LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN NUTRUSI

Posted on : Maret 17, 2017 | post in : Ns |Leave a reply |

Pengertian

Nutrisi adalah zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses proses dalam tubuh manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktivitas penting dalam tubuhnya serta mengeluarkan sisanya. Nutrisi dapat dikatakan sebagai ilmu tentang makanan, zat-zat gizi dan zat lain yang terkandung, aksi reaksi dan keseimbangan yang berhubungan dengan kesehatan dan penyakit (Wartonah, 2010). Nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000).

Menurut Rock (2004) nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk berlangsungnya fungsi normal setiap organ baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi. Sedangkan menurut Supariasa (2001), nutrisi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses degesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energy.

Anatomi Fisiologi dan Sistem Pencernaan

  1. Mulut / Oris

Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

  1. Faring

Merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan (osofagus), di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi.

  1. Esofagus

Merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung, panjangnya ± 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung. Esofagus dibagi mejadi tiga bagian;

  1. Bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)
  2. Bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)
  3. Bagaian inferior (terutama terdiri dari otot halus)
  4. Gaster / Lambung

Merupakan bagian dari saluran yang terdiri atas fundus uteri berhubungan dengan esofagus melalui orifisium pilorik, terletak dibawah diapragma didepan pankreas dan limpa.

  1. Usus Halus / Intestinum Minor

Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejenum), usus penyerapan (illeum). Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.

  1. Usus Besar / Intestinum Mayor

Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus besar terdiri dari :

  1. Kolon asendens
  2. Kolon transversum
  3. Kolon desendens
  4. Kolon sigmoid

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.

  1. Etiologi
  2. Fisiologi
  • Intake nutrient
  1. Nausea dan Kemampuan mendapat dan mengolah makanan
  2. Pengetahuan
  3. Gangguan penelan / menelan
  4. Perasaan tidak nyaman setelah makan
  5. Anoreksia
  6. vomitus
  • Intake kalori dan lemak yg berlebihan
  1. Kemampuan mencerna nutrient

Obstruksi mencerna cairan, mal absorbsi nutrient, DM

  1. Kebutuhan metabolisme

Pertumbuhan, stres, kondisi yang meningkatkan bmr, kanker

  1. Gaya hidup dan betrlebihan

Kebiasaan makanan yang baik perlu diterapkan pada usia foddierlusia menginjak 1 thn b.Kebiasaan makanan lansia menghindari yg penting untuk dimakan

  1. Jenis kelamin

Metabolisme  basal pada laki laki lebih besar dibandingkan dengan wanita pada laki laki dibutuhkan BMRIO Kkal /kg/bb/jam dan pada wanita oigkkal/kg/bb/jam

  1. Tinggi badan dan berat badan

Tinggi badan dan berat badan berpengaruh terhadap luas permukaan tubuh,semakin luas permukaan tubuh maka semakin besar pengeluarn panas, sehingga kebutuhn metabolisme basal tubuh juga menjadi besar

  1. Status kesehatan

Nafsu makan yang baik adalah tanda yang sehat

  1. Ekonomi

Status ekonomi dapat mempengruhi perubahan status gizi karena penyediaan makanan bergizi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit

  1. Alkohol dan obat

Penggunaan alkohol dan obat yang berlebihan memberi konstribusi pada defisiensi nutrisi karena uang mungkin dibelanjakan untuk alkohol daripada makanan. Obat obataan yg menekan nafsu makan dapat menurunkan asupan zat gizi esensial .Obat obatan juga menghabiskan zat gizi yang tersimpan dan mengurangi absorpsi zat gizi inteostine.

Patofisiologi

Fungsi utama sistem pencernaan adalah memindahkan zat nutrien (zat yang sudah dicerna), air, dan garam yang berasal dari zat makanan untuk didistribusikan ke sel-sel melalaui sistem sirkulasi. Zat makanan merupakan sumber energi bagi tubuh seperti ATP yang dibutuhkan sel-sel untuk melaksanakn tugasnya. Agar makanan dapat dicerna secara optimal dalam saluran pencernaan, maka saluran pencernaan harus mempunyai persediaan air, elektrolit dan zat makanan yang terus menerus.Untuk ini dibutuhkan:

  1. Pergerakan makan melaui saluran pencernaan.
  2. Sekresi getah pencernaan.
  3. Absorbpsi hasil pencernaan, air, dan elektrolit.
  4. Sirkulasi darah melalui organ gastrointestinal yang membawa zat yang   diabsorbpsi.
  5. Pengaturan semua fungsi oleh sistem saraf dan hormon.

Dalam lumen saluran gastroinrestinal (GI) harus diciptakan suatu lingkunugan khusus supaya pencernaan dan absorbsi dapat berlangsung.
Sekresi kelenjar dan kontraksi otot harus dikendalikan sedemikian rupa supaya tersedia lingkungan yang optimal. Mekanisme pengendalian lebih banyak dipengaruhi oleh volume dan komposisi kandungan dan lumen gastrointestinal.
Sistem pengendalian harus dapat mendeteksi keadaan lumen.sistem ini terdapat didalam dinding saluran gastrointestinal. Kebanyakan refleks GI dimulai oleh sejumlah rangsangan dilumen yaitu regangan dinding oleh isi lumen ,osmolaritas kimus atau konsenttrasi zat yang terlarut, keasaman kimus atau konsentrsi ion H, dan hasil pencernaan karbohidrat, lemak, protein (monosakarida, asam lemak dan peptide dari asam amino).

Pencernaan makanan antara lain:

  1. Mengunyah
  2. Menelan(deglusi):
  1. Pengaturan saraf pada tahap menelan
  2. Tahap menelan diesofagus
    1. Makanan dilambung
    2. Pengosongan dilambung
    3. Faktor reflexs duodenum
    4. Pergerakan usus halus :
  3. Gerakan kolon
  4. Gerakan mencampur
  5. Gerakan mendorong
    1. Defekasi

Komplikasi

  1. Kekurangan zat makanan (nutrisi) ataupun kelebihan (nutrisi)
  2. Obesitas merupakan masalah peningkatan berat badan yang mencapai lebih dari 20% berat badan normal. Status nutrisinya adalah melebihi kebutuhan metabolism karena kelebihan asupan kalori dan penurunan dalam pengguanaan kalori.
  3. Hipertensi merupakan gangguan nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai masalah pemenuhan kebutuhan nutrisi seperti penyebab dari adanya obesitas, serta asupan kalsium, natrium, dan gaya hidup yang berlebihan.
  4. Anoreksia nervosa merupakan penurunan berat badan secara mendadak dan berkepanjangan, ditandai dengan adanya konstipasi, pembengkakan badan, nyeri abdomen, kedinginan, letargi, dan kelebihan energy (Alimul, 2006)

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis atau tanda dan gejala nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh menurut buku saku diagnosa keperawatan NIC-NOC antara lain :

  1. Subjektif
  1. Kram abdomen
  2. Nyeri abdomen dengan atau tanpa penyakit.
  3. Merasakan ketidakmampuan untuk mengingesti makanan.
  4. Melaporkan perubahan sensasi rasa.
  5. Melaporkan kurangnya makanan.
  6. Merasa kenyang segrav setelah mengingesti makanan.
    1. Objektif
  7. Tidak tertarik untuk makan.
  8. Adanya bukti kekurangan makanan.
  9. Kehilangan rambut yang berlebiahan.
  10. Busing usus hiperaktif.
  11. Kurangnya minat pada makanan.
  12. Luka,rongga mulut inflamasi.

Gejala Klinis

  1. Rasa engan untuk makan
  2. Merasa tidak mampu untuk makan atau menelan makanan
  3. Menurunnya nafsu makan
  4. Kehilangan berat badan dan asupan makanan yang adekuat

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan nutrisi adalah sebagai berikut :

  1. Kadar total limfosit
  2. Albumin serum
  3. Zat besi
  4. Transferin serum
  5. Kreatinin
  6. Hemoglobin
  7. Hematokrit
  8. Keseimbangan nitrogen
  9. Tes antigen kulit

Hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan resiko status nutrisi buruk meliputi penurunan hemoglobin dan hematokrit, penurunan nilai limfosit, penurunan albumin serum < 3.5 gr/dl, dan peningkatan/ penurunan kadar kolesterol (Mubarak, 2008).

Prosedur Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi

  1. Pemasangan NGT pada Dewasa
    1. Pengertian

NGT  adalah kependekan dari Nasogastric tube. alat ini adalah alat yang digunakan untuk memasukkan nutsrisi cair dengan selang plasitic yang dipasang melalui hidung sampai lambung. Ukuran NGT diantaranya di bagi menjadi 3 kategori yaitu:

  • 1) Dewasa ukurannya 16-18 Fr
  • 2) Anak-anak ukurannya 12-14 Fr
  • 3) Bayi ukuran 6 Fr
  1. Indikasi pemasangan NGT

Indikasi pasien yang di pasang NGT adalah diantaranya sebagai berikut:

  • 1) Pasien tidak sadar
  • 2) Pasien Karena kesulitan menelan
  • 3) Pasien yang keracunan
  • 4) Pasien yang muntah darah
  • 5) Pasien Pra atau Post operasi esophagus atau mulut
    1. Tujuan Pemasangan NGT

Tujuan pemasangan NGT adalah sebagai berikut:

  • 1) Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami kesulitan menelan
  • 2) Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar
  • 3) Untuk melakukan kumbang lambung pada pasien keracunan
  • 4) Untuk mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau pendarahan pada lambung
    1. Kontraindikasi pemasangan NGT
  • 1) Pada pasien yang memliki tumor di rongga hidung atau esophagus.
  • 2) Pasien yang mengalami cidera serebrospinal.
    1. Peralatan yang dipersiapkan diantaranya adalah;

Selang NGT ukuran dewasa, anak –anak dan juga bayi. Melihat kondisi pasiennya

  • 1) Handscon bersih
  • 2) Handuk
  • 3) Perlak
  • 4) Bengkok
  • 5) Jelli atau lubricant
  • 6) Spuit 10 cc
  • 7) Stetoskop
  • 8) Tongue spatel
  • 9) Plaster
  • 10) Pen light
  • 11) Gunting
    1. Prosedur Kerja:
      • Siapkan peralatan di butuhkan seperti yang telah disebutkan diatas termasuk plester 3 untuk tanda, fiksasi di hidung dan leherdan juga ukuran selang NGT.
      • Setelah peralatan siap minta izin pada pasien untuk memasang NGT dan jelaskan pada pasien atau keluarganya tujuan pemasangan NGT.
      • Setelah minta izin bawa peralatan di sebelah kanan pasien. Secara etika perawat saat memasang NGT berda di sebelah kanan pasien.
      • Pakai handscoon kemudian posisikan pasien dengan kepala hiper ekstensi.
      • Pasang handuk didada pasien untuk menjaga kebersihan kalau pasien muntah.
      • Letakkan bengkok di dekat pasien.
      • Ukur selang NGT mulai dari hidung ke telinga bagian bawah, kemudian dari telinga tadi ke prosesus xipoidius setelah selesai tandai selang dengan plaster untuk batas selang yang akan dimasukkan.
      • Masukkan selang dengan pelan2, jika sudah sampai epiglottis suruh pasien untuk menelan dan posisikan kepala pasien fleksi, setelah sampai batas plester cek apakah selang sudah benar2 masuk dengan pen light jika ternyata masih di mulut tarik kembali selang dan pasang lagi.
      • Jika sudah masuk cek lagi apakah selang benar-benar masuk lambung atau trakea dengan memasukkan angin sekitar 5-10 cc dengan spuit. Kemudian dengarkan dengan stetoskop, bila ada suara angin berarti sudah benar masuk lambung. Kemuadian aspirasi kembali udara yang di masukkan tadi.
      • Jika sudah sampai lambung akan ada cairan lambung yang teraspirasi
  • Kemudian fiksasi dengan plester pada hidung, setelah fiksasi lagi di leher. Jangan lupa mengklem ujung selang supaya udara tidak masuk
  • Setelah selesai rapikan peralatan dan permisi pada pasien atau keluarga.
  1. Pemberian nutrisi melalui oral

Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri.

  1. Persiapan Alat dan Bahan :
  • Piring
  • Sendok
  • Garpu
  • Gelas
  • Serbet
  • Mangkok cuci tangan
  • Pengalas
  • Jenis diet
    1. Prosedur Kerja
  • Cuci tangan
  • Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
  • Atur posisi depan
  • Pasang pengalas
  • Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum berdoa
  • Bantu untuk melakukan makan dengan menyuapkan makanan sedikit demi sedikit dan berikan minum sesudah makan.

 

  • Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk sebentar.
  • Catat hasil atau respons pemenuhan terhadap makan
  • Cuci tangan

Penatalaksanaan

  1. Medis
    1. Nutrisi enteral

Metode pemberian makanan alternative untuk memastikan kecukupan nutrisi meliputi metode enteral (melalui system pencernaan). Nutrisi enteral juga disebut sebagai nutrisi enteral total (TEN) diberikan apabila klien tidak mampu menelan makanan atau mengalami gangguan pada saluran pencernaan atas dan transport makanan ke usus halus terganggu. Pemberian makanan lewat enteral diberikan melalui slang nasogastrik dan slang pemberian makan berukuran kecil atau melalui slang gastrostomi atau yeyunostomi.

  1. Nutrisi parenteral

Nutrisi parenteral (PN), juga disebut sebagai nutrisi parenteral total (TPN) atau hiperalimentasi intravena (IVH), diberikan jika saluran gastrointestinal tidak berfungsi karena terdapat gangguan dalam kontinuitas fungsinya atau karena kemampuan penyerapannya terganggu. Nutrisi parenteral diberikan secara intravena seperti melalui kateter vena sentral ke vena kava superior. Makanan parenteral adalah larutan dekstrosa, air, lemak, protein, elektrolit, vitamin, dan unsure renik, semuanya ini memberikan semua kalori yang dibutuhkan. Karena larutan TPN bersifat hipertonik larutan hanya dimasukkan ke vena sentral yang beraliran tinggi, tempat larutan dilarutkan oleh darah klien (Kozier, 2011).

  1. Keperawatan
    1. Menstimulasi nafsu makan
  • Berikan makanan yang sudah dikenal yang memang disukai klien yang disesuaikan dengan kondisi klien
  • Pilih porsi sedikit sehingga tidak menurunkan nafsu makan klien yang anoreksik
  • Hindari terapi yang tidak menyenangkan atau tidak nyaman sesaat sebelum atau setelah makan
  • Berikan lingkungan rapi dan bersih yang bebas dari penglihatan dan bau yang tidak enak. Balutan kotor, pispot yang telah dipakai, set irigasi yang tidak tertutup atau bahkan piring yang sudah dipakai dapat memberikan pengaruh negative pada nafsu makan
  • Redakan gejala penyakit yang menekan nafsu makan sebelum waktu makan; istirahat bila mengalami keletihan
  • Kurangi stress psikologi
  • Berikan oral hygiene sebelum makan
    1. Membantu klien makan
    2. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet sesuai dengan kondisi (Kozier, 2011)

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

  1. Pengkajian
    1. Identitas

Kaji identitas pasien dengan meliputi nama, alamat, umur, jenis kelamin, suku bangsa, agama, bahasa yang dimengerti, tanggal MRS, No.Registrasi.

  1. Keluhan utama

Tidak nafsu makan, mual, muntah.

  1. Riwayat penyakit
  2. Status gizi pasien
  3. Pemeriksaan fisik

1)  Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi

2)  TTV

3)  Perilaku

4)  Ekspresi wajah

  1. Data Fokus
  • Data Subjektif
  1. Kebiasaan dan pola makan
  2. Faktor-factor terjadinya gangguan masalah nurisi (Obesitas, anoreksia, dispagia, nausea)
  3. Kondisi kesehatan seperti penyakit kronis : DM, kanker, ginjal, paru-paru,jantung
  4. Kaji nafsu makan
  5. Tanyakan factor yang mempengaruhi nutrisi: kebudayaan, kepercayaan, ekonomi, pengguanaan obat – obatan.
  • Data Objektif
  1. Pemeriksaan fisik (head to toe)
  2. Pengukuran antopometri meliputi : TB, BB
  3. Kondisi mulut
  4. Kemampuan menelan
  5. Pemeriksaan Lab : Hb, Ht, albumin turun
  6. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
  7. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan tidak adekuat (nafsu makan berkurang)
  8. Gangguan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan (pola makan yang berlebihan)
  9. Defisit volume cairan berhubungan dengan diare.
  10. Rencana Tindakan dan Rasionalisasi
No. Dx Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama….x 24 jam, diharapkankebutuhan nutrisi adekuat dengan criteria hasil:

a.     Nafsu makan meningkat.

b.     BB meningkat secara bertahap.

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah diberikan asuhan keperawatan…. x 24 jam diharapkan pasien tidak kelebihan nutrisi dengan kriteria hasil:

a.       Pasien mampu mempertahankan BB ideal (18,5 – 25,0)

 

b.      Pasien mampu mengontrol asupan makanan.

1.      Kaji kebutuhan nutrisi pasien.

2.      Sajikan makanan yang mudah dicerna dalam keadaan hangat, tertutup dan diberikan sedikit – sedikit tapi sering.

3.      Beri KIE tentang pentingnya nutrisi proses penymbuhan.

4.      Ukur intake makanan dan timbang berat badan.

5.      Kolaborasi dengan ahli gizi tentang diet.

 

 

1.      Beri KIE tentang diet sehat dan akibat yang mungkin timbul pada orang yang mengalami kelebihan nutrisi.

2.      Ukur intake makanan dalam 24 jam.

3.      Beri motivasi untuk menurutkan berat badan.

4.      Buat program latihan untuk olahraga

5.      Kolaborasi dengan ahli gizi.

1.    Mengetahui keadaan pasien.

2.    Meningkatkan selera makan dan intake makan.

3.    Meningkatkan pengetahuan agar dx lebih kooperatif.

4.    Mengevaluasi efektifitas dari asupan makanan.

5.    Memberi informasi tentang diet yang tepat dan sesuai dengan pasien.

 

 

1.      Memberikan informasi dan mengurangi komplikasi.

2.      Mengetahui kalori yang masuk

3.      Membanu memecahkan masalah.

4.      Maksimalkan fungsi energy

5.      Memberi informasi tentang diet yang tepat untuk pasien.

 

  1. Implementasi

Implementasi sesuai dengan intervensi yang di atas.

  1. Evaluasi
    1. Diagnosa I :
  • BB pasien meningkat
  • Nafsu makan pasien meningkat
    1. Diagnosa II :
  • Pasien mampu memperahankan BB ideal
  • Pasien mampu mengontrol asupan makanan

 

 DAFTAR PUSTAKA

Alimul. Aziz,  H. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Munusia:Aplikasi Konsep dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Kozier, B. (2011). Fundamental Keperawatan. Jakarta: Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Mubarak, Iqbal. (2008). Buku Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Rock CL. (2004). Nutrition in the Prevention and Treatment of Disease. In: Cecil Textbook of Medicine 22nd. 

Soenarjo, (2000). oenarjo. 2000. Pengertian Nutrisi Menurut Beberapa Ahli Dan Jenis-Jenis Nutrisi. Di akses dari http:/www.diwarta.com pada tanggal 16 Maret 2016.

Supariasa (2001). Penilaian Status Gizi. Buku. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Wartonah, Tarwoto. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd