Motivasi Kerja

Posted on : Januari 2, 2017 | post in : TEORI MANAJEMEN |Leave a reply |

Istilah motivasi (motivation) berasal dari bahsa latin, yakni movere yang berarti “menggerakkan” (to move). Motivasi mewakili proses-proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya, terjadinya persistensi kegiatan-kegiatan yang sukarela (voolunter) yang diarahkan ke tujuan tertentu (Mitchell dalam Winardi, 2007).

Menurut Winardi (2007) motivasi adalah suatu kekuatan potensial yang ada dalam diri seorang manusia yang dapat dikembangkannya sendiri atau dikembangkan oleh kekuatan luar yang pada intinya berkisar sekitar imbalan moneter dan non moneter yang dapat mempengaruhi hasil kinerjanya secara positif atau secara negatif, hal ini tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi oleh orang yang bersangkutan.

Motivasi adalah suatu kegiatan yang mendorong seorang individu untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Sesuatu yang diinginkan itu mungkin untuk kebaikan individu tersebut atau untuk orang yang memberi dorongan tadi, atau untuk keduanya (Prasetyo, 2006). Robbins (2006) motivasi sebagai suatu proses yang ikut menentukan intensitas arah, dan ketekunan individu dalam usaha mencapai sasaran.

Prinsip-Prinsip dalam Motivasi Kerja

Menurut Mangkunegara (2000) terdapat beberapa prinsip dalam memotivasi kerja pegawai yaitu:

1)   Prinsip Partisipatif

2)   Prinsip Komunikasi

3)   Prinsip Mengakui andil bawahan

4)   Prinsip pendelegasian wewenang

5)   Prinsip Memberi perhatian

Komponen dan Model Motivasi

Komponen dasar motivasi terdiri dari: (Prasetyo, 2006).

1)   Kebutuhan

Kebutuhan adalah suatu yang dirasakan oleh individu sebagai hasil dari adanya perbedaan antara keadaan sekarang atau saat itu dengan keadaan yang diinginkan (Kindra, dkk dalam Prasetyo, R 2006).

2)   Dorongan

Kebutuhan yang dirasakan oleh individu berperan sebagai titik awal terjadinya proses motivasi, karena individu yang merasakan kebutuhan selalu ingin memenuhi kebutuhan itu, maka dia terdorong untuk berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan. Ini terjadi selama tujuan itu  belum tercapai. Bila tujuannya tercapai, maka muncul kepuasan yang menjadi umpan balik yang akan digunakan lagi bila terjadi kebutuhan yang sama pada waktu mendatang, dalam arti dia akan melakukan prilaku yang sama untuk memenuhi kebutuhan itu (Kindra dalam Prasetyo, 2006).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd