Interaksi Sosial Remaja

Posted on : Januari 2, 2017 | post in : TEORI ADMINISTRASI,TEORI SOSIAL |Leave a reply |

1.1    Interaksi Sosial Remaja

Manusia adalah makhluk sosial, oleh karena itu dalam kesehariannya manusia pasti akan membutuhkan bantuan orang lain. Misalnya saja, beras yang kita makan sehari hari merupakan hasil kerja keras para petani, rumah yang menjadi tempat tinggal kita merupakan hasil dari kerjasama para pekerja bangunan atau mungkin tetangga kita yang sudah membantu untuk mendirikan rumah. Jadi, sudah jelas bahwa manusia tidak akan mampu hidup di dunia ini sendirian tanpa bantuan dari orang lain.Adanya kebutuhan akan bantuan tersebut yang menjadi awal dari terbentuknya interaksi sosial dengan orang lain.

Menurut  Ahmadi (2007:49) bahwa interaksi sosial merupakan hubungan antara individu atau lebih, dimana individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki individu yang lain atau sebaliknya. Hal itu senada dengan pendapat yang diungkapkan Walgito (2003:65) yang menyatakan bahwa “Interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara individu satu dengan individu lainnya, dimana individu yang satu dapat mempengaruhi individu yang lainnya sehingga terjadi hubungan yang saling timbal balik”.

Pengertian lain dari interaksi sosial menurut Ali dan Asror, (2004:87) yaitu “peristiwa salaing mempengaruhi satu ama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain, atau berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Suranto (2011:5) menyatakan bahwa “interaksi sosial adalah suatu proses hubungan yang dinamis dan saling pengaruh-mempengaruhi antar manusia.

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, dimana individu yang satu mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya sehingga terjadi hubungan yang saling timbal balik.

1.1.1        Ciri Ciri Interaksi Sosial

Dalam interaksi sosial terdapat beberapa ciri  ciri yang tekandung di dalamnya, diantaranya adalah menurut Santosa (2004:11) mengatakan bahwa “ciri ciri interaksi sosial adalah adanya hubungan; adanya individu; adanya tujuan; dan adanya hubungan dengan struktur dan fungsi sosial”. Secara rinciadalah sebagai berikut :

  1. Adanya hubungan.  Setiap interaksi sudah barang tentu terjadi karena adanya hubungan antara individu dengan individu maupun antara individu dengan kelompok.
  2. Ada Individu. Setiap interaksi sosial menurut tampilnya individu – individu yang melaksanakan hubungan.
  3. Ada Tujuan. Setiap interaksi sosial memiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi individu lain.
  4. Adanya Hubungan dengan struktur dan fungsi sosial. Interaksi sosial yang ada hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok.

            Di samping itu, tiap tiap individu memiliki fungsi di dalam kelompoknya. Berdasarkan ciri ciri interaksi sosial di atas dapat disimpulkan bahwa dalam berinteraksi sosial pastinya akan terjalin hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, dan di dalam interaksinya itu pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan individu maupun kelompok. Untuk mencapai tujuan itu diperlukan adanya struktur dan fungsi sosial.

 1.1.2        Faktor Yang Mempengaruhi Interaksi Sosial

            Faktor faktor yang mempengaruhi berlangsungnya interaksi sosial, baik secara tunggal maupun secara bergabung menurut Gabriel Tarde (dalam Ahmadi.2007: 52) adalah :

  1. Faktor Imitasi.

Faktor imitasi seluruh kehidupan sosial itu sebenarnya berdasarkan pada faktor imitasi saja. Hal tersebut misalnya pada anak yang sedang belajar bahasa, seakan  akan mereka mengimitasi dirinya sendiri, mengulang bunyi kata kata, melatih fungsi lidah, dan mulut untuk berbicara. Kemudian ia mengimitasikan kepada orang lain, dan memang sukar orang belajar bahasa tanpa mengimitasi orang lain, bahkan tidak hanya berbahasa saja, tetapi juga tingkah laku tertentu, cara memberi hormat, cara berterima kasih, cara memberi isyarat, dan lain  lain kita pelajari pada mula mulanya mengimitasi. Peranan faktor imitasi dalam interaksi sosial juga mempunyai segi segi yang negatif, yaitu :

  1. Mungkin yang diimitasi itu salah, sehingga menimbulkan kesalahan kolektif yang meliputi jumlah manusia yang besar.
  2. Kadang kadang orang yang mengimitasi sesuatu tanpa kritik, sehingga dapat menghambat perkembangan kebiasaan berpikir kritis.
  1. Faktor Sugesti

Sugesti yang dimaksud adalah pengaruh psikis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik. Karena itu dalam psikologi sugesti ini dibedakan adanya :

  1. Auto  sugesti, yaitu sugesti terhadap diri yang datang dari dirinya sendiri.
  2. Hetero  sugesti, yaitu sugesti yang datang dari orang lain.

Baik auto-sugesti maupun hetero-sugesti dalam kehidupan sehari hari memegang peranan yang cukup penting. Banyak hari – hari yang tidak diharapkan oleh individu baik karena auto-sugesti maupun karena hetero sugesti. Arti sugesti dan imitasi dalam hubungannya dengan interaksi sosial adalah hampir sama. Bedanya ialah bahwa dalam imitasi orang yang satu mengikuti salah satu darinya, sedangkan pada sugesti seseorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang lain di luarnya.

Dalam ilmu jiwa sosial sugesti dapat dirumuskan sebagai suatu proses di mana seorang individu menerima suatu cara penglihatan, atau pedoman  pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Sugesti akan mudah terjadi bila memenuhi syarat syarat dahulu, adalah : (Ahmadi.2007: 52)

1)        Sugesti karena hambatan berpikir

Sugesti akan diterima oleh orang lain tanpa adanya kritik terlebih dahulu. Karena itu maka bila orang itu dalam keadaan bersikap kritis adalah sulit untuk menerima sugesti dari orang lain. Makin kurang daya kemampuannya memberikan kritik maka akan makin mudahlah orang itu menerima sugesti dari orang lain. Dari kritik itu akan mengalami hambatan kalau individu itu dalam keadaan lemah/lelah misalnya, terutama lelah berpikirnya, atau kalau individu itu terkena stimulus yang bersifat emosional, hal ini biasanya akan dapat mempengaruhi daya berpikirnya dalam arti bahwa daya berpikirnya itu akan terhalang oleh karena adanya emosi itu. Pada umumnya apabila orang terkena kesan atau stimulus yang bersifat emosional tidak dapat lagi berpikir secara baik atau secara kritis, sehingga dengan demikian akan mudah menerima apa yang dikemukakan oleh orang lain.

2)        Sugesti karena keadaan pikiran terpecah belah (dissosiasi).

Orang itu akan mudah juga menerima sugesti dari orang lain apabila kemampuan berpikirnya itu terpecah belah. Orang itu mengalami dissosiasi kalau orang itu dalam keadaan kebingungan karena menghadapi bermacam macam persoalan misalnya. Karena itu orang yang sedangkebingungan pada umumnya akan mudah menerima apa yang dikemukakan oleh orang lain tanpa dipikir terlebih dahulu.

3)        Sugesti karena mayoritas

Dalam hal ini orang akan mempunyai kecenderungan untuk menerima suatu pandangan, pendapat, atau norma – norma, dan sebagainya, apabila norma norma itu mendapatkan dukungan orang banyak atau mayoritas, dimana sebagian besar dan kelompok atau golongan itu memberikan sokongan atas pendapat, pandangan – pandangan tersebut. Orang akan merasa terasing apabila menolak pendapat, pandangan, atau norma, dan sebagainya yang telah mendapatkan dukungan dan mayoritas itu. Orang beranggapan oleh karena sebagian besar dari anggota telah menerimanya, maka adalah akan terasing atau tersingkir dan mayoritas bila tidak ikut menerimanya.

4)        Sugesti karena minoritas.

Orang mempunyai kecenderungan bahwa akan mudah menerima apa yang dikemukakan oleh orang lain itu apabila yang memberikan itu mempunyai otoritas mengenai masalah yang disampaikan. Hal demikian akan menimbulkan suatu sikap percaya bahwa apa yang dikemukakan itu memang benar, karena menjadi bidangnya, sehingga hal ini akan menimbulkan suatu pendapat bahwa apa yang dikemukakan itu pasti mengandung kebaikan atau kebenaran.

5)        Sugesti karena will to believe

Bila dalam diri individu telah ada pendapat yang mendahuluinya dan pendapat ini masih dalam keadaan yang samar samar dan pendapat tersebut searah dengan yang disugestikan itu, maka pada umumnya orang itu akan mudah menerima pendapat tersebut. Orang yang ada dalam keadaan ragu ragu akan mudah menerima sugesti dari pihak lain. Dengan demikian sugesti itu akan lebih meyakinkan tentang pendapat yang telah ada padanya yang masih dalam keadaan samar  samar itu.

  1. Faktor Identifikasi

Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun secara bantiniah. Misalnya identifikasi seorang anak perempuan untuk menjadi sama seperti ibunya. Proses identifikasi ini mula mula berlangsung secara tidak sadar (secara dengan sendirinya) kemudian irrasional, yaitu berdasarkan perasaan perasaan atau kecenderungan  kecenderungan dirinya yang tidak diperhitungkan secara rasional, dan yang ketiga identifikasi berguna untuk melengkapi sistem norma norma, cita cita, dan pedoman pedoman tingkah laku orang yang mengidentifikasi itu. Identifikasi perlu dimulai lebih dahulu dengan teliti sebelum mereka mengidentifikasikan dirinya. Nyata bahwa saling hubungan sosial yang berlangsung pada identifikasi adalah lebih mendalam daripada hubungan yang berlangsung atas proses  proses sugesti maupun imitasi.

  1. Faktor Simpati

Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses identifikasi. Bahkan orang dapat tiba tiba merasa tertarik kepada orang lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara cara bertingkah laku menarik baginya. Proses simpati dapat pula berjalan secara perlahan  lahan secara sadar dan cukup nyata dalam hubungan dua atau lebih orang. Perbedaannya dengan identifikasi, dorongan utamanya adalah ingin mengikuti jejak. Mencontoh dan ingin belajar. Sedangkan pada simpati, dorongan utama adalah ingin mengerti dan ingin kerjasama. Dengan demikian simpati hanya akan berlangsung dan berkembang dalam relasi kerja sama antara dua orang atau lebih, bila terdapat saling pengertian.

1.1.3        Kriteria Kemampuan Interaksi Sosial Yang Baik

Kemampuan interaksi sosial merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Dalam menjalin hubungan, pastilah terjadi suatu kontak dan komunikasi antara individu yang satu dengan individu yang lainnya. Kontak yang terjadi tersebut dapat berupa kontak primer atau kontak langsung maupun kontak sekunder atau tidak langsung. Hal tersebut merupakan syarat mutlak terbentuknya hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain. Penjelasan tersebut di perkuat dengan pendapatnya Dayakisni dan Hudaniah (2009:119) yang menyatakan bahwa, “interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi”.

            Menurut Santosa (2004:11), ciri ciri interaksi sosial adalah adanya hubungan; adanya individu; adanya tujuan; dan adanya hubungan dengan struktur dan fungsi sosial. Dalam lingkungan sekolah, ciri  ciri interaksi sosial dapat dicontohkan misalnya hubungan antara kepala sekolah dengan guru, antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan karyawan lain yang ada di sekolah, dan sebagainya. Ciri ciri yang baik antara siswa dengan siswa misalnya adanya kebersamaan, rasa saling membutuhkan, saling menghargai, dan menghormati, saling membantu satu sama lain, tidak membedakan status sosial.

            Terkait dengan syarat terjadinya interaksi sosial, dapat disimpulkan bahwa kriteria interaksi sosial yang baik adalah individu dapat melakukan kontak sosial dengan baik, baik kontak primer maupun sekunder, dan hal ini ditandai dengan kemampuan individu dalam melakukan percakapan dengan orang lain, saling mengerti, dan mampu bekerjasama dengan orang lain. Selain itu, individu juga perlu memiliki kemampuan melakukan komunikasi dengan orang lain, yang  ditandai dengan adanya rasa keterbukaan, empati, memberikan dukungan, rasa positif pada orang lain, dan adanya kesamaan atau disebut kesetaraan dengan orang lain. Kemampuan – kemampuan tersebut menunjukkan kriteria interaksi sosial yang baik.

1.1.4        Syarat  Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

            Ada dua syarat pokok terjadinya interaksi sosial, senada dengan pendapat Dayakisni dan Hudaniah (2009:119) yang menyatakan bahwa interaksi sosial tidak mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu adanya kontak sosial dan komunikasi. Pertama adalah kontak sosial; kontak sosial dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok. Menurut Abdulsyani (1994:154) “kontak sosial adalah hubungan antara satu orang atau lebih, melalui percakapan dengan saling mengerti tentang maksud dan tujuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat”.

            Kontak sosial dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kontak primer dan kontak sekunder. Kontak primer, terjadi apabila seseorang mengadakan hubungan secara langsung seperti : tatap muka, saling senyum, berjabat tangan, dan lain lain. Sedangkan kontak sekunder, yaitu kontak tidak langsung atau memerlukan perantara seperti : menelpon dan berkirim surat. Apabila dicermati, baik dalam kontak primer maupun kontak sekunder terjadi hubungan timbal balik antara komunikator dan komunikan. Dalam percakapan tersebut agar kontak sosial dapat berjalan dengan baik, harus ada rasa saling pengertian dan kerjasama yang baik antara komunikator dengan komunikan.

            Dari penjelasan di atas terlihat ada tiga komponen pokok dalam kontak sosial, yaitu : (1) percakapan, (2) saling pengertian, (3) kerjasama antara komunikator dan komunikan. Ketiga komponen tersebut merupakan kemampuan interaksi sosial yang harus dimiliki oleh individu. Ketiga komponen pokok dalam kontak sosial itu akan dijadikan indikator dalam penyusunan instrumen yang akan digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini. Yang kedua adalah adanya komunikasi; sementara komunikasi baik verbal maupun non verbal merupakan saluran untuk menyampaikan perasaan ataupun gagasan dan sekaligus sebagai media untuk dapat menafsirkan atau memahami pikiran atau perasaan orang lain.

            Menurut De Vito dalam (Sugiyo, 2005:4) menyatakan bahwa “ciri ciri komunikasi meliputi lima ciri yaitu: keterbukaan, empati, dukungan, rasa positif, dan kesamaan”. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

  1. Keterbukaan atau opennes

Komunikasi antar pribadi mempunyai ciri keterbukaan maksudnya adanya kesediaan kedua belah pihak untuk membuka diri, mereaksi kepada orang lain, merasakan pikiran dan perasaan orang lain. Keterbukaan ini sangat penting dalam komunikasi antarpribadi agar komunikasi menjadi lebih bermakna dan efektif.  Keterbukaan ini berarti adanya niat dari masing-masing pihak yang dalam hal ini antara komunikator dan komunikan saling memahami dan membuka pribadi masing-masing.

  1. Empati

Dalam komunikasi antarpribadi perlu ada empati dari komunikator, hal ini dapat dinyatakan bahwa komunikasi antarpribadi akan berlangsung secara kondusif apabila pihak komunikator menunjukkan rasa empati pada komunikan. Empati dapat diartikan sebagai menghayati perasaan orang lain atau turut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Menurut Sugiyo (2005: 5) empati adalah sebagai suatu kesediaan untuk memahami orang lain secara paripurnabaik yang nampak maupun yang terkandung, khususnya dalam aspek perasaan, pikiran, dan keinginan. Dengan berempati kita menempatkan diri dalam suasana perasaan, pikiran, dan keinginan orang lain sedekatmungkin. Secara psikologis apabila dalam komunikasi komunikator menunjukkan empati pada komunikan akan menunjang berkembangnya suasana hubungan yang didasari atas saling pengertian, penerimaan, dipahami, dan adanya kesamaan diri.

  1. Dukungan

Dalam komunikasi antarpribadi perlu dimunculkan sikap memberi dukungan dari pihak komunikator agar komunikan mau berpartisipasi dalam kominikasi. Sugiyo (2005:5) secara tegas menyatakan keterbukaan dan empati tidak akan bertahan lama apabila tidak didukung oleh suasana yang mendukung. Hal ini berarti bahwa dalam komunikasi antarpribadi perlu adanya suasana yang mendukung atau memotivasi, lebih-lebih dari komunikator.

  1. Rasa positif

Rasa positif dalam komunikasi antarpribadi ditunjukkan oleh sikap dari komunikator khususnya sikap positif. Sikap positif dalam hal ini berarti adanya kecenderungan bertindak pada diri komunikator untuk memberikan penilaian yang positif terhadap komunikan. Dalam komunikasi antarpribadi sikap positif ini ditunjukkan oleh sekurang-kurangnya dua aspek/ unsur yaitu: pertama, komunikasi antarpribadi hendaknya memberikan nilai positif dari komunikator. Maksud pernyataan ini yaitu apabila dalam komunikasi, komunikator menunjukkan sikap positif terhadap komunikan maka komunikan juga akan menunjukkan sikap positif. Sebaliknya jika komunikator menunjukkan sikap negatif maka komunikan juga akan bersikap negatif. Kedua, perasaan positif pada diri komunikator. Hal ini berarti bahwa situasi dalam komunikasi antarpribadi hendaknya menyenangkan. Apabila kondisi ini tidak muncul maka komunikasi akan terhambat dan bahkan akan terjadi pemutusan hubungan.

  1. Kesamaan

Kesamaan menunjukkan kesetaraan antara komunikator dan komunikan. Dalam komunikasi antarpribadi kesetaraan ini merupakan ciri yang penting dalam keberlangsungan komunikasi dan bahkan keberhasilan komunikasi antarpribadi. Apabila dalam komunikasi antarpribadi komunikator merasa mempunyai derajat kedudukan yang lebih tinggi daripaad komunikan maka dampaknya akan ada jarak dan ini berakibat proses komunikasi akan terhambat. Namun apabila komunikator memposisikan dirinya sederajat dengan komunikan maka pihak komunikan akan merasa nyaman sehingga proses komunikasi akan berjalan dengan dengan baik dan lancar. Dalam melakukan komunikasi dengan orang lain, harus ada rasa keterbukaan, empati, memberikan dukungan atau motivasi, rasa positif pada orang lain, dan adanya kesamaan atau kesetaraan dengan orang lain.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa syarat – syarat yang dibutuhkan dalam interaksi adanya kontak sosial dan adanya komunikasi, baik itu kontak primer maupun kontak sekunder dan komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Apabila individu mampu memenuhi syarat syarat yang ada dalam interaksi sosial, maka akan terjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Syarat – syarat interaksi sosial diatas akan dijadikan sebagai indikator dalam penyusunan skala interaksi sosial.

 Berdasarkan teori teori tentang interaksi sosial di atas, dapat disimpulkan bahwa interaksi sosial adalah hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, dimana individu yang satu mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya sehingga terjadi hubungan saling timbal balik. Aspek yang akan diteliti dalam penelitian ini diambil dari syarat – syarat kemampuan interaksi  sosial. Adapun syarat interaksi sosial yaitu adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. Indikator dari interaksi sosial yaitu (1) percakapan, (2) saling pengertian, (3) bekerjasama, (4) keterbukaan, (5) empati, (6) memberikan dukungan atau motivasi, (7) rasa positif, (8) adanya kesamaan dengan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd