih besar bahwa hidupnya akan dibimbing oleh kekerasan, peluang terjadinya kekejaman terhadap anak lebih tinggi dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan domestik dan anak-anak yang menjadi saksi kekerasan akan menjadi truma didalamnya anti sosial dan depresi.

2.1.6    Faktor-faktor yang Mempengaruhi KDRT

Kekerasan dalam rumah tangga dapat dipicu oleh banyak faktor, diantaranya yaitu : faktor ekonomi, pendidikan yang rendah, cemburu dan bisa juga disebabkan adanya salah satu orang tua dari kedua belah pihak, yang ikut ambil andil dalam sebuah rumah tangga.

  1. Faktor Ekonomi

Kekerasan dalam rumah tangga yang disebabkan faktor ekonomi, bisa digambarkan misalnya minimnya penghasilan suami dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga. Terkadang ada seorang istri yang terlalu banyak menuntut dalam hal untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, baik dari kebutuhan sandang pangan maupun kebutuhan pendidikan. Dari situlah timbul pertengkaran antara suami dan istri yang akhirnya menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga. Kedua belah pihak tidak lagi bisa mengontrol emosi masing-masing. Seharusnya seorang istri harus bisa memahami keuangan keluarga. Naik turunnya penghasilan suami sangat mempengaruhi besar kecilnya pengeluaran yang dikeluarkan untuk keluarga. Disamping pendapatan yang kecil sementara pengeluaran yang besar seorang istri harus mampu mengkoordinir berapapun keuangan yang ada dalam keluarga, sehingga seorang istri dapat mengatasi apabila terjadi pendapatan yang minim. Cara itu bisa menghindari pertengkaran dan timbulnya KDRT di dalam sebuah keluarga.

  1. Faktor Pendidikan

Dari faktor pendidikan bisa disebabkan oleh tidak adanya pengetahuan dari kedua belah pihak bagaimana cara mengimbangi dan mengatasi sifat-sifat yang tidak cocok diantara keduanya. Mungkin di dalam sebuah rumah tangga ada suami yang memiliki sifat arogan dan cenderung menang sendiri, karena tidak adanya pengetahuan. Maka sang istri tidak tahu bagaimana cara mengatasi sifat suami yang arogan itu sendiri. Sehingga, sulit untuk menyatukan hal yang berbeda. Akhirnya tentulah kekerasan dalam rumah tangga. Kalau di dalam rumah tangga terjadi KDRT, maka perempuan akan menjadi korban yang utama. Seharusnya seorang suami dan istri harus banyak bertanya dan belajar, seperti membaca buku yang memang isi bukunya itu bercerita tentang bagaimana cara menerapkan sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.

  1. Faktor Komunikasi

Di dalam sebuah rumah tangga butuh komunikasi yang baik antara suami dan istri, agar tercipta sebuah rumah tangga yang rukun dan harmonis. Jika di dalam sebuah rumah tangga tidak ada keharmonisan dan kerukunan diantara kedua belah pihak, itu juga bisa menjadi pemicu timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. Seharusnya seorang suami dan istri bisa mengimbangi kebutuhan psikis, di mana kebutuhan itu sangat mempengaruhi keinginan kedua belah pihak yang bertentangan. Seorang suami atau istri harus bisa saling menghargai pendapat pasangannya masing-masing.

Seperti halnya dalam berpacaran. Untuk mempertahankan sebuah hubungan, butuh rasa saling percaya, pengertian, saling menghargai dan sebagainya. Begitu juga halnya dalam rumah tangga harus dilandasi dengan rasa saling percaya. Jika sudah ada rasa saling percaya, maka mudah bagi kita untuk melakukan aktivitas.

  1. Faktor Cemburu

Jika tidak ada rasa kepercayaan maka yang timbul adalah sifat cemburu yang
kadang berlebih dan rasa curiga yang kadang juga berlebih-lebihan. Tidak sedikit seorang suami yang sifat seperti itu, terkadang suami juga melarang istrinya untuk beraktivitas di luar rumah. Karena mungkin takut istrinya diambil orang atau yang lainnya. Jika sudah begitu kegiatan seorang istri jadi terbatas. Kurang bergaul dan berbaur dengan orang lain. Ini adalah dampak dari sikap seorang suami yang memiliki sifat cemburu yang terlalu tinggi. Banyak contoh yang kita lihat dilingkungan kita, kajadian seperti itu. Sifat rasa cemburu bisa menimbukan kekerasan dalam rumah tangga.

Kekerasan dalam rumah tangga juga bisa disebabkan tidak adanya rasa cinta pada diri seorang suami kepada istrinya, karena mungkin perkawinan mereka terjadi dengan adanya perjodohan diantara mereka tanpa didasari dengan rasa cinta terlebih dahulu. Itu bisa membuat seorang suami menyeleweng dari garis-garis menjadi seorang suami yang baik dan lebih bertanggung-jawab. Suami sering bersikap kasar dan ringan tangan. Untuk menghadapi situasi yang seperti ini, istri butuh kesabaran yang sangat amat besar. Berusaha berbuat semanis mungkin agar suami bisa berubah dan bersikap manis kepada istri.Maka dari itu, di dalam sebuah rumah tangga kedua belah pihak harus sama-sama menjaga agar tidak terjadi konflik yang bisa menimbulkan kekerasan. Tidak hanya satu pihak yang bisa memicu konflik di dalam rumah tangga, bisa suami maupun istri. Sebelum kita melihat kesalahan orang lain, marilah kita berkaca pada diri kita sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi pada diri kita, sehingga menimbulkan perubahan sifat yang terjadi pada pasangan kita masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd