LAPORAN PENDAHULUAN ABSES RENAL

Posted on : Maret 17, 2017 | post in : Ns |Leave a reply |

LAPORAN KASUS  PADA PASIEN PASEIN Ny. E DENGAN ABSES RENAL

 Pengertian

Abses (latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati) yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka peluru, atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah (Siregar, 2004).

Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim autolitik (Morison, 2003). Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik “mata”, yang kemudian pecah; rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena fibrosis, meninggalkan jaringan parut yang kecil. (Underwood, 2000)

Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang mengisi rongga tersebut.

Abses adalah infeksi bakteri setempat yang ditandai dengan pengumpulan pus (bakteri, jaringan nekrotik dan sel darah putih). Abses adalah kumpulan nanah (netrofil yang telah mati yang terakumulasi disebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi kebagian lain dari tubuh (Smelltzer dan Bare, 2001).

Abses ginjal yaitu peradangan ginjal akibat infeksi. Ditandai dengan pembentukan sejumlah bercak kecil bernanah atau abses yang lebih besar yang disebabkan oleh infeksi yang menjalar ke jaringan ginjal melalui aliran darah. Penyakit Abses ginjal bisa disebabkan oleh bakteri yang berasal dari suatu infeksi yang terbawa ke ginjal melalui aliran darah atau akibat suatu infeksi saluran kemih yang terbawa ke ginjal dan menyebar ke dalam jaringan ginjal.

Abses ginjal adalah abses yang terdapat pada parenkim ginjal. Abses ini dibedakan dalam 2 macam, yaitu abses korteks ginjal dan abses kortiko-meduler. Abses korteks ginjal atau disebut karbunkel ginjal pada umumnya disebabkan oleh penyebaran infeksi kumanStafilokokus aureus yang menjalar secara hematogen dari fokus infeksi di luar sistem saluran kemih (antara lain dari kulit). Abses kortiko-medulare merupakan penjalaran infeksi secara asending oleh bakteri E. Coli, Proteus, atau Klebsiella spp. Abses kortikomedulare ini seringkali merupakan penyulit dari pielonefritis akut (Purnomo, 2011).

Abses perirenal adalah abses yang terdapat di dalam rongga perirenal, yaitu rongga yang terletak di luar ginjal tetapi masih dibatasi oleh kapsula Gerota, sedangkan abses pararenal adalah abses yang terletak di antara kapsula Gerota dan peritoneum posterior. Abses perirenal dapat terjadi karena pecahnya abses renal ke dalam rongga perirenal, sedangkan abses pararenal dapat terjadi karena: (1) pecahnya abses erirenal yang mengalir ke rongga pararenal atau (2) karena penjalaran infeksi dari usus, pankreas, atau dari kavum pleura ke rongga pararenal (Purnomo, 2011).

Etiologi

Suatu infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara, yaitu: (Purnomo, 2011).

  1. Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka yang berasal dari tusukan jarum yang tidak steril
  2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi di bagian tubuh yang lain
  3. Bakteri yang dalam keadaan normal hidup di dalam tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan terbentuknya abses.

Sedangkan peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat adalah sebagai berikut:

  1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi
  2. Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang
  3. Terdapat gangguan sistem kekebalan.

Fatofisiologi

Abses ginjal hasil dari penyebaran hematogen kortikal bakteri dari fokus extrarenal utama infeksi. Staphylococcus aureus adalah agen etiologi dalam 90% kasus abses kortikal. Sebaliknya, abses corticomedullary ginjal berkembang sebagai infeksi menaik oleh organisme yang telah diisolasi dari urin. Keterlibatan parenkim ginjal yang parah dalam kombinasi dengan abses corticomedullary lebih mungkin untuk memperluas pada kapsul ginjal dan berlubang, sehingga membentuk abses perinephric. Ginjal corticomedullary infeksi termasuk proses infeksi bawah akut dan kronis ginjal.

Abses ginjal hasil dari penyebaran hematogen kortikal bakteri dari fokus extrarenal utama infeksi. Staphylococcus aureus adalah agen etiologi dalam 90% kasus abses kortikal. Sebaliknya, abses corticomedullary ginjal berkembang sebagai infeksi menaik oleh organisme yang telah diisolasi dari urin. Keterlibatan parenkim ginjal yang parah dalam kombinasi dengan abses corticomedullary lebih mungkin untuk memperluas pada kapsul ginjal dan berlubang, sehingga membentuk abses perinephric. Ginjal corticomedullary infeksi termasuk proses infeksi bawah akut dan kronis ginjal (Smeltzer & Bare, 2001).

 Menifestasi Klinis

Manifestasi klinis abses renal, sebagai berikut:  (Purnomo, 2011)

  1. Nyeri pinggang
  2. Demam disertai menggigil
  3. Teraba massa sipinggang (pada abses peri atau pararenal)
  4. Keluhan miksi jika fokus infeksinya berasaal dari saluran kemih, anoreksia, malas dan lemah.

Gejala ini sering di diagnosis banding dengan pielonefritis akut. Nyeri dapat dirasakan pula di daerah (1) Pleura karena pleuritis akibat penyebaran infeksi ke subprenik dan Intrathorakal (2) Inguinal (3) abdominal akibat pada peritoneum posterior. Nyeri pada saat hiperekstensi pada sendi panggul adalah tanda dari penjalaran infeksi ke otot psoas.

Pemeriksaan Diagnostic

Pemeriksaan diagnostik abses renal, sebagai berikut: (Purnomo, 2011):

  1. Pemeriksaan Urinalalis menunjukkan adanya oluria dan hematuria
  2. Kultur Urine menunjukkan penyebab infeksi
  3. Pemeriksaan darah menunjukkan terdapat leukositosis dan laju endap darah yang meningkat
  4. Pemeriksaan foto polos abddomen menunjukkan terdapat kekaburan pada daerah pinggang, bayanga psoas menjadi kabur, terdapat bayangan gas pada jaringan lunak, skoliosis, atau bayangan opak dari suatu batu di saluran kemih. Adanya proses pada subdiafragma akan tampak pada foto thoraks sebagai ateletaksis, efusi pleura, empiema, atau elevasi diafrgama.
  5. Pemeriksaan USG menunjukkan adanya cairan abses, tetapi pemeriksaan ini sanagt tergantung pada kemampuan pemeriksa.
  6. Pemeriksaan CT Scan menunjukkan terdapat adanya cairan nanah di dalam intrarenal, perirenal, maupun pararenal

Penatalaksanaan

  1. Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa ditusuk dan dikeluarkan isinya.
  2. Antibiotik bisa diberikan setelah suatu abses mengering dan hal ini dilakukan untuk mencegah kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan infeksi ke bagian tubuh lainnya.
  3. Abses diinsisi, didrainase dan di test kultur
  4. Pemilihan obat antimicrobial yang tepat berdasarkan hasil test kultur

Pengkajian

  1. Identitas Pasien
  2. Nama
  3. Jenis kelamin
  4. Usia
  5. Alamat
  6. Agama, dan lain- lain
  7. Riwayat Kesehatan
  8. Riwayat kesehatan sekarang

Keluhan utama yang sering dikeluhkan bervariasi meliputi keluhan infeksi kulit atau infeksi saluran kemih. Infeksi bias diikuti dalam 11-2 minggu dengan demam dan nyeri pada pinggang atau kostovertebra.

  1. Riwayat kesehatan dahulu

Mengkaji apakah ada riwayat penyakit seperti adanya penyakit bisul atau karbunkel pada daerah tubuh  lainnya, adanya riwayat demam sampai menggigil. Kaji apakah pasien pernah menderita penyakit diabetes mellitus. Penting untuk dikaji mengenai riwayat pemakaian obat-obatan masa lalu dan adanya riwayat alergi terhadap jenis obat kemudian di dokumentasikan.

  1. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum pasien lemah dan terlihat sakit berat dengan tingkat kesadaran biasanya composmentis. Pada TTV sering didapatkan adanya perubahan suhu tubuh meningkat, nadi meningkat, frekuensi meningkat sesuai dengan peningkatan suhu tubuh dan denyut nadi, TD tidak terjadi perubahan secara signifikan kecuali adanya penyakit hipertensi renal

  1. Aktivitas/istirahat
  • Gejala: Kelemahan/malaise
  • Tanda: Kelemahan otot, kehilangan tonus otot
  1. Sirkulasi
  • Tanda: pucat, edema
  1. Eliminasi
  • Gejala: perubahan pola berkemih (oliguri)
  • Tanda: Perubahan warna urine (kuning pekat, merah)
  1. Makanan/cairan
  • Gejala: Penurunan BB , anoreksia, mual, muntah
  • Tanda: Penurunan haluaran urine
  1. Pernafasan
  • Gejala: Nafas pendek
  • Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekwensi, kedalaman (pernafasan kusmaul)
  1. Nyeri/kenyamanan
  • Gejala: Nyeri pinggang, sakit kepala
  • Tanda: Perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah
  1. Pemeriksaan penunjang

Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan:

  • Leukosit  +
  • Eritrosit  +
  • Urinalisis (Urine meningkat)
  • Darah + Dalam urin

Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul

  1. Nyeri b.d pasca drainase abses, respon inflamasi, kontraksi otot efek sekunder, adanyaabses renal.
  2. Hipertermi b.d repon sistemik sekunder, adanya abses renal.
  3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang tidak adekuat, efek sekunder dari anoreksia, mual, muntah.
  4. Gangguan activity daily living b.d kelemahan fisik secara umum
  5. Kecemasan b.d prognosis penyakit, ancaman, kondisisakit, dan perubahan kesehatan.

Intervensi

  1. Nyeri b.d pasca drainase abses, respons inflamasi, kontraksi otot efek sekunder adanya abses renal

Tujuan:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1×24 jam nyeri berkurang / hilang atau teradaptasi.

Kriteria Hasil:

  • Pasien mengatakan nyeri berkurang / terkontrol
  • Skala nyeri 0-4
  • Raut wajah rileks
  • TTV Normal (TD: 120/80 mmHg ; Nadi : 60-100x/menit ; T : 36,5oC-37,5oC ; RR : 16-24x/menit)

 

Intervensi Rasional
Mandiri :

1. Beri posisi yang nyaman pada pasien

 

 

2. Beri lingkungan yang nyaman dan tenang pada pasien

 

 

 

3. Istirahatkan pasien

 

 

 

 

4. Lakukan masase sekitar nyeri

 

 

H. E :

1. Ajarkan tehnik distraksi

 

2. Ajarkan tehnik nafas dalam

 

 

 

Kolaborasi :

 

1.   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgetik sesuai indikasi

 

Observasi:

 

1.  Kaji nyeri menggunakan PQRST

 

2.  Kaji TTV pasien

Mandiri :

1.   Posisi yang nyaman akan mengurangi rasa nyeri pasien sehinggga pasien dapat beristirahat

 

2.   Lingkungan yang tenang akan menurunkan stimulus nyeri ekternal dan menganjurkan pasien untuk beristirahat

 

3.   Istirahat akan menurunkan O2 jaringan perifer sehingga akan meningkatkan suplai darah ke jaringan

 

4.   Meningkatkan kelancaran suplai darah untuk menurunkan iskemik

 

HE :

1.   Distraksi (pengalihan perhatian) dapat mengurangi persepsi nyeri

2.   Meningkatkan asupan O2 sehinggadapt menurunkan nyeri sekunder

 

Kolaborasi :

 

1. Mempercepat penyembuhan, untuk mengurangi nyeri

 

 

Observasi :

 

1.      Mengetahui tingkat kapasitas nyeri pasien

 

2.  Memantau keadaan pasien

 

  1. Hipertermi b.d repons istemik sekunder, adanya abses renal.

Tujuan:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3×24 jam, suhu tubuh pasien menurun/ kembali normal

K.H:

  • Suhu tubuh normal (36,5-37,5oC)
  • Akral hangat
  • Mukosa bibir lembab
  • Turgor kulit tidak tampak kemerahan
Intervensi Rasional
Mandiri:

1.   Beri kompres air hangat

 

2.  Pertahan kantirah baring total

 

 

 

 

 

H. E :

1.     Anjurkan pasien untuk banyak minum

2.     Anjurkan pasien memakain pakaian yang tipis

 

 

Kolaborasi :

1.      Kolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian antipiretik dan antibiotic

 

Observasi :

1.     Monitor suhu tubuh

2.     Observasi keadaan umum tubuh pasien

Mandiri :

1. Memvasodilatasi pembuluh darah

2. Mengurangi peningkatan metabolisme umum yang memberikan dampak terhadap peningkatan suhu tubuh secara sistemik

 

HE :

1.      Untuk pemenuhan hidrasi cairan dalam tubuh

2.     Untuk mempercepat evaporasi sehingga terjadi proses penguapan

 

Kolaborasi :

1.       Untuk mempercepat penyembuhan, menurunkan suhu tubuh

 

Observasi :

1.      Mengetahui /mengontrol adanya peningkatan suhu tubuh untuk di berikan intervensi selanjutnya

2.      Memantau keadaan pasien

 

  1. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang tidak adekuat, efek sekunder dari anoreksia, mual, muntah.

Tujuan:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3×24 jam, kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi

K.H:

  • Porsi makan habis
  • BB meningkat
  • Mukosa bibir lembab
  • Hb dan Albumin Normal
Intervensi Rasional
Mandiri :

1.    Berikan makanan lunak

2.    Berikan makanan setengah padat dengan sedikit air

 

 

HE :

1.     Anjurkan pasien makan sedikit tapi sering

2.    Anjurkan pasien untuk menelan secara berurutan

 

Kolaborasi :

1.    Kolaborasi pemberian obat antasida

 

Observasi :

1.    Kaji suara bising usus, catat terjadi perubahan di dalam lambung seperti mual, muntah. Observasi perubahan pergerakan usus, misalnya : diare, konstipasi

Mandiri :

1. Memudahkan masuknya makanan

2. Meningkatkan kemampuan pasien dalam menelan

 

HE :

1.      Membantupemenuhan nutrisi peroral pasien

2.      Mencegah kelelahan pasien saat makan

 

Kolaborasi :

1.      Mengurangi mual / ggn lambung pasien

 

Observasi :

1.      Mengetahui Fungsi system gastrointestinal penting untuk pemasukan makanan

 

  1. Gangguan activity daily livingd kelemahan fisik secara umum

Tujuan:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3×24 jam, terjadi peningkatan perilaku dalam perawatan diri

K.H :

  • Pasien menampakkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri
  • Pasien mampu dalam melakukan aktivitas
  • Koordinasi otot , tulang, rangka baik
Intervensi Rasional
Mandiri :

1.    Beri lingkungan yang tenang

 

 

2.    Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi pasien

 

3.    Berikan latihan ROM

 

 

HE :

1. Ajarkan pasien untuk mobilisasi

 

 

Kolaborasi :

1.   Rencanakan tindakan dengan tim medis lain untuk dalam memberikan tindakan fisioterapi yang tepat

 

Observasi :

1. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas

Mandiri:

1.      Lingkungan yang tenang membantu pasien untuk beristirahat

2.    Melatih perkembangan pasien

 

 

3.    Membantu melatih otot, tulang dan rangka

 

HE :

1.      Untuk melancarkan peredarah darah sehingga keaadan pasien tidak kaku

 

Kolaborasi :

1.  Mempercepat adanya peningkatan aktivitas pasien

 

 

Observasi :

1.   Untuk mengetahui tingkat kemampuan aktivitas pasien

 

  1. Kecemasan b.d prognosis penyakit, ancaman, kondisi sakit, dan perubahan kesehatan.

Tujuan:

Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1×24 jam, kecemasan pasien berkurang

K.H:

  • Pasien menyatakan kecemasan berkurang
  • Mengenal perasannya
  • Kooperatif dalam tindakan
  • Wajah tampak rileks
Intervensi Rasional
Mandiri :

1.  Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat

2.  Beri kesempatan kepada pasien untuk mnegungkapkan perasaannya

3. Beri privasi untuk pasien dan orang terdekat

 

HE:

1.  Jelaskan tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan selama perawatan

 

Kolaborasi :

1.   Kolaborasi dengantim medis lain dalam pemberian obat anti cemas sesuai indikasi

 

Observasi :

1.   Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan, pasien dan lakukan tindakan bila menunnjukkan perilaku merusak

Mandiri :

1.  Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu

2.   Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekawatiran yang tidak diekspresikan

3.  Memberikan waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan kecemasan dan perilaku adaptasi

 

HE :

1.   Menurunkan kecemasan pada setiap tindakan yang akan dilakukan

 

 

Kolaborasi :

1.  Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan

 

Observasi :

1.  Relaksasi verbal atau non verbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah, gelisah

 

DAFTAR PUSTAKA

Morison, M.J. (2003). Manajemen Luka. EGC. Jakarta

Purnomo, P, Basuki. (2011). Dasar-Dasar Urologi. Perpustakaan Nasional RI. Katalog Dalam Terbitan (KTO). Jakarta.

Siregar, Charles. JP. (2004). Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Cetakan I. Penerbit EGC. Jakarta.

Smeltzer, SC dan Bare, BG.  (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC. Jakarta.

Underwood, J.C.E. (2000). Patologi Umum dan Sistemik. Vol. 2. EGC. Jakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Theme Designed Bymarksitbd